
Semua orang yang kalap akan uang berharap Jang Tua akan segera meninggalkan tempat duduknya sehingga mereka bisa menggantikannya berjudi dengan Nanang. Siapa tahu, mungkin 4 miliar akan menjadi kekayaan mereka juga.
Pak Tua Jang dengan bersemangat bertanya pada Nanang.
"Tuan Muda, apakah kamu masih ingin lanjut permainan ?" Tanya Pak Jang pada Nanang.
Ketika Intan mendengar apa yang di katakan Pak Jang, dia tahu bahwa orang itu telah sudah kecanduan judi layaknya gamer yang tak tahu waktu bermain dan benar-benar jatuh ke dalam perangkap Nanang. Dan Pak Tua Jang belum menyadarinya.
Pak Tua Jang awalnya mencurigai dari mana uang Nanang berasal, dan Sekarang pada sesi perjudian ini justru dia yang ingin melanjutkan pertaruhan dengan nafsu. Dia berfikir untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin dari Nanang.
Tapi belum ada yang menyadari sebenarnya bahwa Pak Tua Jang adalah orang yang berada dalam perangkap Nanang.
'Namun, ini juga tidak jadi masalah dan baik-baik saja. Mungkin Pak Tua Jang sepenuhnya akan dapat berhenti dari kecanduan berjudi setelah putaran ini?'
"Ayo lanjutkan? Ini hanya sejumlah kecil kekalahan.."
__ADS_1
Nanang mengeluarkan 4 cek senilai 4 miliar belly. Sikapnya layaknya individu kaya yang tidak takut kehilangan uangnya, sikapnya layaknya seperti orang yang makmur dan makmur. Sikapnya sangat mengesankan.
"Aku akan bertaruh 4 miliar belly pada putaran ini. Apa kamu berani Paman Jang ?" Tanya Nanang.
"4 miliar ..." Pak Jang berseru tanpa sadar.
Mata Pak Jang terpaku pada uang 4 miliar di meja di depan. Dia tampak semangat seperti saat almarhum istrinya melahirkan seorang anak untuknya.
Mata para warga yang menonton juga terpaku pada cek 4 miliar di meja, sebagian dari mereka nampak sangat bersemangat dan sebagian lainnya melihat dengan nafsu seolah mata mereka hampir keluar.
Nanang sangat murah hati dengan uangnya. Berapa banyak uang yang dia berikan pada dokter untuk biaya konsultasi jika ia begitu murah hati?
Nanang tersenyum tipis, dan berkata:
"Aturannya sama, jika mendapat angka dadu terbesar, anda menang, dan anda dapat mengambil uangnya. Jika anda kalah maka 4 miliar uang anda harus di kembalikan padaku."
__ADS_1
Mata Pak Tua Jang bersinar mendengar kata 4 miliar, membayangkan ia akan memenangkan 4 miliar lain dari Nanang jika ia menang. Namun, ia tiba-tiba menjadi sedikit ragu. Bila ia kalah maka ia akan kehilangan seluruh uang yang telah ia dapat!
Gadis Mei yang berdiri di belakangnya berbisik pada telinga ayahnya dengan khawatir.
"Ayah, Kali ini jangan berjudi lagi. Akhiri saja sampai di sini. Ayah sudah punya 4 miliar, Ayah bisa menggunakannya untuk membeli banyak tanah pertanian dan menjadi Tuan Tanah yang kaya dan semakin kaya kedepannya. Ayah sudah menang banyak dan tidak akan rugi mengakhirinya sampai di sini."
Anaknya yang lain, Jajang, juga memberikan masukan pada ayahnya.
"Ayah, jangan di teruskan lagi. Uang yang ayah dapatkan sudah cukup untuk hidup kami sampai seumur hidup. jika di lanjutkan dan ayah kalah, itu juga akan menjadi kerugian kami."
Mata Pak Tua Jang tertuju pada cek tunai di atas meja. Ia tidak mendengarkan dengan ****.a.m.a. kata anak-anaknya. Meskipun ia sempat ragu sesaat, ia tidak bisa melepaskan uang yang ada di hadapannya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk kembali berjudi. ia berfikir 'Nanang adalah domba kecil yang gemuk dan gemuk, tidak menyembelih dan mendapatkan uang dari Nanang adalah kebodohan'.
Pak Tua Jang memandang putra dan putrinya lalu berkata.
"Itu adalah 4 miliar di meja. Apakah kamu tidak ingin 4 miliar ?"
__ADS_1
Reaksi Gadis Mei hanya datar, tapi berbeda dengan reaksi kakaknya Jajang yang tampak menjadi agak tertarik. Ini normal, setelah semua dia belum pernah melihat uang sebanyak itu.