CINCIN TANG

CINCIN TANG
51. Perkampungan Hantu


__ADS_3

"Kalau begitu, tidak salah lagi, kita berada di dunia Nawangsih.. Ehm, salah, maksudku Dunia Lain!" Kata Nanang.


"Brother Nanang, apa yg selanjutnya kita lakukan? Bisakah kita kembali lagi?" Tanya Intan. Nadanya tenang, tapi hatinya sebenarnya agak resah.


Nanang gugup, ia pun menghentikan mobilnya.


Karena ia tidak mengenali jalan ini yang merupakan jalan di Dunia Lain.


"Brother Nanang, bagaimana kalau kita kembali saja ke tempat semula?" Intan memberikan idenya.


"Brother, bila kita terus melaju ke depan, kita akan semakin tersesat, sebaiknya kita kembali ke jalan awal kita masuk."


Usul Intan dengan mudahnya di setujui oleh Nanang. Ide Intan masih masuk akal.


Nanang memutar mobil menyusuri jalan mencoba kembali pada awal mereka tersesat.


Tapi keanehan terjadi, mereka kembali menemui pohon beringin yang sudah mereka lewati sebelumnya, terus mengemudi dan akhirnya berakhir di jalan yang ada pohon beringinnya.


Saat Nanang mulai putus asa karena selalu terjebak di jalan yang sama, kabut merah muncul menghalangi pandangan. Itu tidak berlangsung lama, hingga kabut dengan sendirinya menghilang.


Saat kabut menghilang, pemandangan di depan telah berubah total.


Nanang dan Intan tahu, mereka sedang di permainkan oleh setan peninggi di sini.

__ADS_1


Pemandangan berubah total, jalan aspal telah berubah menjadi jalan tanah lengkap dengan kerikil-kerikil kecil di sepanjang jalan.


Ini tampak seperti jalanan yang belum di aspal.


"Brother, kita tidak bisa hanya berdiam diri. Kita harus tetap melaju. Jika kita tidak mati oleh para hantu maka lambat laun kita akan mati kelaparan jika kita tetap tersesat di sini."


Nanang terus melaju dengan mobilnya, tak lama kemudian, ia melihat dari kejauhan sebuah perkampungan.


"Terus melaju Brother, jangan hiraukan, kita hanya harus terus bergerak untuk bisa keluar!" Kata Intan memberikan semangat pada Nanang meskipun ia sendiri mulai berkeringat dingin.


Mobil terus melaju di jalan yang tidak rata, itu tidak nyaman berkendara di jalanan yg tidak rata sehingga sesekali mobil serasa terpantul-pantul, untunglah mobil Bubun yg di kendarai terdapat kursi pengaman yang mencegah mereka melonjak-lonjak ke atas dari tempat duduk.


Mobil terus melaju menyusuri jalan yang akhirnya membawa mereka masuk ke sebuah perkampungan.


Tidak ada kabel listrik, Kampung hanya menyala redup dengan nyala api lentera obor, tapi itu pun jarang.


Kampung ini layaknya kampung mati dan tidak ada jejak kehidupan dari orang-orang kecuali rumah-rumah di kampung ini menyala dengan cahaya lampu samar yang sepertinya cahaya dari lentera obor atau lampu spirtus.


Cahaya dari api lentera adalah satu-satunya yang membuat kampung yang menyeramkan ini tampak sedikit hidup.


Sepanjang jalan memandangi rumah-rumah.


Ada yang unik dan aneh soal rumah di sini.

__ADS_1


Tidak ada listrik.


Tidak ada suara.


Setiap rumah berukuran sama.


Setiap rumah terbuat dari jerami.


Jika ini Kota Tang, mustahil ada rumah miskin seperti ini. Bagaimanapun Kota Tang adalah kota tingkat 1 yang penduduk termiskinnya memiliki rumah dari bata yang di semen.


Ini semakin meyakinkan Nanang dan Intan bahwa mereka ada di Dunia Lain.


Mobil terus melaju dan anehnya mobil tidak bisa keluar dari perkampungan, hanya terus berputar-putar.


"Intan, ini aneh, rasanya kita tidak pernah keluar dari perkampungan ini. Ini seperti kita hanya berjalan di dalam tanpa bisa keluar meski terus bergerak."


"Ya. Brother Nanang.. Ini aneh rasanya, tapi inilah kenyataannya."


Mobil tiba-tiba mogok di tengah perkampungan.


Sosok-sosok mengerikan satu persatu keluar dari dalam rumah jerami.


Mereka bergerak mengepung mobil mereka.

__ADS_1


Ada ratusan bahkan mungkin ribuan dari mereka. Tampilan mereka mengerikan dan mengerikan!!


__ADS_2