CINCIN TANG

CINCIN TANG
24. Dadu Part 4


__ADS_3

Menyadari bahwa ATM berjalannya akan direnggut oleh orang lain, Pak Tua Jang bertepuk tangan dua kali untuk mendapatkan kembali perhatian Nanang.


"Tuan Muda, kamu jangan berani membuat janji dengan orang lain! kami masih belum selesai dengan sesi perjudian kami."


Nanang menoleh dan menatap Pak Tua Jang. Berkata dengan nada yang berpura-pura marah dan tanpa daya.


"Kalau begitu aku akan bertaruh 2 miliar belly di babak ini !"


"Zehaha haha! itu bagus!"


Baik Pak Tua Jang dan Nanang masing-masing mengeluarkan cek senilai 2 miliar dan menaruhnya di meja di samping judi.


"Aku akan memulai terlebih dahulu." Kata Nanang.


"Baik." Kata Pak Jang.


Melihat ayahnya akan berjudi lagi, Gadis Mei ingin mengatakan sesuatu lagi tetapi sebelum ia bisa berkata, Pak Tua Jang memukuli keningnya.


"Mei, berhentilah membuat keributan. Ayah memiliki keberuntungan besar hari ini. Seolah-olah Dewa Keberuntungan membantuku! Aku tidak akan kalah dan kalah!"


Gadis Mei hanya bisa pasrah, Tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya menatap cangkir dadu dengan gugup dan berharap ayahnya akan kembali menang.

__ADS_1


Dia mulai merasa seolah-olah dia bahkan lebih buruk daripada ayahnya.


Jika ayahnya menang, keluarga mereka akan benar-benar kaya namun jika mereka kalah ...


Tidak, ayahnya tidak boleh kalah ...!


Gadis Mei berdiri di belakang ayahnya, tangan terlipat kedepan bersama saat ia berdoa dengan penuh memohon pada Dewa.


'Oh Dewa, tolong berikan kemenangan pada ayahku, hamba berjanji akan bangun pagi setiap harinya jika ayahku menang. Kabulkanlah Dewa Keberuntungan, aamiin.'


Nanang mulai mengocok dadu dan membuka dadu kali ini. Dia tetap tenang dengan ekspresi datar yang tidak dapat dibaca. Dia tampak tidak peduli dan meskipun telah kalah di dua ronde sebelumnya.


Cangkir dadu dibuka dan tiga dadu memperlihatkan jumlah titiknya. dadu pertama 3 titik, dadu kedua 1 titik, dadu ketiga 2 titik, total 6 angka. Ia kembali mendapatkan angka rendah.


"Zehahaha haha! Luar biasa! enam Angka! ini Benar-benar luar biasa! Tuan Muda, kamu sedikit kurang beruntung hari ini, kamu terus mendapat angka kecil."


Nanang menghela nafas panjang, seolah-olah dia kecewa, tapi sebenarnya ia berpura-pura.


"Tidak ada yang bisa saya perbuat tentang hasilnya. Aku hanya kurang beruntung dan beruntung."


Pak Tua Jang segera mengocok dan membuka cangkir dadunya, dia sangat yakin akan kembali menang.

__ADS_1


"Dua, Dua, Enam, Aku mendapat 10 angka! Aku Menang !!" Pak Tua Jang berseru keras.


Ekspresi tidak percaya terlihat di wajah Pak Jang seolah-olah dia tidak ingin menang tetapi tidak bisa menahan diri dan kembali berseru, "Aku menang lagi !"


"....." Nanang tersenyum tipis tetapi tidak mengatakan apa-apa.


"Ehm, Mantan istriku tidak membiarkanku selingkuh, tapi kau membiarkan aku menang !"


Pak Tua Jang kembali tertawa terbahak-bahak dan mengambil 4 lembar cek senilai 4 miliar Belly dari meja, lalu memasukkannya ke sakunya.


Putranya Jajang, dan putrinya Mei, juga menantunya merasa bergembira dengan kemenangan ayah mereka. Gadis senang karena ia di pastikan tidak akan di jual, sementara kalanya Jajang dan kakak iparnya senang karena mereka memiliki uang banyak, mereka mulai berfikir untuk membeli rumah besar dan pakaian mewah.


Kepala Desa Pak Dedes, Pak Nafsun, dan warga lainnya melihat Pak Jang memasukkan 4 cek ke dalam sakunya dan tiba-tiba menjadi iri dan benci.


Mereka mulai berdiskusi di antara mereka sendiri.


"Keberuntungannya hanya mengerikan dan mengerikan. Dia mendapat angka 6 dari tiga dadu, angka dadu sebelumnya pun selalu kecil."


"Dia rugi 4 miliar belly dalam beberapa menit."


"Keluarga Jang Tua telah menjadi yang terkaya di Desa Kabut."

__ADS_1


"4 miliar belly... ya, Dewa... berikan padaku juga..."


Semua orang yang kalap akan uang berharap Jang Tua akan segera meninggalkan tempat duduknya sehingga mereka bisa menggantikannya berjudi dengan Nanang. Siapa tahu, mungkin 4 miliar akan menjadi kekayaan mereka juga.


__ADS_2