
"Aku bisa mengembalikan akta tanah dan surat hak milik, tapi dengan satu syarat kamu bisa memotong salah satu tanganmu atau kau bisa memotong 5 jarimu yang berada di salah satu tanganmu!"
Mendengar apa yang di katakan Nanang, Intan langsung mengangkat alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan brother Nanangnya.
Sementara itu penonton yang hadir hanya bisa menghirup nafas dalam dan menghela nafas dalam hati.
Sungguh Kejam!!
"Apa, apa maksudmu?" Tanya Pak Jang, ia secara tak sadar menarik kedua tangannya dan menyembunyikannya ke belakang punggung.
"Plak!!"
Nanang berdiri dari kursi lalu menepuk meja yang membuat kaget orang yg menyaksikan lalu ia menatap Pak Jang dengan galak dan berkata dengan nada candaan.
"Bukankah kamu selalu mengajakku untuk terus meneruskan taruhan setiap kali kaumenang? Aku tidak pernah memaksamu, itu kau yang tidak mau berhenti meski telah menang berkali-kali. Apa kau ingin menyiratkan aku memaksamu?"
__ADS_1
Pak Jang terdiam. Ia merasa aura Nanang berubah, aura Nanang serasa dingin dan menakutkan, menekannya dan membuatnya secara tidak sadar menggigil ketakutan.
"Itu benar, tapi ..." Pak Jang ingin membantahnya tetapi tidak dapat membantahnya.
Nanang melihat perjuangan putus asa di wajah penjudi itu.
"Putra dan putrimu berada tepat di sebelahmu, meskipun putramu tidak menghentikanmu, tapi putrimu di awal telah berkali-kali mencoba membujuk dan menghentikanmu, namun kau tidak mau mendengarkan."
"Aku bahkan telah mengkonfirmasi dengan bertanya dan memastikan kaubenar-benar ingin terus berjudi, aku selalu bertanya padamu dan bahkan meminta membuat surat perjanjian, namun kaumasih tidak mau mundur. Ini hanya bisa di salahkan atas keegoisanmu sendiri."
"..."
Pak Jang tidak ingin mengakuinya, tapi ia tidak bisa membantah dengan bukti absolut yang di miliki Nanang. Ia terdiam sejenak sebelum berbicara.
"Kamu bisa mengambil uang cek yg kaumenangkan kembali, tapi aku tidak bisa memberikan Akta tanah dan rumah saya, aku ..."
__ADS_1
Pak Dedes dan warga lainnya tidak berani mengatakan apa-apa.
Mereka bahkan tidak berani mengambil nafas, mereka hanya bernafas pelan seolah maling ayam yang takut ketahuan.
Meskipun ada rasa iba pada keluarga Pak Jang, tapi ini memang salahnya sedari awal.
Para warga melihat penampilan Nanang yang tampan dan gagah, kaya pastinya, dan sebagai CEO grup Nang ia merupakan orang yang tidak bisa di anggap enteng, para warga tidak bersuara dan enggan membantu Pak Jang karena takut menyinggung Bigshot.
"Kamu menginginkan rumah dan tanah mu kembali? Siapa orang yang baru saja menandatangani kontrak? Bukankah kamu dan keluargamu telah menandatanganinya? Aku sudah memberimu pilihan jika kamu menginginkan rumah dan tanahmu maka aku bisa memberikannya, tapi kamu harus memotong salah satu tanganmu atau memotong lima jari di tanganmu itu!"
Mengatakan itu, Nanang berbalik untuk melihat Pak Dedes dan dengan tersenyum dia berkata:
"Kepala desa, bisakah kamu meminjamkan golok di rumahmu kepadaku? Aku akan memotong salah satu tangannya." Kata Nanang sambil menunjuk Pak Jang.
*Bigshot \= Orang penting/orang yang berkuasa/seorang bos
__ADS_1