CINDERELLA GENDUT

CINDERELLA GENDUT
Hitam atau Merah


__ADS_3

Lanjut ya...


.


.


.


Malam pertama Kemal berada di Sumba, Cinderella merasa kurang nyaman, berulang kali dia terbagun, tapi setiap melihat jam di dinding hanya selisih 1 jam dari tadi dia terbangun sebelumnya.


“Kapan paginya sih...,” ucapnya karena jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Semalam Kemal tidak meneleponnya, dia hanya mengirimkan melalui pesan singkat saja, Cinderella paham dengan kesibukkan Kemal, jadi dia tidak ingin menganggu Kemal.


Pagi datang, Cinderella bangun kesiangan, karena semalam tidurnya tidak nyenyak, dia melihat ke layar ponselnya, terdapat 5 x panggilan tidak terjawab.


“Bodohnya aku, kenapa juga aku silent!” gerutunya memaki dirinya sendiri.


Dia berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dan, setelah itu dia turun ke bawah untuk membantu Sandra memasak, tapi yang ada di meja makan Papa dan Mamanya sudah menyelesaikan sarapannya.


“Sudah bangun kamu Sayang? Tadi Kemal menelopn Mama, nanyain kamu, Mama bilang saja kamu masih tidur.” Sandra menyerahkan roti sandich ke piring Cinderella. Cinderella masih cemberut kecewa karena melewatkan telepon dari Kemal.


Sandra yang melihat tingkah Cinderella hanya berdehem kecil.


“Nih..., Pa... sepertinya anak kita sedang stres menahan rindu,” ucap Sandra menggoda Cinderella.


“Lagian kamu suami telepon nggak diangkat.” Sandra menatap wajah Cinderella.


“Aku kan masih tidur Ma, dan hp tadi juga aku silent, jadi terlewat teleponnya,” ucap Cinderella.


Setelah menyelesaikan sarapannya dia kembali masuk ke kamar, menunggu siapa tau ada telepon dari Kemal. Dia berjalan mengelilingi kamar, menoleh jam yang seolah berhenti bergerak.


“Ajak Mama jalan-jalan sajalah dari pada di suntuk,” dia lalu meraih ponselnya dan menelepon Sandra.


“Ma..., kita belanja yuk, bosen aku di rumah terus,” ucap Cinderella saat Sandra berada di lantai bawah, Sandra membuang nafasnya kasar.


“Oke..., baiklah.” Cinderella segera menutup telepon Sandra lalu bersiap mencari baju yang pas supaya kehamilannya tidak diketahui orang lain.


“Mau ditutupi serapat apapun nantinya juga bakal ketahuan,” lirihnya sambil menatap perutnya yang sudah sedikit membuncit karena membawa dua bayi di perutnya.


Satu jam kemudian Cinderella dan Sandra sudah berada di salah satu mall ternama di kota Jakarta, mereka mengambil semua barang keinginannya, apalagi Cinderella yang mulai kalap mengambil baju-baju yang belum tentu muat di tubuhnya.


“Nggak kamu cobain dulu ini? Takutnya nggak muat,” ucap Sandra memperingatkan Cinderella.


“Nggak papa buat nanti kalau tubuhku kurus lagi,” jawab Cinderella sambil mengambil baju yang menurutnya bagus. Tidak lama mamanya mengajaknya ke area lingrie, Sandra antusias sekali saat melihat baju wanita yang wajib di miliki perempuan itu. Dia pun mengambil lingrie untuknya sendiri, yang menurutnya sopan karena dia juga ingat umur yang sudah akan menjadi nenek itu. Dia lalu menegur Cinderella untuk segera mengambil lingrie itu.

__ADS_1


“Kenapa nggak ambil?”


“Buat apa juga aku ngambil seperti ini, tidak sopan.”


“Jangan terlalu polos begitu, ini supaya suamimu betah di rumah,” bisik Sandra di telinga Cinderella. Cinderella mengerucutkan bibirnya. Sambil melihat lingrie yang menurutnya pas di tubuhnya.


“Bagus hitam atau merah,” tanya Cinderella pada Sandra Sambil menunjukan lingrie yang dia bawa.


“Merah dipakai senin, hitam dipakai selasa,” jawab Sandra.


“Emang cocok ya Ma, aku pakai ini?”


“Cocok..., ambil lagi sana!” perintah Sandra yang masih memilih lingrie untuk dirinya sendiri.


Hampir lima jam mereka berdua berada di mall itu, belanjaan juga diperkirakan akan memenuhi mobil, Cinderella juga sudah mengeluh pegal di pinggangnya. Sandra yang mengerti keluhan Cinderella segera mengajaknya untuk pulang ke rumah.


Saat malam tiba Cinderella membatalkan niatnya untuk tidur, karena mendengar suara dering ponselnya. Dengan semangat dia mengangkat panggilan suara dari Kemal.


“Hallo...,” ucap Cinderella ketika panggilan terhubung.


“Hallo Nyonya Kemal..., lagi ngapain?” tanya Kemal yang baru saja masuk ke kamar hotelnya.


“Nggak ngapa-ngapain.”


“Hanya ingin mendengar suaramu saja!”


“Sudah dengar kan? Kamu tutup saja teleponnya!” perintah Cinderella.


“Apa kamu tidak merindukanku Nyonya Kemal?” Cinderella diam saat mendengar pertanyaan Kemal.


“Aku sangat merindukkanmu Mal, bahkan aku tidak bisa tidur dengan baik semalam.” Ingin sekali Cinderella berkata seperti itu, tapi dia terlalu gengsi. Dia hanya mampu berucap, “Nggak, kamu pergi juga baru kemarin.”


Kemal yang berada di ujung telepon, kecewa dengan jawaban istrinya, padahal dia ingin segera pulang dan memeluk istrinya itu. Bahkan saat acara gladi resik tadi fikirannya terus ke bayangan Cinderella. Apalagi saat ketua suku yang dia temui dulu bertemu dengannya, dia terus menanyakan keberadaan istrinya, bayangan Cinderella tiba-tiba muncul begitu saja.


“Baiklah sepertinya, aku akan menganggu waktu istirahatmu jika terlalu lama menelepon,” ucap Kemal dengan suara serak.


“Emmm..., iya aku juga sudah mengantuk,” ucap Cinderella sambil berpura-pura menguapkan bibirnya.


“Bye...” ucap Kemal.


“Bye...bye,” balas Cinderella dengan nada sedikit kecewa, karena dia sebenarnya masih ingin mendengar suara Kemal.


Mereka berkomunikasi seperti itu setiap hari, saat menjelang tidur, Kemal yang selalu menelepon Cinderella setiap hari. Jika dia punya waktu senggang siangnya, dia akan mengirim pesan pada Cinderella.

__ADS_1


Peresmian resort berjalan lancar malam ini, kerena terlalu malam acara pembukaan itu selesai, dia hanya mengirimkan pesan pada Cinderella. Dia sudah berada di Sumba 5 hari, harusnya dia akan pulang 2 hari lagi. Pukul 11 malam Kemal melihat Cinderella yang masih online via whatssap. Dengan isengnya Kemal menekan tombol vidio call dengan Cinderella.


Cinderella mengernyit saat melihat layar ponselnya, bahwa Kemal memanggilnya melalui vidio call tapi tangannya segera menggeser tombol hijau yang ada di layarnya.


“Hay...” ucapnya yang membuat Kemal kaget karena wajah Cinderella memenuhi layar ponselnya.


“Belum tidur? Sudah jam 11 malam di sana,” ucap Kemal yang sudah duduk di tepi ranjang. Cinderella lalu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang, membuat Kemal tersenyum melihat pakaian yang Cinderella kenakan.


“Sejak kapan kamu suka baju seperti itu saat tidur,” ucap Kemal saat melihat Cinderella memakai lingrie bewarna hitam. Cinderella yang sadar segera meraih selimutnya, berusaha menutup tubuhnya dengan selimut.


“Kenapa? Apa kamu malu?” tanya Kemal menggoda istrinya. Dia lalu tertawa keras saat melihat ekspresi Cinderella yang menggemaskan. Lesung pipinya dia sembunyikan di balik pipi cemberutnya.


“Lusa aku akan pulang, apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku,” ucap Kemal.


“Aku akan menjemputmu di bandara,” ucap Cinderella pada suaminya.


“Benarkah? Katakan pada Papa mertua jika aku akan mengajakmu pergi ke apartemen untuk semalam saja,” ucap Kemal sambil mematap wajah yang dia rindukan itu. Cinderella hanya mengangguk, karena dia juga ingin membicarakan hal penting pada suaminya. Kemal segera berpamitan saat Cinderella sudah mulai menguap.


“Tidurlah besok pagi aku akan membangunkanmu!” perintah Kemal pada Cinderella. Kemal lalu berpamitan dan segera mematikan ponselnya.


Sedangkan Cinderella, sudah merebahkan tubuhnya, memikirkan pertemuan pertamanya nanti dengan Kemal. Dia sudah membayangkan ingin memberikan ciuman seperti saat di wardrobe kemarin, bahkan dia selalu senyum-senyum sendiri jika masuk ke dalam ruangan itu, mengingat dia juga merespon ciuman Kemal. Dia menyentuh bibirnya sendiri sambil tersemnyum menatap langit-langit kamarnya.


“Aku rindu kamu, Mal cepat pulang.”


Di Sumba.


Kemal segera merebahkan tubuhnya setelah menutup telepon, dia membayangkan wajah lucu Cinderella tadi, dia juga membayangkan Cinderella tengah memakai baju yang tadi dia pakai dan duduk di sampingnya. Kemal terkekeh saat membayangkan Cinderella yang seolah-olah tengah menggodanya, apalagi bicara jika dia akan menjemputnya, sudah di pastikan jika istrinya itu sudah sangat merindukannya.


“Aku akan segera pulang,” ucap Kemal sebelum matanya semakin terpejam.


.


.


.


.


Next part mereka berdua bertemu...😜


Jangan lupa untuk like dan vote ya...


Komentar positif, saran dan kritik juga boleh.👍

__ADS_1


__ADS_2