CINDERELLA GENDUT

CINDERELLA GENDUT
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Hari ini Kemal mengantarkan jadwal Cinderella untuk cek up kandungan, dia bahkan merelakan untuk tidak pergi ke kantor hanya demi istrinya, perut Cinderella sudah seperti balon besar yang siap meletus, semua badannya melebar, bahkan kakinya sudah kembali seperti dulu, membesar seperti kaki gajah, tapi Kemal bisa mengerti, itu juga karena dia sedang mengandung sepasang anaknya.


Pagi ini Kemal bangun lebih dulu, dia memeluk tubuh Cinderella yang berlapis lemak itu, tapi dia tidak merasa jijik seperti saat pertemuan pertamanya dulu.


“Bung ..., kakiku pegal, bisakah kamu memijitnya?” tanya Cinderella yang sebenarnya perintah yang tidak bisa Kemal bantah.


“Baiklah permaisuriku, dayangmu ini akan memijatnya,” ucap Kemal, dia langsung duduk dan meletakkan tangannya di kaki Cinderella. Cinderella tersenyum senang saat mendengar panggilan baru untuknya.


Cukup lama Kemal memijit kaki Cinderella, hingga jam di dinding menunjukkan pukul 9 pagi, itu artinya jadwal berkunjung ke dokter semakin dekat, Kemal yang tidak sabar ingin melihat wajah anaknya, segera meminta Cinderella untuk mandi. Dia mengikuti langkah kaki Cinderella yang berjalan ke arah kamar mandi, dia takut jika istrinya itu akan terjatuh atau terpeleset ketika sedang mandi.


“Mal, can you help me?” tanya Cinderella menatap ke arah Kemal


“Kenapa? Apa yang kamu butuhkan, hum?”


“Bantuin aku motong kuku kakiku, perutku menghalangi, jadi aku tidak bisa menunduk,” jelas Cinderella sambil duduk di closed kamar mandi. Kemal tersenyum ke arahnya, lalu pergi untuk mengambil potongan kuku di laci meja kamarnya.


Kemal kembali ke kamar mandi lalu berjongkok di depan Cinderella. Dia meletakkan kaki Cinderella di pangkuanya, mulai memotong kuku kaki Cinderella dengan pelan.


“Kenapa nggak ke salon saja? Suamimu ini kaya, jika hanya untuk pergi ke sana setiap hari uangku masih akan tersisa banyak.” Kemal mengomel tidak jelas saat memotong kuku Cinderella.


“Aku punya suami, jadi buag apa juga ke salon, lagian aku malu jika kaki gajahku ini dilihat oleh orang lain,” jelas Cinderella. Membuat Kemal menatap ke arahnya.


Cukup lama dia memperhatikan wajah Cinderella, Kemal lalu berkata, “Maaf ya gara-gara si kembar kamu harus menahan untuk tidak pergi ke salon.”


“Apaan sih, jangan baper gitu deh ..., ayo kita siap-siap!” ucap Cinderella yang melihat Kemal sudah menyelesaikan kegiatannya.


“Ayo kita mandi bareng saja, biar cepat selesai,” ajak Kemal sambil melepaskan baju atasnya. Cinderella menatap tubuh Kemal yang masih terlihat bagus, dia kesusahan menahan untuk tidak menyentuh tubuh Kemal, tapi dia juga tidak sanggup untuk melayani suaminya.

__ADS_1


“Jangan macam-macam ya!” peringat Cinderella.


“Oke ..., aku janji tidak akan melakukannya, aku tidak tega melihatmu seperti ini,” jelas Kemal yang mengusap perut Cinderella, tangan kananya terulur untuk menyalakan kran air shower. Dia mulai mengambil sabun mandi dan mengoleskan pada tubuh Cinderella.


“Kamu juga bisa seromantis dan seperhatian ini denganku,” sindir Cinderella.


“Iyalah, karena aku mencintaimu, apapun akan aku lakukan demi kamu,” jelas Kemal, lalu mengambil handuk Cinderella dan mengenakannya ke tubuh istrinya.


“Mau ku gendong?” tawar Kemal.


“Nggak perlu, nanti aku akan terjatuh karena tubuhku terlalu berat,” ucap Cinderella yang berjalan mendahului Kemal.


Satu jam kemudian.


Kemal dan Cinderella tengah menunggu gilirannya untuk masuk ke ruang spesialis kandungan. Cinderella tidak ingin Kemal mengeluarkan uang lebih hanya karena ingin mendapatkan giliran lebih cepat. Dia harus menghargai juga orang yang sudah lama duduk di ruang tunggu. Kemal melirik ke arah Cinderella sambil melirik ke arah perut Cinderella yang tengah bergerak karena tendangan anaknya. Tangannya terulur mengusap gerakkan anaknya yang semakin terasa keras.


“Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya lahir di dunia, pasti dia akan setampan aku, dan secantik kamu, dan mungkin juga mereka akan punya lesung pipi sepertimu, membuatnya akan terlihat sangat manis,” bisik Kemal di telinga Cinderella.


“Lebih tampan aku dari pada mereka!” ucap Kemal yang sudah tidak berbisik lagi, bahkan suaranya bisa didengar oleh orang sekitarnya. Beruntungnya, nama Cinderella di panggil oleh perawat jaga jadi dia tidak akan lama duduk di ruang tunggu. Kemal membantu Cinderella berdiri, menuntun langkah kakinya memasuki ruangan dokter wanita langgananya.


Dokter wanita itu segera memeriksa kondisi janin Cinderella, kedua bayinya sehat, paru-parunya juga sudah bekerja dengan baik, berat badan bayi sudah 2000 gram, tapi dokter wanita itu berkata, plasenta Cinderella mengalami pengapuran, jika ini dibiarkan hingga usia kehamilan 9 bulan, akan sangat berbahaya untuk anak dan ibunya.


Kemal segera bertindak, dia tidak ingin terjadi hal buruk dengan orang yang dicintainya. Dia memutuskan untuk melakukan operasi cessar demi menyelamatkan ketiganya.


Kemal yang sudah panik, mulai menghubungi mertua dan kedua orangtuanya, mengabarkan kondisi Cinderella yang akan melahirkan sekarang juga. Beruntungnya seminggu yang lalu Billy sudah membelikan baju bayi yang banyak, meski banyak juga yang belum dicuci.


Kedua orangtuanya datang, mencoba menenangkan Cinderella yang menangis karena sebenarnya ingin melahirkan anaknya dengan proses normal.


“Sudahlah Ci ..., mau normal ataupun cessar itu sama saja, yang penting semua lahir dengan selamat ibunya juga sehat,” jelas Martha sambil mengusap lengan Cinderella.

__ADS_1


“Tapi aku sedikit takut Ma, aku takut jika ada di antara kami yang tidak selamat.”


“Ngomong apasih kamu, kalian akan selamat, aku akan menemanimu di ruang operasi nanti, jangan takut,” ucap Kemal sambil memainkan telapak tangan Cinderella, dia berusaha menutupi rasa cemasnya saat berhadapan dengan istrinya.


“Kalian akan baik-baik saja,” jelas Kemal yang mendapat anggukan dari Cinderella.


Pintun ruangan terbuka, perawat datang diikuti Sandra dan Bramana di belakangnya.


“Sudah siap Nyonya Kemal?” tanya perawat wanita yang bari saja tiba. Cinderella menatap ke arah Kemal.


“Iya Sus, dia sudah siap, dan saya akan menemaninya,” sahut Kemal yang masih duduk di tepi brankar Cinderella.


“Bisa minta waktunya sebentar?” tanya Cinderella pada kedua perawat di depannya. Perawat itu mengangguk menyetujui permintaan Cinderella.


“Ma, Pa, Yah, Bun ..., maafkan Cici ya, jika Cici banyak salah kepada kalian, doain Cici supaya kami bertiga selamat, dan bisa berkumpul dengan kalian,” ucap Cinderella pelan sambil menundukkan kepalanya, menatap tangannya yang memegang tisu. Dia menatap ke arah Sandra, airmata Cinderella sekitika meluncur membasahi pipinya. Sandra memeluk anaknya dari samping, menenangkan Cinderella jika semua akan baik-baik saja. Kemal yang melihat drama di depanya awalnya bisa menahan tangisnya, tapi saat mendengar suara Cinderella yang menangis semakin keras, tanpa dia sadari airmatanya ikut meluncur membasahi pipinya.


Cinderella menoleh ke arah Kemal yang tengah mengusap airmatanya. Dia terus menatap mata Kemal sampai melihat Kemal membalas tatapannya.


“Aku ingin bicara dengan Kemal sebentar saja, bisakah kalian meninggalkan aku?” ucap Cinderella, semua orang terlihat berjalan keluar saat mendengar ucapan Cinderella, termasuk perawat yang tadi baru saja masuk. Suasana menjadi sepi, hanya terdengar suara hidung menarik ingusnya.


“Bung!” panggil Cinderella.


“Bolehkah aku memelukmu?” Kemal langsung memeluk erat Cinderella.


“Doakan aku ya, supaya aku berhasil melahirkan anakmu, aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” ucap Cinderella. Kemal menganggukan kepalanya karena tidak bisa lagi berucap.


“Ingat ya Mal, aku mencintaimu.” Kemal tersenyum senang saat mendengar ucapan cinta Cinderella. Dia lalu meminta perawat masuk, untuk mendorong brankar Cinderella memasuki ruang operasi. Kemal terus menggenggam tangan Cinderella ketika lampu operasi mulai dinyalakan.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2