CINCIN TANG

CINCIN TANG
36. Kamu Bisa Memotong Salah Satu Tanganmu


__ADS_3

"Paman Jang, haruskah aku yang membukanya?"


"Tidak, aku-aku ingin-aku ingin membukanya sen-sendiri...!"


Pak Jang melirik pemuda yang tenang di seberangnya. Tak lama kemudian, dia menutup matanya sambil berdo'a dalam hati agar hasilnya seri. Ia membuka cangkir dadu dengan perlahan dan gemetaran.


Pak Jang bahkan tidak berani melihat hasilnya.


Hati penonton was-was dengan antisipasi akan hasilnya. Lalu saat Pak Jang perlahan membuka cangkir dadu dengan sangat perlahan, mereka ingin rasanya menghajar Pak Jang layaknya ingin menghajar seorang bajingan.


Hati kami sudah berdebar, beraninya ia membukanya dengan sangat perlahan!


Akhirnya cangkir sepenuhnya terbuka, dan mereka melihat hasilnya.


Mereka semua menahan nafas ...!!


Hati setiap penonton tenggelam setelah melihat hasilnya.


Hasilnya adalah kekalahan untuk Pak Tua Jang.


"Satu, satu, dan satu, totalnya 3 angka..."


"Keberuntungan dari sebelumnya sudah hilang sepenuhnya..."


"Hanya ada 3 angka ..."


"Ini angka terendah dalam permainan 3 dadu.."


"Tuan Muda Nanang mendapat angka penuh dengan 18 angka, sedangkan Pak Tua Jang mendapat angka terendah dengan 3 angka."

__ADS_1


"Roda berputar."


"Sepertinya do'a keluarga Jang tidak di kabulkan oleh Dewa Naga Shenlong."


"Mungkin Dewa Naga Shenlong muak dengan Jang Tua karena ia senang berjudi."


"Aku rasa bukan itu masalahnya, Dewa Shenlong adalah Dewa Kekayaan dan keberuntungan, bukan Dewa-nya para penjudi."


"Apakah Keluarga Jang benar-benar akan terusir dari rumah mereka?"


"Bukankah itu sudah pasti?!"


Kerumunan terus berdiskusi. Mereka menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya pada nasib keluarga Jang.


Pak Tua Jang merasa merinding saat melihat angka angka yang ia dapat. Ada benjolan di tenggorokannya, dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat.


Sementara itu anak-anaknya dan menantunya terdiam dengan wajah yang seolah berkata, 'ini tidak mungkin.. kami kalah..'


Pak Jang: "...."


Pak Dedes selaku kepala Desa kabut akhirnya membuka mulutnya.


"Pak Jang, kali ini kamu benar-benar kalah."


"Aku kalah..." Pak Jang menggumamkan 2 kata ini ini sambil menatap ke tiga dadu di meja seolah-olah tidak mau mempercayai kebenaran..


Jajang anaknya berteriak keras, "Ayah!!"


Nanang berkata dengan konotasi yang jelas namun santai, "Saya menang, jadi akta tanah dan surat hak milik serta cek uang miliaran belly semuanya sekarang milik saya."

__ADS_1


Nanang segera mengambil kumpulan cek bernilai lebih dari 100 miliar belly di meja. Ia juga mengambil akta tanah dan surat hak milik yang lalu ia masukan ke dalam tas yang ia bawa.


Melihat Nanang memasukkan akta tanah dan SHM ke dalam tasnya, ingin rasanya Pak Jang merebutnya tapi bagaimana dia bisa melakukannya di hadapan banyak orang?


Belum lagi Nanang memiliki sosok tubuh yang kekar.


Hati Pak Tua Jang serasa sakit.. Perih rasanya kehilangan harta bendanya.. Matanya memerah seolah ingin menangis. Ia marah dan kesal, lalu berkata dengan terbata-bata.


"Ka--ka--kamu..."


Nanang menata Park Tua Jang, lalu berkata.


"Apakah kamu ingin merampas tasku dan akan membuat keributan dan membuat ulah?"


Pak Tua Jang terdiam sesaat sebelum bergumam pada dirinya sendiri.


"Saya tidak bisa hidup tanpa tanah pertanian, saya tidak bisa..."


Sentuhan kekejaman akhirnya terlihat di mata Nanang. Dia berkata dengan santai namun ekspresi matanya terlihat gelap.


"Aku bisa mengembalikan akta tanah dan surat hak milik, tapi dengan satu syarat kamu bisa memotong salah satu tanganmu atau kau bisa memotong 5 jarimu yang berada di salah satu tanganmu!"


Mendengar apa yang di katakan Nanang, Intan langsung mengangkat alisnya. ia mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan brother Nanangnya.


Sementara itu penonton yang hadir hanya bisa menghirup nafas dalam dan menghela nafas dalam hati.


Sungguh Kejam!!


*1 Belly \= 1 Rupiah

__ADS_1


*SHM \= Surat Hak Milik


__ADS_2