
Mereka hanya bisa menyimpan pikiran mereka sendiri, berharap setelah ini Pak Tua Jang akan berhenti berjudi, dan setelahnya akan menjadi giliran mereka.
Mereka memiliki motif untuk keuntungan pribadi dan juga mereka benar-benar tidak tahan melihat pecandu judi seperti Pak Jang terus-terusan menghasilkan uang dar Nanang. Betapa perasaan benci melihatnya!
Pak Tua Jang sekali lagi melihat cek 4 miliar belly di meja. Matanya bersinar dengan keserakahan.
"Ayo bertaruh lagi. Aku juga tidak percaya kalau aku akan kalah pada giliran ini." Katanya serius.
Mengatakan itu, dia melanjutkan,
"Siapa yang akan memulai duluan ?"
"Aku memulai dulu, seperti sebelumnya." Jawab Nanang.
Seperti biasa, Nanang mengocok cangkir dadu terlebih dahulu sebelum meletakkannya di atas meja. Setelah itu, Pak Jang bertanggung jawab untuk membuka cangkir dadu dan membaca angka pada dadu.
"Satu, dua, tiga, ini enam angka lagi. Tuan Muda Nanang, anda benar-benar tidak beruntung lagi. Anda mungkin harus pergi ke Kuil Dewa Naga Shenlong untuk berdoa nanti. Hahahaha haha, hahaha hahaha hahaha!"
__ADS_1
Pak Jang tertawa terbahak-bahak, kali ini tawanya lebih keras dari sebelumnya saat dia menang.
Semua orang, "...." Betapa sialnya Nanang, kalah berturut-turut, dia selalu tidak beruntung mendapatkan angka rendah dari ketiga dadu. Betapa beruntungnya Pak Jang mendapatkan Nanang yang sial sebagai lawannya. Mereka hanya menatap Pak Jang yang menjadi kaya raya dengan penuh iri dan benci, benci, benci!
"Mungkin, hehehe."
Nanang hanya bisa tersenyum bodoh, tapi ia nampak tidak kesal samasekali, suasana hatinya masih hangat seperti sinar matahari pagi.
Nanang menatap Pak Tua Jang di depannya yang praktis asyik dengan cangkir dadu dan itu mengingatkannya pada saat dia SMA saat ia sering bermain di kasino.
Dia melihat, mengamati, dan mempelajari tentang para penjudi yang datang dan pergi saat mereka duduk di meja judi dengan kegembiraan mereka menatap cangkir dadu dengan antusias menantikan saat membaliknya selama sesi perjudian.
Berkat pengamatan dan pemahaman Nanang pula yang mengamati bandar, ia lalu kemudian meniru cara bandar dalam menipu para penjudi dan mempelajari skill mengontrol angka dadu.
Oleh karena itu, sebenarnya angka rendah pada dadu Nanang sebenarnya adalah hal yang ia sengaja. Singkatnya, ia sengaja mengalah untuk pertunjukan akhir.
Pak Tua Jang mengocok dan membuka cangkir dadunya, tatapannya panas, dia sangat yakin dia akan menang.
__ADS_1
Kemudian, dia menampakkan meja dengan bersemangat saat melihat angka pada dadu.
"Tiga, tiga, empat, 10 angka, aku menang lagi! hahaha haha! Aku rasa aku tidak bisa kalah bahkan jika aku mau !"
Pak Tua Jang mengambil cek di meja bernilai 8 miliar dan langsung memasukkannya ke sakunya. Dia tidak bisa menahan senyum besarnya yang membuat mulutnya hampir mencapai telinganya.
Senyumnya benar-benar merusak pandangan. Para penonton hanya menatap dengan iri dan benci, rasanya ingin segera menyembelih Jang Tua!
Gadis mei berdiri di depan ayahnya dan berkata dengan panik agar Nanang mendengarnya.
"Ayah, tidak lagi, tidak lagi, kita tidak akan berjudi lagi."
Nanang mengangkat bahunya saat dia berbicara sembarangan,
"Tidak lagi? Sayang sekali kalau begitu, aku masih ingin bermain."
"Kamu masih bermain? jika Tuan Muda Nanang mau lanjut, maka saya akan bergabung dengan anda !"
__ADS_1
Pak Tua Jang yang baru saja menang taruhan berturut-turut, sangat bersemangat. Dia ketagihan menang dan tidak ada niat untuk berhenti sama sekali.