
"Kamu tidak salah dengar Paman Jang. Biar Kuulangi. Mari kita bertaruh 100 miliar belly !"
"............." Keheningan.
"Tuan Muda Nanang, Aku tidak punya uang sebanyak itu.."
"Tidak masalah, kamu hanya mempertaruhkan 32 miliar belly yg kaumiliki, surat hak milik, dan akta tanah. Rumah dan tanahmu tidak seberapa harganya. Paman Jang akan untung besar jika menang."
Pak Jang yang mendengar perkataan Nanang mulai merasa cemas, tapi bersemangat di satu sisi.
Pak Jang merasa kesuksesan besar akan berada di tangannya.
Kepala Desa Kabut Pak Dedes, dengan tergesa-gesa bertanya pada Nanang.
"Tuan Muda, Kamu ingin mempertaruhkan 100 miliar belly hanya dengan 32 miliar, SHM dan akta tanah di desa yg tak seberapa harganya? itu kerugian besar !"
"Itu belum tentu, jika aku menang maka itu akan jadi keuntunganku." Jawab Nanang.
"........." Orang-orang terdiam.
Logika macam apa itu?
Jika kalah maka akan rugi 100 miliar, jika menang hanya mendapat sedikit. Bukankah berjudi umumnya mendapat pengembalian yang setara atau lebih banyak?!
Gadis Mei yang mendengar apa yang di pertaruhkan dengan cepat mencoba membujuk ayahnya yang masih bersemangat karena adrenalin yang meningkat.
__ADS_1
"Ayah, tidak boleh, jika ayah kalah, kita tidak akan memiliki apa-apa. dimana kelak kita tinggal jika kita kehilangan rumah kami?"
Semua orang yang hadir juga merasa ini taruhan yang beresiko, jika kalah maka akan kehilangan tempat tinggal dan tanah.
Namun, dengan 100 miliar belly yang di pertaruhkan Nanang, taruhan Nanang masih jauh lebih berharga.
Mereka tidak ingin Pak Tua Jang memenangkan 100 miliar belly setelah Jang Tua memenangkan 32 miliar belly sebelumnya.
Jadi mereka mencoba membujuknya untuk tidak bertaruh.
"Ya, Pak Tua Jang, dengarkan apa yang di katakan putrimu. kamu benar-benar tidak boleh melanjutkan ..."
Mendengar itu, Pak Jang memelototi orang yg berbicara, matanya memerah dan ia berteriak pada orang banyak:
Pak Jang melanjutkan.
"Jangan berfikir aku tidak tahu niat asli kalian, kalian hanya tidak tahan menontonku memenangkan banyak uang!" Katanya dengan menghardik.
"...."
Memang, semua orang kecuali beberapa, semuanya sangat iri dan seolah hati mereka terbakar oleh kecemburuan, layaknya mendapati istri mereka main mata dengan pria lain.
Terlihat jelas kecemburuan pada mata mereka.
Masing-masing mereka memiliki pikiran mereka sendiri, tapi satu hal yang pasti, mereka tidak tahan melihat tetangganya tiba-tiba jadi miliarder!
__ADS_1
Jajang memperhatikan ekspresi ayahnya Pak Jang, dia menatap kantong saku yg penuh dengan uang pada ayahnya, perasaannya sangat bertentangan.
Di satu sisi, 32 miliar belly yang di menangkan ayahnya sudah lebih dari cukup.
Di sisi lain, memenangkan 100 miliar belly rasanya akan sangat luar biasa!
Tapi.. bagaimana. jika ayahnya kalah?
Bukankah mereka akan kehilangan uang dan rumah mereka? di mana kelak mereka akan tinggal?
Tanpa menghiraukan pendapat putrinya, dan tanpa berkomunikasi dengan anak dan menantunya, Pak Jajang yang telah terbakar adrenalin berjudi lantas langsung ke rumah mengambil SHM rumah, dan akta tanah.
Pak Jajang tidak mempertimbangkan jika ia kalah ia akan kehilangan segalanya dan tidak akan memiliki apapun.
Tidak mempertimbangkan tidak akan memiliki apapun.
Tidak mempertimbangkan kehilangan rumah, bahkan tidak tanah ladangnya...
Dia hanya memikirkan kemungkinan lain, bahwa ia akan menang dan menang.
Dia merasa sedang beruntung hari ini.
Dia telah menang banyak.
Begitu ia memenangkan putaran ini, dia tidak perlu lagi bekerja di ladang, dan ia akan membawa keluarganya hidup di ibukota.
__ADS_1