
"Aku belum pernah mendengar soal Kota Det ini dalam peta di pelajaran geografi, selain itu Kampung Daying adalah homonim dari Sekarat dan Kecamatan Ded adalah mati(sudah mati) dan Kota Det adalah homonim dari Kata Kematian. Aku curiga kita masih ada di Dunia Lain." Kata Nanang.
"Brother, kita harus memikirkan cara untuk keluar dari sini secepatnya. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara untuk keluar dari sini." Kata Intan, cemas. Lalu melanjutkan berkata.
"Ini sungguh sial! Kita telah menjalani pelatihan keras hidup dan mati, tapi tidak pernah di ajarkan oleh keluarga kita bagaimana cara menghadapi hantu!"
"Tenanglah Intan, aku janji bahkan jika aku harus mempertaruhkan nyawaku, aku pasti akan membawamu keluar dari Dunia sialan ini!"
Nanang memeluk Intan dengan agak erat, ia bersumpah dalam hatinya ia dan Intan pasti kembali hidup-hidup!
Intan terharu mendengar apa yang di ucapkan Nanang, ia membiarkan Nanangnya memeluknya tanpa perlawanan. Ia hanya mengerti Nanang sangat mengkhawatirkannya. Ia juga sama, mencemaskan Brother Nanangnya.
'Brother Nanang, aku juga bersumpah akan melindungimu dan membawamu selamat bersama keluar dari dunia ini.' Kata Intan dalam hati.
________
Intan dan Nanang berbaring di atas kasur, tapi keduanya tidak bisa tidur.
__ADS_1
Keduanya memikirkan cara dan tidak bisa menemukan solusi. Pada akhirnya keduanya hanya berbaring menunggu datangnya siang sebelum melanjutkan perjalanan.
Lama berbaring, Intan Akhirnya bosan dan melihat jam di dinding kamar, ia kaget menemukan sesuatu yang janggal.
"Brother Nanang, lihat! jam di dinding itu! Bukankah jam itu tidak berubah sama sekali? Saat kita masuk ke kamar ini, itu menunjukan pukul 10, dan sudah lama kita di kamar ini mungkin telah menghabiskan waktu beberapa jam, tapi tidak ada perubahan waktu pada jam dinding itu."
Nanang melihat jam dinding memang jam-nya tidak berubah, jarum panjang jam bergerak tapi jarum pendek tetap tidak bergerak.
Nanang mengeluarkan Hp-nya dan terkejut menyadari seolah waktu berhenti. Jam di layar Hp-nya tidak berubah sama sekali!
"Intan, jam berapa di HP-mu?"
"Pasti ada yang salah dengan tempat ini, jam di HP-ku juga sama Persis tidak bergerak sama sekali!" Kata Nanang menegaskan.
"Brother Nanang, ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini! Kita harus pergi sekarang juga!"
"Ayo berkemas dan pergi. Kita tidak usah pamit pada kakek aneh itu. Aku memiliki pirasat buruk padanya."
__ADS_1
"Ehm." Intan mengangguk.
Nanang dan Intan mengendap keluar dari kamar dengan langkah ringan dan hati-hati. Takut langkah mereka akan membangunkan kakek aneh itu. Keduanya berjalan menuruni tangga ke lantai bawah lalu sampai ke pintu membuka pintu secara perlahan dan perlahan.
Nanang mengintip dari pintu dan bersyukur mobilnya tidak hilang.
"Syukurlah mobilnya masih ada." Kata Nanang.
Nanang dan Intan melangkah ke mobil, tiba-tiba tangan hitam muncul dari tanah menahan salah satu kaki Intan.
"Akh....!" Intan kaget dan menjerit.
Nanang menoleh dan melihat tangan halus namun berwarna hitam yang memegang tangan Intan menyebabkan Intan tidak bisa bergerak.
Nanang langsung meraih batu seukuran kepala bayi di tanah dan memukul lengan tangan itu dengan keras.
'Buk!!'
__ADS_1
Tangan itu terlepas dari kaki Intan dan masuk kedalam tanah.