
Tiga hari setelah kembalinya Intan dan Nanang dari Dunia Lain.
_______________
Hari ini adalah hari kencan antara Intan dan Nanang. Tapi sayang sekali, kemarin Nanang mendapat perintah mendadak dari kakeknya, sehingga ia harus membatalkan janji kencannya dengan Intan.
Nanang merasa menyesal, bagaimanapun ia selalu ingin terus menempel bersama Intan, sementara itu Intan tak ambil pusing, karena ia masih bisa pergi keluar sendiri meskipun tak di temani Nanang.
Intan berjalan-jalan sendirian dengan kakinya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan layaknya anak kecil yang baru keluar dari rumah melihat dunia.
Melihat ikan di kolam di pinggir jalan, melihat anak kecil kejar-kejaran di taman, dan melihat tukang batagor membuat batagor untuk pelanggannya.
Suasana hati Intan sedang baik dan baik.
Setelah 4 tahun kuliah keluar negeri di Negara Tehjavan, ia sangat merindukan keluarga dan lingkungan asli dimana ia tinggal.
Intan terus berjalan dan melihat celingak-celinguk ke kiri dan kanan seperti anak kecil, saat sedikit lelah, ia duduk di bangku panjang yang ada di taman dan bernyanyi dengan percaya diri meski liriknya salah dan asal sebut.
[Di Dadaku Ada Kamu, Vina Panduwinata]
"Di dadaku
Ada kumisku
Ada ikannya
Ada baksonya
__ADS_1
Di dalam dadaku
Ada kamu.
Di dadaku
Ada Jantungku
Ada jantungmu
Ada ayamnya
Ada Teh Sisri
Di dalam dadaku
Ada hantu."
Intan dan Nanang sebelumnya memiliki konflik dengan Daniel di Kasino. Kedua belah pihak bahkan saling menodongkan pistol.
Entah bagaimana konflik berakhir dengan damai, bahkan Daniel membayarkan uang yang kalah saat bertaruh pada Nanang.
Hal yang tidak diketahui Intan sebenarnya, selain tidak mau berurusan dengan keluarga Rubyan yang kuat dan berkuasa, Daniel juga sedikit jatuh hati pada Intan.
Daniel terus memandang Intan, ia melihat Intan melihat celingak-celinguk seperti anak kecil yang penasaran seolah belum melihat dunia.
Di mata Daniel, Intan terlihat polos dan polos.
__ADS_1
Daniel terus memperhatikan Intan, menyaksikannya duduk dan menyanyi sambil menggoyangkan kedua kakinya seperti anak kecil. Daniel pikir Intan terlihat menarik selain memang wajahnya yang cantik alami.
Daniel membuka pintu mobil dan menghampiri Intan.
Saat Daniel datang, Intan telah berdiri hendak melanjutkan petualangannya dengan berjalan kaki.
Daniel menghampiri Intan dari belakang, memanjangkan kepalanya ke sisi telinga Intan dan menyapanya.
"Alola .."
Intan kaget, ia langsung mengenali pemilik suara ini. Intan memilih tidak merespon dan mengabaikannya. dalam hati ia berpikir, 'ia tidak mungkin mengenaliku kan? lagipula dia melihatku dari samping sementara bagian samping wajahku tertutup rambutku, jadi dia belum mengenaliku! abaikan saja.'
"Alola, apa kamu sendirian? Kalau ia.. mari minum teh bersamaku, ini akan menjadi traktiranku." Daniel kembali menyapa Intan, mencoba membuat obrolan pembuka.
Intan kembali diam tak merespon.
"Aku bertanya dan berbaik hati mengajakmu berteduh di Tea House. Apa kamu akan berpura-pura tidak mengenalku Nona Muda Intan?"
"Maaf, kamu salah orang. Jangan ganggu aku. Aku tidak tertarik pada pria asing yang tiba-tiba sok kenal." Jawab Intan.
Daniel menarik kiri lengan Intan membuatnya dan berusaha melihat wajah Intan.
Intan memiringkan kepalanya ke kanan, mencoba menghalangi Daniel melihat wajahnya.
"Apakah kamu akan pergi bersamaku atau tidak Nona Muda Intan?"
Intan menarik tangannya dan melepaskan tangan Daniel yang memegang lengannya.
__ADS_1
Ia mundur dan melihat wajah Daniel, ekspresi Intan menjadi jelek, 'Kenapa pria bajingan ini ada di sini? Lalu untuk apa ia menyapaku? Bukankah kami seharusnya bermusuhan??'
*Alola: Hai/halo/salam sapaan yang di gunakan penduduk di Negara Api.