
Lanjut ya... happy reading👍😊
.
.
.
“Mana yang perih? Sini biar aku kasih obat!” tanya Kemal yang sudah membuka salep yang baru saja di antarkan Billy.
Dia mendekat ke arah Cinderella, meminta Cinderella menunjukkan area yang dirasakan perih. Cinderella menatap tajam ke arah Kemal, saat Kemal sudah berlutut di depannya. Kemal hendak membuka lebar kaki Cinderella, tapi yang ada istrinya mendaratkan tamparan di punggung tangannya.
“Kenapa?” tanya Kemal yang heran dengan sikap Cinderella, karena salepnya sudah terlempar jauh di kolong ranjang.
“Kenapa, kenapa, mau nyari untung kamu ya..., aku bisa sendiri! Nggak perlu bantuanmu, ucap Cinderella dengan nada marah.
“Bagaimana kamu akan mengolesinya? Kamu bahkan tidak tau di mana lukamu, lagian memang kamu bisa menunduk dengan perut yang sebesar itu?” tanya Kemal sambil berdiri mencari salep yang tadi terlempar di bawah kolong.
“Tenanglah aku tidak akan melakukannya pagi ini, tapi tidak tahu jika kamu menggodaku,” lanjutnya Kemal sambil kembali berjalan ke arah Cinderella.
Cinderella merasakan tubuhnya sulit digerakkan saat Kemal kembali berjongkok di depannya. Kemal mengangkat kaki Cinderella dan meletakkannya di tepi sofa, lalu membuka kaki Cinderella dengan lebar.
“Mal!” teriak Cinderella, “Aku bisa sendiri,” lanjutnya yang mulai kesusahan mengatur nafasnya. Dia benar-benar akan malu jika Kemal melakukan hal itu padanya.
“Stttt..., diamlah, lihatlah anak kita mulai bergerak,” ucap Kemal setelah membuka kemejanya yang sedang dipakai Cinderella, dia bisa merasakan jika kedua anaknya itu tengah bergerak di dalam sana, karena merasa teralihkan Kemal lalu mengoleskan gel itu ke inti Cinderella sambil melirik Cinderella yang tengah mengusap perutnya.
“Sudah.”
“Apanya?”
“Terapinya,” ucap Kemal singkat sambil menaikkan celana Cinderella.
“Kamu habis ngapain Mal?”
“Ngasih gel ini, Ndut,” ucap Kemal sambil menunjukan salep di tangannya.
“Berarti kamu melihatnya dong?” tanya Cinderella yang sebenarnya sudah tau jawabannya.
“Ya jelas dong, bahkan aku sudah mencicipi rasanya,” jelas Kemal sambil tersenyum. Dia lalu duduk di samping Cinderella. Ikut mengusap perut Cinderella.
“Dia bergerak.” Kemal tersenyum lebar saat tangannya mendapatkan getaran lembut dari dalam perut Cinderella. Cinderella mengangguk sambil tersenyum ke arah Kemal.
“Ajaklah berbicara, mereka sudah bisa mendengarkan kita,” ucap Cinderella. Kemal yang mendegar itu langsung menurunkan kaki Cinderella, membuat Cinderella kaget karena kini pahanya sudah dipakai sebagai bantal oleh Kemal.
“Hai..., aku Daddymu, siapa nama kalian,” ucap Kemal di depan perut Cinderella.
“Bambang.” Cinderella menyahut ucapan Kemal sambil tertawa kecil.
“Jeleknya nama Bambang, lainnya dong, misalnya udin atau kalau nggak bejo saja, kan keren nanti nggak ada yang mau nyamain,” ucap Kemal dengan candaanya. Kemal lalu kembali mengusap perut Cinderella. Menempelkan telinganya di perut Cinderella. Dia bahagia bisa merasakan gerakkan dari calon anaknya.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong soal nama kamu sudah mengganti namaku di ponselmu belum?” tanya Kemal.
“Sudah dong...” Kemal tersenyum dia meraih ponselnya, karena penasaran nama apa yang istrinya pakai.
“Mana ponselmu,” tanya Kemal. Cinderella hanya memberikan jawaban dengan jari telunjuknya.
Bunyi suara dari ponsel Cinderella terdengar, Kemal menatap ponsel Cinderella, dengan wajah tertekuk.
“Apanya yang ganti?”
“Lihatlah baik-baik,” ucap Cinderella. Kemal yang tidak mengerti menyerahkan ponselnya ke tangan Cinderella.
“Ini bacanya apa?”
“Bunglon,” jawab Cinderella.
“Ini sama saja, ketika aku belum berangkat ke Sumba,” gerutu Kemal karena merasa kecewa.
“Beda, Bunglon yang itu kemarin tidak ada tanda cintanya.” Kemal merasa bahagia saat mendengar ucapan Cinderella meski panggilan namanya tidak setampan orangnya, tapi dia bahagia karena ada cinta di dalamnya.
“Sekarang kamu juga sudah mencintaiku, kan?” tanya Kemal yang membuat Cinderella malu untuk menatap wajahnya.
“Katakan Ndut,” ucap Kemal sambil mencubit pipi Cinderella.
“Apa kamu tadi bilang, enak saja ganti nama orang,” jelas Cinderella.
“Nih, “ tunjuk Kemal yang memperlihatkan layarnya ke depan Cinderella.
“Ini panggilan sayangku untukmu, biar lebih singkat aku akan memanggilmu ‘Gendut’” jelas Kemal sambil tertawa keras, “Gimana bagus kan?” lanjutnya.
“Dan aku akan tetep memanggilmu ‘Bunglon’, bagus kan Bung?” sahut Cinderella sambil tertawa, membuat Kemal bahagia karena bisa melihat lesung pipi istrinya.
“Apa itu juga panggilan sayang? Kalau benar aku akan rela jika kamu memanggilku seperti itu,” ucap Kemal yang sudah kembali tidur di pangkuan Cinderella.
Kemal berada di posisi seperti itu sangat lama, hingga membuat kaki Cinderella kram baru Kemal beranjak dari tidurnya, dia duduk di samping Cinderella, sambil memainkan ponsel Cinderella.
“Mama...” ucapnya lirih saat melihat layar ponsel istrinha, lalu segera menyerahkan ponsel ke tangan Cinderella. Cinderella langsung menerima dan menggeser tombol hijau di layar hpnya.
“Hallo Ma...,” sapa Cinderella.
“Hiks...,hiks...,hiks...Ci...,”
“Ma...Mama kenapa? Kok menagis...”
“Papa Ci..., Papa kambuh lagi penyakitnya...,” ucap Sandra
“Kok bisa? Mama sekarang di mana?” tanya Cinderella yang sudah mengeluarkan air matanya.
“Mama di rumah sakit Xxx, Ci. Kamu cepat ke sini,” ucap Sandra. Cinderella yang mendengar itu langsung mematikan teleponnya dan beranjak dari duduknya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Kemal sambil menahan tangan Cinderella.
“Papa...”
“Kenapa dengan Papa mertua?” tanya Kemal yang membawa Cinderella ke dalam pelukkannya, mencoba menenangkan istrinya yang tengah menangis.
“Papa, kena serangan jantung lagi, aku harus ke rumah sakit sekarang,” jelas Cinderella lalu melepaskan pelukkan Kemal.
“Ayo biar aku antar,” ucap Kemal yang juga menuju ruang pakaiannya.
Satu jam kemudian.
Kemal dan Cinderella berjalan memasuki rumah sakit terbaik di Jakarta, Cinderella sudah sangat khawatir dengan kondisi Bramana saat ini, dan Kemal sudah memainkan ponselnya, untuk menghubungi sekertarisnya supaya segera menyusul ke rumah sakit.
“Tenanglah semua akan baik-baik saja,” ucap Kemal yang berjalan cepat mengikuti langkah Cinderella.
“Ma...,” panggil Cinderella sambil memeluk wanita paruh baya yang tengah menangis itu.
“Apa yang terjadi, Ma?” tanya Kemal yang juga ikut penasaran, lantaran beberapa minggu ini dia melihat mertuanya yang sudah sehat.
“Kita..., kehilangan perusahaan Ci, Papamu syok dan jantungnya kambuh lagi,” jelas Sandra.
“Kenapa bisa seperti ini Ma, siapa yang melakukannya?” tanya Cinderella.
“Mama juga nggak paham Ci, saat Revan datang ke rumah, dia mengabarkan jika perusahaan sudah berpindah tangan ke Diandra Group,” jelas Jihan mengingat kedatangan Revan tadi pagi.
“Brengsek...!” umpat Kemal yang mulai emosi. Karena ketakutannya selama ini benar-benar terjadi.
“Semua akan kembali seperti semula, Mama dan kamu Ci, tenanglah, biar saya yang menyelesaikan masalah ini,” ucap Kemal sambil menenangkan istrinya yang juga sudah menangis.
“Aku pergi dulu ya...,” pamit Kemal pada mertua dan istrinya.
“Mal!” panggil Cinderella. Kemal yang akan berjalan menoleh ke arah Cinderella.
“Kamu hati-hati ya! jangan sampai terluka,” pesan Cinderella pada Kemal.
“Iya, kamu jaga anakku dan Mama mertua, akan akan pulang secepatnya,” pesan Kemal lalu mendaratkan ciumannya di dahi Cinderella dan segera pergi meninggalkan rumah sakit.
.
.
.
TBC.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa untuk like ya..👍🙏