
Inti dari surat kontrak perjanjian yang baru saja di tulis garis besarnya adalah 'pihak yang kalah harus menerima dengan ikhlas dan tidak bisa menuntut kembali harta yg telah di pertaruhkan.'
Nanang menyerahkan kontrak perjanjian kepada Pak Jang dan keluarganya, lalu bertanya.
"Pak Jang, apakah kamu setuju dengan isi surat perjanjian ini?"
"Aku tidak ada masalah."
Nanang lalu memandang keluarga Pak Jang dan bertanya pada putra-putrinya Pak Jang.
"Ini adalah kesempatan terakhir kalian sebagai anak-anaknya Pak Jang. Apakah kalian semua setuju ayahmu mempertaruhkan kekayaan keluarga kalian?"
Jajang dan istrinya sama-sama tidak mengatakan apa-apa, hanya menelan saliva tanpa sadar saat mereka melirik jumlah taruhan ratusan miliar yang di taruh di meja.
Mereka tergoda oleh uang.
Sementara itu Gadis Mei yang ingin mengeluarkan suara, tapi sebelum ia berbicara ia di tatap dengan amarah oleh ayahnya. Ini jelas ayahnya menyuruhnya untuk menyetujuinya.
Meskipun Gadis Mei tidak menyetujui akan apa yang dipertaruhkan, menghadapi tatapan marah ayahnya ia akhirnya tidak mengeluarkan suara. Kepalanya menunduk dan ia terus menggigit kuku ibu jari kanannya karena gugup dan gelisah.
Orang-orang yang menonton menganggap keheningan anak-anak Pak Jang adalah persetujuan mereka.
Pak Jang memandang Nanang dengan tatapan jijik, "Nanang kecil, jangan katakan padaku bahwa Tuan Muda tidak lagi ingin berjudi denganku sekarang? Semuanya akan segera berakhir dan kamu takut kamu akan kalah kan?"
Pak Jang memanggilnya "Nanang kecil" dengan antusias dalam nada seorang penatua yang menegur seorang junior.
Nanang masih memiliki senyum acuh tak acuh di wajahnya saat ia menunjuk ke kertas kontrak perjanjian.
__ADS_1
"Tentu saja aku masih ingin berjudi, sudah aku katakan aku kaya dan aku tidak takut akan kalah. Saya sudah menandatangani surat perjanjian ini, sudah saatnya anda dan seluruh keluarga anda untuk menandatanganinya juga."
"Tentu. Kami akan menandatanganinya juga."
Pak Jang menandatangani surat perjanjian lalu menatap anggota keluarganya, lalu menyuruh mereka untuk menandatanganinya juga.
"Jajang, Mei, dan Menantuku, kalian segera tandatangani !" Perintah Pak Jang.
Satu persatu anggota keluarga Pak Jang menandatangani surat perjanjian. Gadis Mei sebenarnya tidak ingin menandatangani namanya di surat perjanjian tersebut, tapi mata merah Pak Jang hanya membuatnya takut sehingga ia pun terpaksa menandatangani nya juga.
Pak Dedes kemudian mengambil surat perjanjian itu dan melihatnya setelah memastikan bahwa semuanya sudah ada. Ia dan juga beberapa tetua lain di desa juga menorehkan sidik jari mereka di sana, mereka menjadi saksinya.
Surat perjanjian ini memiliki nama, tanda tangan, sidik jari dan juga surat bermaterai dan juga saksi-saksinya. Dengan ini, selembar kertas ini telah memiliki kekuatan hukum yang di akui di negara ini Negara Api.
Semua penonton melirik surat kontrak dan merasakan antisipasi di tubuh mereka menjadi lebih berat, dan mendapati sedikit kegembiraan. Mereka dengan semangat berdiskusi satu sama lain.
"Aku juga gugup."
"Apa yang harus gugup?"
"Jelas-jelas mereka yang berjudi tapi kenapa aku merasakan tubuhku menjadi panas seolah-olah aku yang berjudi."
"Pak Jang akan menjadi gembel saat ia kalah di putaran kali ini. Ck, ia pasti akan menyesalinya."
"Belum tentu. Bukankah ia selalu menang?"
"Tuan muda Nanang akan kehilangan 100 miliar di tambah puluhan miliar yang sudah ia kehilangan sebelumnya, ini benar-benar kerugian yang nyata!"
__ADS_1
"Menurutmu jika Jang Tua memenangkan ronde ini, akankah ia menyumbangkan sejumlah uang yang pada desa kita?"
"Tentu saja tidak! Meskipun ia bukan orang pelit ia juga bukan orang yang suka berbagi."
"Jika Jang Tua menang, dia pasti akan membusungkan dadanya dengan sombong! Membayangkannya membuatku muak! Aku harap ia akan kalah kali ini."
"Tuan muda Nanang akan kehilangan 100 miliar lebih jika ia kalah nanti. ini sangat menegangkan!"
"Ya, darahku mendidih! Ini tontonan sekali seumur hidup !"
"Tuan muda Nanang sangat kaya dan dia tidak takut kalah, ini hanya keberuntungan Jang Tua dan keluarganya yang akan mendapatkan kekayaan kali ini. Cara saya melihatnya begitu Jang Tua mengubah kekayaannya ia dan seluruh keluarganya akan tinggal di ibukota."
"Saya pikir Tuan Muda itu memiliki mentalitas yang tangguh! Dia sudah kehilangan lebih dari 100 miliar belly, jika itu aku, maka kakiku akan bergetar dan berubah melemah menjadi jelly dan aku akan membuat diriku mati karena kesal! Ia akan kehilangan lebih dari 100 miliar belly namun dia masih tenang-tenang saja, aku takut dia mungkin sudah gila?"
"Itu memang kasusnya. Dia pasti sudah gila di otaknya dan ia tak terobati."
"Dia bukan hanya gila tapi juga bodoh! kegilaan atau kebodohan kurasa dia belum sembuh dari keduanya."
Nanang sama sekali tidak memperhatikan obrolan para warga yang mendengung seperti lebah.
Di belakangnya, pacarnya Intan menatapnya dengan misterius dan tersenyum diam-diam.
Intan melihat sekelompok penduduk Desa Kabut yang menjengkelkan ini bersukacita dengan bodoh, dan ia hanya menganggapnya lucu dan lucu.
*1 Belly \= 1 Rupiah
*Jang Tua \= Tua di sini artinya Pak/Bapak, dan kata Tua hanya bisa di ucapkan oleh orang yg seumuran, bila ada org yg mengatakan Tua pada org yg lebih tua, maka ia di anggap tidak sopan. Jang Tua berarti artinya Pak Jang.
__ADS_1