
"Kali ini bukan angka 5, 6, atau 7. Ini bukan angka rendah!"
"Berapa angka totalnya?"
"6, 6, 6, totalnya 18 angka! Ini angka penuh, ini pembunuhan langsung! Ya, Dewa..."
"Delapan belas angka... jika setiap dadu nilai maksimalnya 6 dan dari ketiga dadu semuanya nilai 6, bukankah 18 merupakan angka tertinggi ?!"
"Kemungkinan mendapat total angka 18 sangat kecil, Tuan Muda Nanang sangat beruntung !"
"Bukankah dengan ini berarti Jang Tua..."
"Kali ini Pak Tua Jang sudah di takdirkan..."
"Huh....! Ini salahnya sendiri tidak berhenti di saat ia sudah memenangkan banyak uang, kini ia kehilangan semua apa yang sudah ia dapatkan!"
"Bukan hanya kehilangan uang yang telah di dapat, tapi ia juga kehilangan tanah dan rumahnya !"
"Bukankah itu artinya ia dan keluarganya akan menghabiskan sisa hidupnya di jalanan mengemis..?!"
"Benar saja, judi itu tidak baik!"
"Judi tidak menjanjikan kemenangan!"
"Judi tidak menjanjikan kakayaan!"
"Bohong, kalaupun kaumenang, itu awal dari kekalahan."
"Bohong, kalaupun kaukaya, itu awal dari kemiskinan."
__ADS_1
"Judi meracuni kehidupan. Karena orang malas di buai harapan."
"Karena perjudian, Pak Jang kehilangan rumahnya."
"Apapun nama dan bentuk judi, semuanya perbuatan keji! Apapun nama dan bentuk judi jangan di lakukan dan jauhi !!"
............
Ketika Jajang menyadari bahwa ayahnya pasti akan kalah dalam ronde ini, ia langsung melolong marah.
"Ayah! ini semua salahmu! kami akan kehilangan rumah dan tanah kami !"
Pikiran Pak Jang benar-benar kosong. Sementara orang-orang di sekitarnya sudah membuat keributan, pikiran Pak Jang telah lama berhenti. Itu adalah suara anaknya yang menyeret jiwanya kembali.
Melihat total 18 titik pada dadu dia mencoba melawan kekhawatiran dan kepanikannya. Dia berusaha untuk tetap tenang, dia memutar kepalanya menatap anaknya dan menyala.
"Apa yang kamu teriakan?! Berhentilah berteriak padaku. Kamu mulai menangis bahkan sebelum aku mengocok dadu milikku! Kamu menangis, semua sialan akan datang dan keberuntungan akan pergi!"
"Kami akan kalah Dan di takdirkan..."
Meskipun suaranya kecil, tapi suaranya masih terdengar ke telinga Pak Jang. Ia pun menegur menantunya.
"Siapa bilang aku akan kalah!!"
"Tunggu dan lihat saja! Saya hanya perlu 18 titik pada dadu untuk mendapatkan hasil seri pada putaran ini. Dengan begitu, permainan dadu harus di ulang dan aku akan memenangkannya setelah itu."
Mengatakan itu, mata Pak Jang bersinar seperti lampu merah saat dia menatap tajam ke arah Nanang.
Jajang mendengar kata-kata ayahnya dan berpikir, 'Itu benar, masih ada kesempatan!'
__ADS_1
Keluarga Pak Jang tidak bisa menyerah.
Mungkin mereka bisa memaksakan keadaan seri lalu membalikkan keadaan pada giliran selanjutnya.
"Ayah, sebelum kamu membuka dadumu lebih baik kita berdoa kepada Dewa Naga Shenlong agar diberikan hasil seri pada giliran ini." Ucap menantunya.
Pak Jang yang tidak ingin kalah di ronde ini langsung menyuruh putra-putri dan menantunya untuk bersujud menghadap ke pintu rumah. Ia dan keluarganya menengadah melihat ke langit sementara mereka meletakkan kedua tangan mereka di dada mereka dalam posisi menyilang, lalu berdoa pada Dewa Naga Shenlong.
"Oh, Dewa Naga Shenlong, berikanlah berkahmu jadikan hasil seri pada ronde ini."
"Oh, Dewa Naga Shenlong, Jangan biarkan Ayah kami kalah kami tidak akan memiliki tempat tinggal jika ayah kami kalah."
"Oh, Dewa Naga Shenlong, meskipun aku tidak datang ke kuil untuk bersembahyang setiap hari, tapi kami selalu menyiapkan waktu untuk datang beberapa kali setiap bulannya untuk memujamu di kuil, berikanlah aku hasil seri dan kemenangan di ronde berikutnya."
Sementara itu gadis may memiliki doa yang berbeda dengan anggota keluarganya.
"Oh, Dewa Naga Shenlong, berikanlah kami yang terbaik."
Pak Jang bangkit lalu mengocok cangkir dadu sambil berkata dalam hati dan mengucapkannya berkali-kali, 'Oh, Dewa Naga Shenlong, putaran ini harus seri! Seri! Seri!'
Pak Jang mengocok cangkir dadu dengan tangan gemetaran seolah-olah seluruh tubuhnya runtuh terjatuh ke dalam jurang es.
Anak dan menantunya bangun dan melihat tangan ayahnya gemetaran.
Setelah mengocok cangkir dadu, Pak Jang meletakkan cangkir dadu di atas meja. Tangannya gemetaran, ia tidak ingin membukanya, tidak bisa karena takut hasilnya akan kalah.
Anggota keluarganya melihat ke arahnya dengan panik mereka sangat berharap bahwa hasil pada ronde ini adalah seri.
Setelah menunggu beberapa saat Pak Jang tak jua membuka cangkir dadunya. Nanang pun menawarkan diri untuk membukanya.
__ADS_1
"Paman Jang, haruskah aku yang membukanya?"
"Tidak, aku-aku ingin-aku ingin membukanya sen-sendiri...!"