
Happy reading, maaf ya beberapa hari absen, baca juga novel saya satunya ya.
.
.
.
Saat berada di mobil, Kemal terus menggenggam tangan Cinderella, pandangannya masih fokus ke arah jalan rumah sakit, rencananya dia akan bermalam di sana, menemani kedua orangtua istrinya.
Sampai di rumah sakit, mereka berjalan bergandengan, tanpa rasa takut jika ada paparazi yang mengambil fotonya. Para perawat terdengar berbisik-bisik membicarakan mereka berdua, ntah apa yang dibicarakan, sepertinya mereka iri dengan kehidupan Cinderella yang berhasil mendapatkan pria idaman di sampingnya.
Kemal yang menyadari jika istrinya dibicarakan orang, dia semakin posesif memeluk erat pinggang istrinya.
“Jangan dengarkan mereka, anggap saja angin lalu,” bisik Kemal yang berjalan bersama Cinderella.
Saat melewati ruang tunggu apotek, dengan sengaja ada wanita muda yang mendorong tubuh Cinderella, membuat Cinderella jatuh ke lantai.
“Aw ....” terdengar suara Cinderella merintih kesakitan.
“Kamu nggak papa?” tanya Kemal yang panik mendengar suara Cinderella.
“Sakit Mal.” Cinderella menarik tangan Kemal yang hendak mengejar orang yang mendorongnya.
“Bagaimana? Apa yang harus lakukan?” tanya Kemal yang kebingungan.
“Bawa aku duduk dulu, perutku sedikit kram!” perintah Cinderella. Kemal segera menggendong tubuh Cinderella dan mendudukkannya di kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Apa yang kamu rasakan? Di mana yang sakit?” tanya Kemal di tengah rasa paniknya.
“Panggilkan Dokter kandungan sepertinya kita akan kehilangan anak kita,” ucap Cinderella yang sudah menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Nggak itu nggak boleh terjadi, aku menyayangi mereka, itu tidak boleh terjadi,” ucap Kemal sambil memegang perut Cinderella, dia lalu berlari untuk mencari dokter kandungan untuk Cinderella.
Cukup lama Cinderella menunggu di kursi, menahan rasa sakit pada perutnya, hingga perlahan kesadarannya mulai menurun.
Kemal yang baru tiba, langsung membawa Cinderella ke ruang IGD, kehamilan istrinya baru lima bulan, itu masih terlalu rawan bila Cinderella terjatuh. Apalagi dengan kondisinya yang mengandung anak kembar.
__ADS_1
Dokter yang memeriksa sudah keluar dari ruangan, membuat Kemal menghela nafas lega.
“Katakan, apa yang terjadi!” perintah Kemal.
“Kandungannya baik-baik saja, tapi istri Anda jangan banyak bergerak dulu, takutnya nanti akan menimbulkan kontraksi lagi, jaga istri Anda supaya tidak terjatuh lagi, jika itu terjadi, kemungkinan besar Anda akan kehilangan anak yang istri Anda kandung,” jelas dokter yang membuat Kemal mengepalkan jemari tangannya.
Kemal memikirkan siapa orang yang sengaja menjatuhkan istrinya tadi, hingga membuat kondisinya seperti ini. Dia lalu meraih ponselnya meminta Billy untuk menyelidiki melalui rekaman cctv di rumah sakit.
Kemal segera masuk ke ruang IGD setelah menutup teleponnya. Dia mendekat ke arah Cinderella yang terlelap di atas ranjang rumah sakit. Tangannya terulur menyentuh pipi istrinya.
“Jangan khawatir semua akan baik-baik saja,” ucapnya yang sudah duduk di tepi ranjang.
Dia lalu meminta perawat untuk menyediakan kamar untuk istrinya. Rencananya untuk menemani mertuanya menginap harus berakhir dengan dia menjaga istrinya. Dia sengaja tidak memberitahukan mertuanya karena tidak ingin membebani mereka dengan melihat kondisi Cinderella yang seperti ini.
Semalaman Kemal terjaga, menunggu Cinderella bangun, tapi yang ada istrinya itu tertidur hingga pagi. Kemal memperhatikan Cinderella yang tengah meregangkan tubuhnya.
“Sudah bangun?” tanya Kemal berjalan mendekat ke arah Cinderella.
Cinderella yang baru sadar reflek meraba perutnya.
“Iya, mereka baik-baik saja, jangan khawatir,” jelas Kemal yang sudah mengusap perut Cinderella.
“Mama tahu nggak, aku di sini.” Kemal menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Aku takut mereka khawatir dengan kondisimu jadi aku hanya bilang, jika kamu tidak enak badan dan tidak bisa datang ke rumah sakit,” jelas Kemal.
Cinderella menurunkan kakinya hendak turun dari ranjang. Namun, belum sampai kakinya menginjak lantai suara bentakkan Kemal memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar itu.
“Mau ngapain kamu!” bentak Kemal.
“Aku mau ke toilet,” jawab Cinderella dengan masih meneruskan niatnya.
“Dokter bilang kamu nggak boleh bergerak, itu bahaya untuk anak kita, bisakah kamu menurut saja!” maki Kemal mematap tajam ke arah Cinderella. Cinderella hanya bisa membuang nafasnya karena suara bentakkan Kemal.
“Tunggulah di sini, aku akan meminta diapers pada perawat, kenapa juga mereka tidak memasangkan kateter!” gerutu Kemal yang hendak beranjak dari tempat duduknya.
“Jangan gila kamu Bung! Aku nggak mau pakai diapers, sini kamu gendong aku saja!” Kemal langsung menghentikan langkahnya menoleh ke arah Cinderella. Dengan tersenyum dia mendekat ke arah Cinderella. Dia mengangkat tubuh Cinderella dan dibawa tubuh Cinderella ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
“Apa mau aku mandikan sekalian? Tubuhmu sepertinya sudah lengket,” tawar Kemal yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.
Cinderella segera meminta Kemal untuk segera keluar dari kamar mandi, karena merasa tidak nyaman jika Kemal berada di sana.
“Panggil ‘Sayang’ jika kamu sudah selesai, aku akan mengangkatmu,” ucap Kemal sambil tersenyum smirk. Berbeda dengan Cinderella yang masih enggan menampilkan senyum manisnya.
Setelah selesai, Cinderella segera berjalan keluar dari kamar mandi, tanpa menghiraukan permintaan Kemal yang memintanya untuk datang.
“Nah, kan! Kenapa bandel sih ... Dokter bilang kamu tidak boleh bergerak, emang kamu mau mencelakai anak kita!” maki Kemal saat Cinderella berjalan pelan ke arah ranjangnya.
“Tenangkan dirimu, aku akan baik-baik saja.” Billy yang sudah datang hanya bisa memperhatikan kelakuan pasustri yang sedang dimabuk asmara itu.
Billy datang sudah sekitar sepuluh menit yang lalu, dia hendak melaporkan bahwa benar ada orang yang dengan sengaja ingin mencelakai istri dari bosnya itu. Tapi saat dia akan memgatakannya pada Kemal. Kemal justru beranjak pergi memaki Cinderella.
“Kamu keluarlah! Pergi ke kantor sana!”
“Bos, tapi....”
“Sudah! Aku mau menjaga istriku dulu, dia lebih penting dari apapun yang ada di dunia ini,” ucap Kemal yang diangguki oleh Billy.
“Oke aku akan bicara nanti lewat telepon, dan bos juga harus memastikan segera apa yang harus kita lakukan,” jelas Billy lalu beranjak meninggalkan kamar Cinderella.
Kemal menyelimuti kaki Cinderella yang tengah duduk di ranjang, dia sudah membawa bubur di tangannya, bersiap untuk menyuapi istrinya.
“Mal ...! Kenapa kamu jadi over protektif begini?”
“Kamu nggak lihat kemarin ada yang mencelakaimu, aku nggak akan terima jika terjadi sesuatu dengan kalian,” jelas Kemal sambil menyuapkan makanan rumah sakit ke mulut Cinderella.
Cinderella merasa bahagia saat mendengar ucapan Kemal, dia bahagia karena dibalik sifat Kemal yang dulunya pemain wanita, Kemal ternyata juga bisa mencintainya sedalam dirinya mencintai Kemal.
.
.
.
TBC
__ADS_1