
Intan terus mengobrol dengan kakeknya, tapi suara terdengar dari sosok gadis yang tiba-tiba datang dengan berlari.
"Kakek, aku datang ...!"
Gadis itu berlari dan memeluk kakek Tang.
Ini adalah Sarah Permatasari. Sepupu Intan yg juga cucu kakek Tang.
Melihat Sarah yang sudah besar namun masih manja, kakek mendengus tidak senang meskipun dalam hati ia senang. Ia berkata dengan dengan nada menceramahi.
"Berlari begitu cepat, bagaimana kalau kamu menabrak seseorang di rumah?"
Ketika Sarah berlari ia hampir menabrak seorang pelayan, jika pelayan tidak segera menghindar ke samping, maka ia akan tertabrak dan akhirnya jatuh.
Sarah menyentuh kepalanya dengan senyum cengengesan dan mengaku,
"Saya tahu kakek, saya mengaku salah, saya akan memperhatikan waktu berikutnya."
Sambil mengatakan, ia melihat gadis yang duduk di sofa yang sedang memakan tempe goreng seperti marmut kecil.
__ADS_1
"Intan, kamu tidak mengatakan kamu datang hari ini, aku pikir kamu masih di kota Teng .."
Sarah bergegas ke Intan dan memeluknya. Intan hanya membiarkannya sambil menepuk kepala Sarah sepupunya dengan lembut layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya.
"Hehe, aku lupa mengabarimu. Aku membawakanmu oleh-oleh, ada kalung liontin ruby, sapphire, dan emerald, itu akan cocok untuk kaupakai. Kau akan terlihat seperti putri tidur yang berani." Kata Intan.
Intan memilki kesan yang baik pada sepupunya yang terpaut beberapa tahun lebih muda ini.
Ia cantik, manja, imut, mandiri, kaya tapi tidak sombong ataupun merendah. Intan paling menyukai sepupunya ini, terlebih ia ingin memiliki adik perempuan.
Sayangnya ia hanya anak tunggal, orang tuanya beralasan karena mereka tidak ingin membagi kasih sayang mereka pada yang lain sehingga itu akan mengurangi kebahagiaan Intan. Tentu saja Intan tidak mempercayai omong kosong orang tuanya, alasan sebenarnya adalah karena ibu Intan memilki rahim yang lemah sehingga resiko keguguran akan tinggi. Ayahnya tidak ingin istrinya bersedih karena keguguran, jadi mereka menetapkan tidak akan memiliki anak lain.
Intan mengangkat tangan kirinya menutup mulutnya dan tertawa kecil.
"Tentu saja aku tidak melupakan kakek!! Bagaimana mungkin aku berhenti peduli pada kakek? Aku sangat sayang pada kakekku."
Intan berdiri dan pergi ke kamarnya, membuka kopernya dan mengeluarkan sendok yang memilki aura antik. Ini adalah sendok yang memang barang antik asli yang ia beli di kota Teng bersama Nanang.
Intan keluar dari kamarnya dan menghampiri kakeknya.
__ADS_1
Mata Kakek Tang berbinar saat melihat sendok itu, ia adalah penggemar barang antik, seperti kuas dan lukisan kuno, gerabah dan wajan dari dinasti tang, ataupun barang antik lainnya selama itu otentik.
"Ini untuk kakek." Sambil mengatakan itu, Intan menyerahkan sendok dalam kotak transparan ke kakeknya.
"Ini baik. Kamu memang cucu terbaikku." Kata kakek dengan senyum sambil menatap sendok antik.
"Kakek, bagaimana denganku? Kenapa hanya Intan yang di puji?" Kata Sarah.
"Hmm, kamu anak nakal tidak pernah peduli dengan Kakek, lihat ini Intan memberiku hadiah setiap dia datang berkunjung! Kapan terakhir kali kamu memberikanku hadiah ?!"
"Kakek, keimutan aku adalah hadiah terbesar untukmu! Lihatlah aku."
Sarah memanyunkan bibirnya, membuat pipinya tampak melengkung sambil membuat tatapan anak kecil yang marah.
Kakek melihatnya dan hanya mendengus kesal.
"Kamu anak bau ikan, lihat umurmu, sudah besar masih bertingkah imut seperti anak kecil!"
"Hehe..." Sarah hanya tertawa kecil mendengar kata-kata kakeknya.
__ADS_1
Ketiganya mengobrol santai sambil ditemani dengan camilan, buah dan minuman. Ketiganya sangat harmonis layaknya kakek yang bermain dengan cucunya.