
“Tunggu! Biadab kamu ya!” teriak Bramana saat melihat Kemal pergi.
“Tuan tenanglah! Ingat Anda baru pulih dari penyakit jantung,” peringat Revan saat mendengar teriakkan tuannya.
“Hentikan dia!” perintah Bramana sambil menunjuk ke arah Kemal.
Revan segera berlari untuk menghampiri Kemal. Dia menarik jas mewah Kemal sambil menyandarkan Kemal ke tembok.
“Kamu manusia nggak punya hati ya!” teriak Revan saat sudah menyandarkan Kemal, Kemal berusaha memberontak dan melayangkan pukulannya ke arah Revan.
“Aku punya hati atau tidak apa hubungannya denganmu! Hah...,” balas Kemal sambil mencekram kerah baju Revan.
“Istrimu masuk rumah sakit, kamu malah asyik memangku wanita lain! Di mana otakmu! Dasar laki-laki bajing*an,” maki Revan yang membuat Kemal melepas cekalannya.
“Sudahlah Van, sepertinya aku sudah menemukan solusi yang pas untuk mereka berdua,” sahut Bramana yang sudah berdiri di sana.
“Kupastikan setelah anak itu lahir, kamu tidak akan pernah bisa menemui mereka, jangan mendekat ke keluargaku lagi, sudah cukup kau menyakiti putriku satu-satunya!” ucap Bramana sambil berjalan ke arah luar gedung.
Revan yang masih di bawah Kemal, segera mendorong tubuh Kemal ke belakang, membuat Kemal jatuh terduduk di sana. Kemal hanya bisa menunduk dan mencerna ucapan Bramana, keputusan sepihak dari Bramana memang membuatnya sangat terpukul, apalagi mengingat kejadian beberapa hari ini, dia selalu mengesampingkan Cinderella, bahkan untuk memeriksakan calon anaknya saja dia belum sempat. Kemal mengusap kasar wajahnya, pernikahannya baru satu minggu dengan Cinderella, tapi mertuanya sekarang sudah membenci dirinya, perjuangannya akan semakin berat untuk meluluhkan hati istri dan mertuanya.
“Ada apa bos?” tanya Billy yang baru saja tiba, dia melihat Kemal yang masih terduduk di sana dengan wajah lebam.
“Biasalah, apa yang aku takutkan benar-benar terjadi,” ucap Kemal dengan lesu.
“Lagian! kenapa loe nggak bilang jujur saja kepada mereka, biar lebih jelas masalahnya,” ucap Billy pada sahabatnya itu.
“Tunggu waktu yang tepat Bill.”
“Dan saat itu juga loe akan kehilangan dia, apa loe siap?” Kemal diam sejenak saat mendengar ucapan Billy, kepalanya terlalu pusing untuk memikirkan masalah itu sekarang.
__ADS_1
“Ayo kita pulang! Biar aku bantu obati luka di wajahmu,” ajak Billy sambil menarik tangan Kemal. Kemal menurut dengan Billy yang sudah membawanya berjalan menuju mobil.
“Kita datang penuh dengan teriakkan pujian dari para wanita, sekarang kita keluar bak kambing yang kehilangan mamaknya,” ucap Billy saat mulai mengemudikan mobil, dan Kemal yang duduk di sampingnya hanya bisa memejamkan matanya, memikirkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang tengah dia hadapi.
“Menurutmu apa yang harus aku lakukan Bill?” Billy tersenyum simpul ke arah Kemal saat mendengar pertanyaan Kemal tadi.
“Apa lagi! Ya minta maaflah!”
“Kalau mereka tidak mau memaafkanku?” tanya Kemal lagi.
“Katakan semua masalahmu sejujur-jujurnya!” jawab tegas Billy.
“Kalau mertuaku terserah mau bilang apa, aku hanya ingin Cici percaya padaku,” jelas Kemal sambil menatap jalanan depan. Billy hanya menahan senyumnya.
“Dulu saja nggak mau, sekarang jadi bucin kan?” cibir Billy pada Kemal.
“Dia ngegemesin sih! Coba dia seperti Diandra mana mau aku!” ucap Kemal sambil memijit kepalanya.
Billy segera membuka pintu Kemal saat mereka sudah sampai di tempat parkir apartemen, saat masuk ke dalam apartemennya, Kemal melihat masakkan Cinderella yang tadi belum sempat dia makan, karena tadi dia bangun kesiangan.
“Apa aku benar-benar tidak layak untuk menjadi suaminya ya Bill?”
“Kenapa tidak percaya diri begitu, kamu itu kaya, tampan, sayangnya cuma satu suka keluar masuk lobang orang,” ucap Billy sambil tertawa.
“Aaaaarrggghhhh..., kenapa juga aku harus seperti itu!” teriak Kemal sambil menarik rambutnya sendiri.
“Masalahnya dia hamil Bill, aku kasihan dengan Cici, kamu lihat tadi? wajahnya seperti apa saat melihatku berjalan dengan Diandra? Dia terlihat sangat sedih dan terpukul,” lanjut Kemal. Billy hanya mengangguk mengingat saat dia mendapat makian dan perintah Cinderella.
Billy berjalan sebentar ke arah ruang kerja Kemal untuk mengambil kotak obat, setelah kembali dia segera menyuruh Kemal untuk duduk, dan mengompres memar yang ada di pipinya.
__ADS_1
“Pelan-pelan bodoh!” maki Kemal saat merasakan sakit pada pipinya karena Billy terlalu keras menekan memarnya.
“Ceh! Gitu saja sudah kesakitan, nggak nyadar loe sudah berapa wanita yang loe sakiti hatinya,” ucap Billy.
“Berisik loe ya, makanya jadi orang itu yang tampan seperti gue, biar banyak yang terpesona,” ucap Kemal.
“Ogah buat apa tampan jika selalu menyakiti hati wanita,” sindir Billy.
“Tidurlah di sini menemaniku!” perintah Kemal.
“Gue mau pulang, takut loe nafsu sama gue, hahaha.”
“Gila loe ya, emang gue doyan sama pisang loe? Kalaupun gue doyan pisang gue juga perlu milih pisang mana yang oke!” sahut Kemal membalas candaan Billy. Mereka akhirnya mengobrol bersama hingga pagi, beruntungnya keesokkan harinya adalah hari libur jadi mereka memutuskan tidur saat jam Dinding menunjukkan pukul 3 dini hari.
Di sisi lain.
Bramana yang tadi baru pulang pukul 12 malam, langsung masuk ke kamar Cinderella, dia pelan-pelan membuka pintu ruangan itu karena takut membangunkan anaknya.
“Papa dari mana?” tanya Sandra saat melihat suaminya itu mengendap-endap masuk ke dalam kamar.
“Papa kan sudah bilang mau minum kopi dengan Revan,” jawabnya.
“Hah..., kenapa aku cari Papa di kantin tidak ada?” tanya Sandra yang curiga, “Ayo jujur Papa darimana?” lanjut Sandra.
“Papa habis memberi pelajaran pada anak brengsek itu!” jawab Bramana yang akhirnya mau mengakuinya.
Cinderella yang dari tadi sebenarnya belum tidur hanya bisa menatap kedua orangtuanya, mendengarkan saat Papanya itu bercerita sudah memukul wajah Kemal, dan akan memutuskan jika Cinderella akan segera bercerai dengan Kemal setelah bayi itu lahir.
Ya Tuhan..., berarti mereka sudah tau jika aku sedang hamil. Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
“Maksud Papa apa?” tanya Cinderella saat mendengar kata perceraian, pasangan itupun kaget saat Cinderella tiba-tiba bersuara.
Next >>>