
"Paman Jang, ayo bertaruh lagi. Kali ini aku akan mengeluarkan cek senilai 16 miliar, bagaimana menurutmu ?"
".... !!"
Warga yang mendengar ajakan Nanang terperangah. Ini taruhan 16 miliar! bila masing-masing mengeluarkan 16 miliar maka total taruhan akan menjadi 32 miliar belly! ini jumlah yg tak berani mereka bayangkan.
Pak Jang bernafas cepat, dadanya berdebar naik turun. Dia memang memimpikan memiliki uang banyak, tapi tidak memimpikan uang sebanyak itu. Tangannya bergetar dan setelah menenangkan diri, dia menjawab.
"Ayo, mari bertaruh. Jangan mengeluh saat kalah nanti !" Jawab Pak Jang.
Kabar bahwa Pak Tua Jang sedang berjudi dan memenangkan miliaran uang akhirnya menyebar ke seluruh pelosok Desa Kabut. Desa kabut berukuran kecil dan hanya ada sedikit penduduk di Desa Kabut, jadi desas-desus menyebar dengan cepat, arena judi dadakan yg awalnya hanya ada beberapa yang menonton akhirnya penuh dengan orang-orang.
Mereka tidak ikut bertaruh tapi sangat bersemangat seolah merekalah yang sedang bertaruh, mereka bahkan merasa gugup dan adrenalin mereka terpacu dengan cepat.
Ini adalah tontonan sekali seumur hidup !
Kali ini Pak Tua Jang dan Nanang mengocok dan membuka dadu secara bersamaan.
Saat jumlah titik pada dadu terlihat, para penduduk mulai menghitung dan membandingkan untuk melihat siapa yang menang.
__ADS_1
"Dua, dua, dua, angka pada dadu Nanang adalah 6! Lagi-lagi dia mendapat angka kecil! dia di pastikan kalah! "
"Enam, enam, enam, 18 angka penuh! Sialan, Pak Tua Jang sangat beruntung! Aku iri, andai itu uangku... !" Seorang warga mengeluh.
"Ahahaha! Aku menang lagi! Hahahaa... !" Pak Jang tertawa terbahak-bahak, ekspresinya tertawanya hanya mengundang kebencian dan membuat warga iri dan iri, mereka berandai-andai kalau saja keberuntungan itu milik mereka ..
"Tuan Muda, apa kau masih mau bertaruh?!'' Tanya Pak Jang, ia sangat dan sangat bersemangat, seolah-olah dia akan terus menang dan menang.
"Ayo bertaruh 100 miliar belly." Ajak Nanang.
"............." Kerumunan terdiam.
"Ya, Dewa, apa dia serius ?!!"
"Ini gila! Seseorang akan kehilangan 100 miliar hanya karena judi !"
"Ukh, aku harap aku yg memiliki uang itu."
"Sialan, Pak Tua Jang sangat beruntung bisa mendapat 100 miliar Belly !"
"Apa maksudmu dia beruntung? Taruhan bahkan belum di mulai, kita harus melihat hasilnya dulu."
__ADS_1
"Tapi Tuan Muda itu selalu kalah, dan Jang Tua selalu menang! tidak perlu menebak siapa yang akan menang !"
"Oh, Dewa Shenlong, ini tidak adil. Saat aku berjuang setiap hari tapi hanya menghasilkan sedikit uang, tapi pemuda di sana memiliki banyak uang meski masih muda ...!"
"Wow, ini tontonan sekali hidup! 100 miliar Belly! bahkan ayah dan nenekku tidak pernah melihat uang sebanyak itu !"
"Apa maksudmu hanya ayah dan nenekmu? bahkan nenek dari nenekmu pun pasti belum melihat uang sebanyak itu !"
"Apa maksudmu menghina keluargaku? Bukankah ini juga berlaku untuk nenek dan nenek dari nenekmu juga?!"
"......."
Setelah keributan selama sekian menit, keadan menjadi tenang meskipun mereka sebenarnya masih berdebat dan semangat.
Dengan tubuh yang bergetar, Pak Jang bertanya pada Nanang, suaranya agak serak dan bergetar.
"Tuan Muda Nanang, bisakah kamu mengulanginya? 100 miliar, apa aku tidak salah dengar?! Apa mungkin maksudmu 10 miliar ?!''
"Kamu tidak salah dengar Paman Jang. Biar Kuulangi. Mari kita bertaruh 100 miliar belly !"
"............." Keheningan.
__ADS_1