
"Tapi dari tadi tidak ada orang, dan tidak ada suara Tv atau musik dari rumah-rumah di sini." Kata Intan.
Intan semakin menurunkan kaca mobil. Mencoba menangkap suara dari manusia yang hidup. Deru angin yang menerpa terdengar samar-samar di telinga. Sampai lama baik Nanang dan Intan tidak mendengar apa-apa dan hanya berputar-putar di komplek mengelilingi blok demi blok.
Sesuatu yang samar tiba-tiba tercium di hidung mereka.
"Ini bau bunga bangkai.. " Kata Intan.
"Kenapa ada bunga bangkai yang tumbuh di perumahan? Rasanya mustahil untuk tumbuh di sini." Kata Nanang.
Aroma bau tiba-tiba berubah, "Brother, baunya berubah, ini aroma ayam panggang! Seseorang pasti belum lama ini memanggang ayam. Akhirnya kita menemukan aktifitas manusia dari perumahan sepi ini!" Kata Intan dengan semangat.
Setelah memajukan mobilnya ke depan, Nanang dan Intan melihat seorang tua yang sedang tidur di kursi di depan di teras rumahnya.
Nanang memberhentikan mobilnya, ia dan Intan keluar dari mobil dan menyapa kakek yang ketiduran di kursi di teras depan rumahnya.
"Alola Kakek." Kata Nanang.
Kakek itu perlahan membuka matanya dan melihat ke arah Nanang dan Intan, menilai dengan s.e.k.s.ama.
Cukup lama kakek itu memandang Nanang dan Intan, ekspresinya datar dan matanya melihat seolah tidak melihat apa-apa. Sulit menebak apa yang di pikirkan kakek ini.
__ADS_1
Nanang akhirnya memecah kebuntuan, "Alola, Kakek. Ehm, kami ingin bertanya di mana tepatnya kota ini berada, apa nama tempat ini kakek?"
Kakek itu tetap diam selama beberapa detik sebelum menjawab.
"Alola, ini Kampung Daying Kecamatan Ded Kota Det. Siapa kalian berdua? Kalian bukan penduduk di sini." Kata Kakek itu dengan tenang, suaranya serak dan berat, sementara ekspresinya tetap kosong.
"Kami dari Kota Tang dan entah kenapa kami tiba-tiba tersesat kemari. Apakah kakek tahu cara pergi ke Kota Tang dari sini?" Tanya Nanang.
"Kota Tang yah... itu sangat jauh dari sini, bahkan jika kalian berkendara dengan mobil, setelah seharian berkendara pun kalian tidak akan mencapai tepian Kota Tang." Jawab Kakek itu.
Nanang dan Intan : "...."
"Kalian sebaiknya menginap saja di sini dulu. Tapi itu tidak akan gratis!"
"Baiklah, kami akan memberikan uang biaya menginap di sini. Apakah satu juta belly cukup kakek?" Tanya Intan.
Kakek itu mengangguk, "Ehm, cukup."
Intan memasukan tangannya ke dalam tasnya, lalu menyerahkan uang dari tasnya ke si kakek.
Saat Intan memasukan tangannya ke dalam tasnya untuk mengambil uang, mata si kakek menyipit. Aura bermusuhan tiba-tiba keluar dari tubuhnya. Tapi dengan cepat kakek itu menarik auranya, menyembunyikannya.
__ADS_1
Nanang dan Intan merasakan bahaya yang datang dari kakek itu, tapi hanya sesaat.
"Ayo, masuk, ikuti aku ke rumah. Taro saja mobilmu di halaman depan rumah."
"Baik Kakek." Kata Nanang.
Nanang dan Intan mengikuti Kakek itu ke dalam rumah, kakek menujukkan kamarnya pada keduanya.
"Hanya ada satu kamar ini yang tersisa, kamar lainnya di huni oleh keluargaku yang lain."
Intan Nanang hanya mengangguk dan keduanya masuk ke kamar bersamaan. Lalu kakek itu pergi meninggalkan mereka.
Setelah Kakek itu keluar dan menutup pintu, keduanya berdiskusi.
"Intan, ada yang tidak beres dengan Kakek itu."
"Benar Brother Nanang, meski samar dan tipis aku bisa merasakan hawa permusuhannya. Kita harus waspada!"
"Aku belum pernah mendengar soal Kota Det ini dalam peta di pelajaran geografi, selain itu Kampung Daying adalah homonim dari Sekarat dan Kecamatan Ded adalah mati(sudah mati) dan Kota Det adalah homonim dari Kata Kematian. Aku curiga kita masih ada di Dunia Lain." Kata Nanang.
*Alola: Hai/Halo/Salam
__ADS_1
*Belly: mata uang resmi Negara Api, 1 Belly sama dengan 1 rupiah.