CINDERELLA GENDUT

CINDERELLA GENDUT
Diusir


__ADS_3

Ya Tuhan..., berarti mereka sudah tau jika aku sedang hamil. Ucap Cinderella dalam hati.


“Maksud Papa apa?” tanya Cinderella saat mendengar kata perceraian, pasangan itupun kaget saat Cinderella tiba-tiba bersuara.


“Ci..., kamu sudah bangun?” tanya Bramana berjalan ke arah Cinderella.


“Jelaskan Pa!” perintah Cinderella yang penasaran dengan ucapan Bramana.


“Iya Papa menginginkanmu berpisah dengan Kemal setelah mendengar kejadian yang sebenarnya terjadi padamu,” jelas Bramana sambil menatap wajah putrinya.


Cinderella diam sejenak, mencerna baik-baik ucapan papanya, dia hanya berpikir bagaimana nasib anaknya jika dia berpisah dengan Kemal, dia tidak mau egois dengan membiarkan anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang papa di sampingnya.


“Apa Papa bisa lega jika sudah berhasil memisahkan aku dengan Kemal, jika Papa merasa puas dan bahagia lakukan saja,” ucap Cinderella sambil menyeka air matanya.


“Mana ada orangtua yang ingin melihat anaknya menderita, kamu satu-satunya harta Papa, dari kecil Papa selalu menyayangimu, tapi Papa rela menyerahkanmu pada Kemal, tapi yang ada apa! Dia justru menyakitimu!” ucap Bramana sambil duduk di kursi samping brankar.


“Sama seperti yang lain Pa, Cici juga ingin menikah sekali seumur hidup, tapi jika Papa sudah mengambil keputusan seperti itu, aku akan menurutinya, membiarkan anak Cici lahir tanpa seorang Papa di sampingnga,” ucap Cinderella yang masih menangis. Sandra yang melihat Cinderella sesenggukkan segera mendekat ke arahnya, memeluk tubuh Cinderella agar sedikit lebih tenang.


“Tenanglah Sayang, kasihan bayi kembarmu jika kamu terlalu stres!”


“Kembar?” tanya Cinderella.


“Iya, kamu mengandung bayi kembar jadi harus lebih hati-hati, Mama akan merawatmu saat nanti di rumah,” jelas Sandra sambil tersenyum ke arah Cinderella.


“Maafkan Cici, Ma. Cici nggak bisa jaga diri,” ucap Cinderella yang masih dalam pelukan erat Sandra.


“Sudahlah semua sudah berlalu, dan Revan juga sudah menceritakan semuanya pada Mama dan Papa,” sahut Bramana yang sudah berpindah duduk di tepian ranjang sambil memijit kaki Cinderella.


“Kita akan merawat sama-sama bayimu, kamu tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja sampai waktunya kamu melahirkan,” lanjut Bramana.

__ADS_1


“Dan kita akan jadi Opa dan Oma yang terbaik untuk bayimu.” Cinderella menangis saat mendengar ucapan Sandra, dia pikir setelah mengetahui jika dirinya tengah hamil mereka akan memintanya untuk aborsi.


“Istirahatlah, biar bayimu dan kamu cepat sehat, biar besok kita bisa pulang,” perintah Sandra sambil melepaskan pelukkannya. Sandra pelan-pelan menidurkan dan menyelimuti tubuh Cinderella, lalu mengusap rambut putrinya, dia hendak pergi meninggalkan ranjang Cinderella tapi tangannya di tahan oleh Cinderella.


“Mama tidurlah di sini, aku ingin dipeluk Mama,” ucap Cinderella sambil tersenyum tipis.


“Dasar anak manja, sudah mau punya anak juga!” cibir Sandra sambil merebahkan tubuhnya di samping Cinderella lalu memeluk anak kesayangannya itu.


Cinderella memeluk erat Sandra, seperti menyalurkan rasa sedih yang tengah dia rasakan, beruntungnya dia tidak menetaskan airmatanya.


Mungkinkah ini jalan terbaik untukku dan Kemal, bahkan usia perkawinanku baru satu minggu berjalan, tapi kenapa banyak sekali cobaan yang harus aku lalui. Ucap Cinderella dalam hati.


***


Keesokkan harinya, Cinderella terbangun lebih siang dari biasanya, jam 9 pagi dia baru akan memulai sarapan, kedua orangtuanya masih setia menunggu di kursi sofa, mereka tengah asyik berbincang dengan Revan, entah apa yang mereka bicarakan tapi samar-samar dia mendengar bahwa dia tidak di perbolehkan untuk pergi ke kantor.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Bramana menghadang Kemal untuk bertemu Cinderella.


“Sa-saya cuma mau minta maaf dengan istri saya,” ucap Kemal dengan gugup.


“Aku kan sudah bilang, jangan menganggu keluargaku lagi, apa kamu tuli!” teriak Bramana sambil memegang dadanya. Cinderella yang melihat papanya seperti itu langsung turun dari ranjang sambil membawa tiang infus.


“Pa sudah..., ingat Papa baru sembuh dari sakit,” ucap Cinderella sambil memapah papanya.


“Dan kamu! Pergilah dari sini, aku tidak ingin bertemu denganmu,” ucap Cinderella pada Kemal.


“Tapi Ci...,”


“Pergilah!” teriak Cinderella yang tidak ingin juga Kemal berada di ruangan itu.

__ADS_1


Kemal lalu meninggalkan boneka dan bunganya itu di atas sofa, dia segera meninggalkan ruangan Cinderella, hatinya juga sakit mendengar istrinya berkata seperti itu.


Setelah mendudukkan papanya dia langsung kembali ke brankar, menidurkan kembali tubuhnya, sambil memejamkan mata. Cinderella lalu menarik selimut hingga ujung rambutnya, menangis tanpa suara di bawah selimut tebal itu.


Sandra yang baru selesai mandi, bertanya-tanya pada suaminya apa yang sebenarnya terjadi, karena dia mendengar suara teriakan Cinderella dari dalam kamar mandi.


“Tenangkan putrimu!” bisik Bramana yang mengetahui Cinderella manangis di bawah sana. Sandra berjalan mendekat ke arah Cinderella, mencoba mengusap punggung anaknya.


“Semua akan baik-baik saja,” ucap Sandra yang ingin membuka selimut Cinderella, tapi Cinderella menahannya.


Akhirnya tangis Cinderella semakin pecah, mengingat perlakuannya sendiri terhadap Kemal, apalagi mengingat tadi wajah Kemal yang terlihat masih terdapat banyak lebam, ingin sekali rasanya dia mengobati luka itu, tapi keadaan harus memaksanya untuk berpura-pura jahat pada suaminya sendiri. Mau bagaimanapun juga ada ikatan batin antara anak yang dikandungnya dengan Kemal, jadi mana tega dia berbuat kasar pada papa dari anak-anaknya, terlebih Kemal belum mengetahui jika dia mengandung bayi kembar.


“Ingat ya! Jangan sampai kenapa-kenapa dengan cucuku, kalau sampai terjadi sesuatu Mama dan Papa akan menyalahkanmu,” ucap Sandra yang melihat Cinderella masih menangis. Cinderella yang mendengar itu berusaha menghentikan dan mengusap airmatanya.


Setelah tenang Cinderella lalu membuka selimutnya, menatap Sandra yang duduk di kursi samping brankar.


“Cici mau pulang,” ucapnya singkat.


“Pulang! Pulang kemana?” tanya Sandra.


“Aku mau pulang ke apartemen, aku mau memberi kesempatan sekali lagi pada Kemal.” Mata Sandra melotot sempurna saat mendengar penuturan Cinderella, dan Bramana sudah berlari mendekat ke arah brankar Cinderella untuk memastikan kebenaran ucapan Cinderella yang ingin tetap berada di samping Kemal.


.


.


.


Segini dulu ya, jangan lupa untuk vote dan like.👍😊

__ADS_1


__ADS_2