
Happy reading
.
.
.
Setelah satu hari satu malam Cinderella di rawat di rumah sakit, kini dia sudah diperbolehkan pulang, Kemal mengajaknya untuk mendatangi kamar rawat Bramana. Karena Cinderella sudah dua hari tidak berkunjung ke sana.
Kemal membuka pelan pintu ruangan Bramana, tangannya masih merangkul Cinderella dengan posesif, terlihat sekali kalau Kemal tidak membiarkan istrinya jauh darinya.
Bramana yang sudah sadar sejak Cinderella terjatuh, hanya bisa memaki Kemal karena tidak membawa Cinderella mendatanginya. Dia langsung melemparkan satu buah apel ke arah Kemal, tapi beruntungnya Kemal bisa menangkap apel itu dengan tepat.
“Kamu bawa kemana anakku!” maki Bramana saat Cinderella sudah duduk di sofa samping brankarnya.
“Papa ..., sudah dong Pa. Kemal nggak salah kok, Cici hanya tidak enak badan kemarin, jadi baru bisa datang,” ucapnya sambil mengusap lengan lelaki tua di depannya.
“Kamu tidak enak badan? Apa dia memintamu untuk terus dilayani?” tanya Braman sambil melemparkan lagi buah apel ke wajah Kemal. Kemal hanya terkekeh karena lemparan buah itu kembali bisa dia tangkap.
“Papa ih ..., bukan seperti itu. Papa baru sembuh , jangan terlalu banyak bergerak!” peringat Cinderella ketika melihat Bramana ingin kembali melemparkan buah jeruk di tangannya.
“Siapa yang mau melemparnya, ini kupasin!” perintah Bramana sambil menyerahkan jeruk ke arah Kemal.
“Harusnya kamu tadi ke sini bawa papan catur,” lanjut Bramana ketika Kemal sudah duduk di tepi brankarnya.
“Papa mau? Biar Billy mengirimkan untuk kita, dan kita bisa bertarung sepuasnya di ruang ini,” sahut Kemal yang diangguki kepala Bramana.
“Apa kamu lupa jika belum bisa mengalahkan aku?” tanya Bramana menatap ke arah tangan Kemal yang mengupas jeruk untuknya.
“Nggak mungkin aku lupa, mungkin sekarang, aku bisa mengalahkan Papa mertua, hahaha.”
__ADS_1
terdengar suara tawa Kemal memenuhi ruangan, Cinderella hanya mampu menggelengkan kepala saat melihat wajah kemal yang merah karena terlalu lama tertawa.
“Suruh sekertarismu segera mengirimkannya! Aku sudah tidak sabar untuk mengalahkan lelaki sombong sepertimu,” ucap bramana menatap Kemal.
“Papa, sudah-sudah! Papa ini baru saja sembuh, nggak boleh berpikir terlalu keras, kamu juga Bung! Nggak usah ya meminta Billy mengirimkan papan catur, atau nanti malam kamu nggak boleh masuk kamar!” peringat Cinderella pada suaminya, Kemal hanya melirik ke arah Bramana sambil tersenyum menang.
“Hah ..., pasti kamu yang menghasut putriku kan? Awas ya ..., jika sudah pulang nanti kamu belum bisa mengalahkanku kamu keluar dari rumahku!” ancam Bramana pada Kemal.
“Ow iya ... Papa kan, sudah tidak punya rumah.”
“Rumah Papa sudah kembali, Papa nggak usah khawatir, aku sudah mengurusnya,” ucap Kemal sambil menyuapkan jeruk ke mulut Cinderella.
“Benarkah?” Kemal mengangguk sebagai jawaban dari Bramana, lalu menyerahkan buah jeruk di tangannya.
“Kalau begitu aku bisa mempercayakan putriku padamu, bukan masalah jika kamu akan membawanya pergi dari rumah, aku sudah melihat dari perilakumu, kamu tidak hanya mencintai Cici tapi ternyata kamu juga bisa mencintai keluarganya,” ucap Bramana sambil memakan jeruk di tangannya.
“Aku senang bentuk tanggung jawabmu, bukan karena aku bisa mendapatkan hartaku kembali, tapi karena aku percaya kamu bisa menjaga putriku jika aku sudah pergi nanti, jangan sakiti dia, cintai dia apa adanya, meski dia kurus, sexy ataupun gendut tetaplah bersamanya, atau bahkan mungkin kulitnya sudah mulai keriput aku minta kamu untuk menjaganya, aku dulu sangat susah mendapatkan putriku, jadi aku ingin melepaskannya kepada orang yang memang benar-benar mencintainya,” ucap Bramana panjang lebar, dengan intonasi pelan, tapi sangat jelas, Kemal mendengarkan dengan baik sambil menganggukan kepalanya, sedangkan Cinderella mengusap-usap punggung tangan Bramana sambil sesekali menghapus air matanya yang sudah keluar.
Bramana tersenyum menatap Kemal, lalu menepuk keras punggung Kemal.
“Semoga pilihanku tidak salah,” ucap Bramana, “Kapan cucu kembarku akan keluar?” lanjutnya bertanya.
“Papaa ..., ini baru lima bulan, kurang empat bulan lagi,” jelas Cinderella.
“Kenapa lama sekali, aku sudah tidak sabar untuk menggendongnya, semoga dia akan tampan seperti Opanya,” ucap Bramana diakhiri candaan.
Pintu ruangan terbuka, terlihat Sandra memasuki ruangan dengan membawa susunan rantang makanan, dia yang baru tiba tersenyum ke arah Kemal dan Cinderella.
“Dari mana saja kamu? Dua hari tidak datang,” tanya Sandra sambil meletakkan bekalnya di meja.
“Ada Ma, aku sedikit merasakan pegal di pinggangku, jadi nggak bisa duduk terlalu lama, makanya kemarin Kemal tidak mengizinkanku keluar,” jelas Cinderella.
__ADS_1
“Duduk sini biar Mama bantu mijit pinggangmu!” perintah Sandra sambil menepuk sofa di sampingnya.
“Kamu juga ke sini Mal, biar tau jangan cuma bisanya bikin doang!” ucap Sandra meminta Kemal untuk mendekat. Kemal terkekeh sambil berjalan mendekat ke arah Sandra. Dia memperhatikan tangan Sandra yang tengah memijit pinggang dan punggung Cinderella.
“Mal, Cici ini hamil anak kembar jadi perhatian dan perawatannya harus ekstra, apalagi nanti usia 6 bulan ke atas pasti nafsu makannya akan bertambah, jadi kamu jangan heran jika tubuhnya seperti gajah bengkak,” ucap Sandra yang membuat Kemal tertawa keras. Tapi dia segera menghentikannya saat Cinderella menatapnya tajam.
“Iya Ma, aku ngerti kok, lucu dong ya ..., ntar kamu jadi kaya kulkas dua pintu Ndut,” ucap Kemal yang kembali bercanda. Cinderella langsung mencubit lengan Kemal. Membuat Kemal mengaduh kesakitan.
“Sini kita makan sama-sama, tadi Mama bawain rendang kesukaanmu,” ucap Sandra pada anaknya.
“Bawa rujak nggak Ma?” tanya Kemal yang tengah merindukan rujak buatan Sandra.
“Bawa dong Mama kan tau jika kalian akan datang,” ucap Sandra sambil membukakan rujak untuk Kemal.
“Suap dong!” perintahnya pada Cinderella.
“Makan sendiri, itu tangan buat apa?” ketus Cinderella yang sudah menikmati nasi beserta rendang buatan Sandra.
“Ci ...,” panggil Sandra mengingatkan Cinderella.
“Iya, kamu duduk sini!” perintahnya pada Kemal. Sandra melirik ke arah suaminya, sambil tersenyum tipis, karena sejak tadi melihat kelakuan putri dan menantunya yang masih perlu bimbingan.
Hari ini Kemal menyadari, kenapa Bramana begitu menyayangi Cinderella, dan kenapa Bramana begitu sulit melepaskan putri semata wayangnya, itu karena dia dulu sulit juga untuk mendapatkan seorang wanita di depannya ini, wanita yang menjadi istrinya, wanita yang akan menemaninya sampai akhir hidup, yaitu wanita yang bernama Cinderella Zaina Wijaya.
.
.
.
TBC
__ADS_1