CINDERELLA GENDUT

CINDERELLA GENDUT
Ulangi Lagi!


__ADS_3

Demi menuruti keinginan istrinya, Kemal rela berjalan mengendap-ngendap memasuki lorong rumah sakit ibu dan anak tempat Cinderella memeriksakan kehamilan. Dia mengenakan topi dan masker demi merahasiakan pernikahanya, karena itu syarat yang harus dia lakukan demi mengantar istrinya ke rumah sakit.


Dia hendak membuka pintu yang ditunjuk perawat tadi, tapi panggilan Cinderella mengurungkan dia untuk menarik handle pintu ruangan itu.


“Sut...sut...sut,” panggil Cinderella yang tidak ingin memanggil nama. Kemal menoleh ke arah sumber suara. Mengernyitkan keningnya saat melihat Cinderella mengantre di tengah perkumpulan mama-mama yang duduk di sana.


“Kenapa di sini. Ayo masuk!” ajak Kemal.


“Budayakan mengantre Mal!” lirih Cinderella karena takut terdengar orang.


“Kita bisa bayar lebih setelah ini, ayo!” Cinderella diam tidak menjawab lagi ucapan Kemal, dia masih tetap duduk di sana, tanpa bergerak. Kemal yang tidak memdapat respon dari Cinderella akhirnya mengalah, dan ikut duduk di sampingnya, melirik ke arah para pria yang tengah mengusap perut istrinya yang sudah membesar. Kemal lalu melirik ke arah perut Cinderella, tangannya mencoba menyentuh perut Cinderella, lalu tersenyum ke arah Cinderella.


Sesuatu hal yang langka meminta Kemal untuk menunggu, dan sore ini dia bersedia menunggu demi istri sahnya. Setelah duapuluh menit menunggu akhirnya nama Cinderella di panggil oleh perawat. Kemal yang mendengar itu langsung menerobos masuk dan segera melepas masker dan topi yang dia pakai. Dia menatap dokter yang duduk di kursi meja ruangan itu. Dokter Stella, wanita cantik yang akan memeriksa kondisi kehamilan Cinderella.


“Bukankah Anda CEO Kemal Group?” tanya dokter Stella saat melihat wajah Kemal.


“Cepat periksa saja, tidak perlu memgetahui siapa diriku,” ucap Kemal dengan nada dingin.


Dokter yang mendengar suara dingin Kemal merasa takut. Dia lalu menoleh ke arah Cinderella yang baru saja masuk.


“Apa ini suami Anda?”


“Iya, dia datang untuk mengantarku, apa ada masalah?” tanya Cinderella.


“Ow... Baiklah,” ucap dokter wanita itu lalu beranjak dari tempat duduknya menuju brankar pemeriksaan.


“Bagaimana, Apa ibu masih sering mual-mual?” tanya dokter Stella sambil membuka perut Cinderella yang sudah berbaring di brankar.


“Masih, tadi pagi dia muntah banyak,” sahut Kemal saat mendengar pertanyaan dokter Stella, “Apa itu berbahaya, dan kemarin perutnya bergerak-gerak, aku takut anakku akan merobek kulit istriku,” ucap Kemal yang teringat tentang kejadian semalam.


“Nggak papa Pak Kemal, selama tidak terjadi pendarahan pada bagian inti, ibu dan bayinya akan baik-baik saja,” jelas dokter Stella, lalu dia memainkan alat USG dan meminta pasangan itu untuk memperhatikan ke arah layar.


“Kalau mendengar detak jantungnya sepertinya jenis kelaminnya berbeda, tapi kita pastikan dulu ya,” jelas dokter.


Kemal menatap layar di depan brankar Cinderella searah dengan tatapan mata istrinya.


“Itu apanya?” tanya Kemal saat melihat gambar janin di depan layar.


“Ini kelaminnya Pak, sudah di pastikan 90% bayi Anda salah satunya cowok, tapi yang satunya masih tertutup, belum bisa terlihat,” jelas dokter Stella.


“Apa mereka baik-baik saja?” Kemal diam sejenak, “Bisakah menyuruh mereka diam karena mereka akan menganggu waktu istirahat istriku,” perintah Kemal. Stella yang mendengar itu hanya tertawa, sedangkan Cinderella hanya bisa cemberut.

__ADS_1


“Kenapa seperti itu? Mereka banyak bergerak itu berarti sehat,” ucap Cinderella.


“Aku takut kamu kesakitan!” ucap Kemal yang mengkhawatirkan kondisi Cinderella.


“Aku tidak apa-apa, aku senang mereka hadir di rahimku,” ucap Cinderella yang membuat Kemal tersenyum lebar.


“Apa kamu juga senang jika aku berada di sampingmu?” tanya Kemal berbisik di telinga Cinderella, membuat dokter Stella tersenyum ke arah mereka, karena mengira pasangan itu sangat romantis. Sedangkan Cinderella langsung menyembunyikan wajahnya dari tatapan Kemal.


Setelah selesai, dokter Stella mengajak mereka untuk duduk di kursi kerjanya, dia memberikan arahan kepada Kemal sebagai suami yang harus terus memberikan suport untuk Cinderella.


“Apa kita bisa melakukan hubungan normal seperti pasangan dewasa?” tanya Kemal dengan ragu. Dokter Stella tersenyum ke arah Cinderella, yang menunduk malu.


“Bisa saja Pak, asalkan istri Bapak merasa nyaman.” Cinderella yang mendengar itu langsung mencubit pinggang Kemal meminta agar dia segera menhentikan ucapannya. Dia merasa benar-benar malu karena Kemal menanyakan hal yang di luar dugaanya.


“Shakithh...,” rintih Kemal saat mendapat cubitan dari Cinderella.


“Rasain!” lirih Cinderella sambil memainkan mata marahnya ke arah Kemal. Kemal segera memakai masker dan topinya setelah dokter selesai menjelaskan kondisi anaknya.


Setelah mengambil vitamin untuk Cinderella, Kemal melajukan mobilnya ke rumah Jimmy karena ayahnya tadi menelepon agar datang ke rumahnya.


“Kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Cinderella saat sudah berada di depan rumah Jimmy.


“Tapi, kamu belum meminta izin dengan Papa!”


“Biar nanti Ayah yang menelepon Papa kalau kita singgah di sini,” ucap Kemal lalu turun dari mobil, dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Cinderella kesayanganya.


Kemal lalu meraih tangan Cinderella, mengenggam tangan istrinya, sambil berjalan menuju rumah orangtuanya.


“Biarkan aku memperbaiki kesalahanku, jangan menolak,” ucap Kemal saat merasakan tangan Cinderella yang ingin terlepas.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah Jimmy, di sambut dengan ramah oleh Martha, ibu sambung Kemal. Kemal yang melihat wanita paruh baya itu hanya membuang muka ke arah lain. Sedangkan Cinderella menyapanya dengan penuh penghormatan, mengingat dia lebih tua dari dirinya, dan juga dia adalah mertuanya.


“Sudah datang kamu, Mal?” ucap Jimmy mendekat ke arah mereka, lalu segera membawa Kemal ke ruang kerjanya.


Sedangkan Cinderella mengobrol dengan Martha, dia menanyakan tentang perkembangan kehamilan Cinderella. Tidak lama David yang baru saja pulang dari kantor mendekat ke arah dua wanita yang sedang tertawa itu. David memang berbeda dengan Kemal, dia sangat ramah dan supel.


“Ci..., aku minta maaf ya, gara-gara malam itu aku ninggalin kamu, sekarang kamu jadi seperti ini,” tukas David, yang menyesal karena meninggalkan Cinderella di apartemen Kemal.


“Sudah takdir hidupku seperti ini, mau di apakan lagi,” ucap Cinderella, “Sudahlah aku sudah melupakan kejadian itu, lagian karena kejadian itu juga, Kemal bisa sedikit berubah, tidak mempermainkan wanita lagi,” lanjut Cinderella menjelaskan pada David.


Mereka melanjutkan obrolannya, sambil bercanda tertawa, hingga Kemal datang dengam wajah yang tidak bersahabat. Dia berjalan menghampiri Cinderella dan membawa istrinya untuk keluar rumah.

__ADS_1


“Kita pulang!” ucap Kemal dengan nada dingin. Cinderella lalu berpamitan pada semuanya, berbeda dengan Kemal yang sudah lebih dulu berada di dalam mobil.


“Kamu ngapain ketawa-ketawi dengan David?” tanya Kemal saat sudah melajukan mobilnya.


“Ngobrol saja.” Cinderella menatap wajah Kemal yang sedang marah.


“Aku cemburu!”


“Hah...!” kaget Cinderella sambil menoleh ke arah Kemal.


“Kamu bahkan tidak pernah tertawa seperti itu saat berada di dekatku,” gerutu Kemal.


“Hahahaha...,hahhahah, hahah... Sudah kan, puas sekarang?” ucap Cinderella menampilkan lesung pipinya. Kemal segera menepikan mobilnya di tepi jalan.


“Ulangi lagi!”


“Apanya?” bingung Cinderella.


“Senyummu yang tadi,” ucap Kemal sambil menampilkan lesung pipinya yang tidak dia punyai, Cinderella tidak ingin mengulangi suara tawanya, hingga membuat Kemal mendekatkan wajahnya ke wajah Cinderella.


“Ngapain kamu?”


“Mau mencium istriku...” jujur Kemal saat berada tepat di wajah Cinderella. Nafas Cinderella sudah berubah semakin memburu, karena jarak wajahnya dengan Kemal semakin dekat.


“Apa mau aku ajari ciuman yang ...” Kemal tidak bisa melanjutkan omonganya karena Cinderella sudah mendorong tubuhnya ke dekat jendela mobil. Kemal lalu tersenyum.


“Aku bingung denganmu Ci, dulu saja kamu tergila-gila padaku kenapa sekarang kamu seperti ini?” tanya Kemal, diselingi senyuman.


“Karena aku tidak tau seberapa buruknya dirimu,” ucap Cinderella. Kemal diam memikirkan jawaban Cinderella.


“Aku sudah berubah demi kamu Ci.”


“Tapi sayangnya aku tidak percaya begitu saja,” ucap Cinderella sambil mengalihkan pandangannya ke arah luar jendella. Kemal yang kecewa, segera berpikir keras untuk meyakinkan Cinderella, bahwa dia benar-benar mencintai Cinderella. Dia ingin bersumpah jika yang dia rasakan ini benar-benar cinta, bukan permainan.


.


.


.


Terima kasih dukung terus Cinderella dan Kemal ya...😘😘😘👍

__ADS_1


__ADS_2