CINDERELLA GENDUT

CINDERELLA GENDUT
Satu Ranjang


__ADS_3

Happy reading jangan lupa like👍


.


.


.


“Apa boleh aku merasakannya lagi?” tanya Kemal saat Cinderella sudah membalikkan badan membelakanginya. Dia masih diam tidak menyawab boleh atau tidak pada Kemal. Kemal yang tidak mendengar jawaban Cinderella, mulai memejamkan matanya karena dia merasa tidak diizinkan, tapi saat dia akan terlelap, tangannya diraih oleh Cinderella untuk memeluk perutnya dari belakang. Kemal membuka mata tersenyum saat merasakan gerakan lembut dari anaknya.


“Apa ini tidak menyakitimu?” tanya Kemal yang tidak tahu menahu tentang perkembangan ibu hamil.


“Tidak. Aku senang saat merasakannya bergerak, ini seperti keajaiban.” Kemal tersenyum saat mendengarkan ucapan Cinderella.


“Besok aku akan mengantarmu ke dokter kandungan, aku juga ingin melihat calon anak kita,” ucap Kemal yang masih memeluk Cinderella.


“Jangan bilang seperti itu aku tidak mau terlalu banyak berharap, tapi ujung-ujungnya kamu akan melewatkannya lagi,” sahut Cinderella.


“Baiklah lupakanlah ucapanku, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya,” ucap Kemal yang masih merasakan gerakan lembut dari calon anaknya, “Tidurlah aku tidak akan mengganggumu lagi,” ucap terakhir Kemal sebelum dia menarik tangan dan memejamkan matanya.


“Selamat malam,” ucap Cinderella sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Kemal yang tidak di sediakan selimut oleh Cinderella ikut masuk ke dalam selimut itu, tanpa mendengar ucapan protes dari bibir Cinderella. Dia bisa tidur dengan nyenyak hingga matahari masuk ke kamar Cinderella.


***


Pagi harinya, Kepala Kemal terasa sedikit pusing karena kejadian semalam, dia memijit pelan kepalanya, sambil mencari ponsel yang tidak tau dia letakan di mana, Cinderella juga sudah tidak berada di kamar, karena dia sedang memasak sarapan dengan Jihan di dapur.

__ADS_1


Karena tidak mendapati ponselnya, dia mengambil ponsel Cinderella yang berada di meja. Kemal menekan nomor ponselnya di sana, matanya melotot sempurna saat membaca nama yang muncul di layar.


“Bunglon,” ucapnya lirih. Dia segera mengambil ponselnya saat terdengar dering suara dari hpnya.


“Namamu di ponselku saja seindah ini,” lirih Kemal saat melihat nama di layar hpnya sendiri.


Cinderella yang baru datang, menatap tajam ke arah Kemal.


“Aku tadi kehilangan ponselku jadi aku pinjam sebentar untuk mencarinya,” ucap Kemal menjelaskan agar Cinderella membuang tatapan mematikan itu.


“Mandilah! Sudah waktunya kamu untuk ke kantor,” ucap Cinderella yang sebenarnya tidak peduli jika Kemal memegang ponselnya, dia hanya kaget ketika Kemal belum siap untuk berangkat ke kantor, padahal dia sudah menyiapkan bajunya di tepi ranjang.


Eh..., tunggu! Dia tau nggak ya Nama yang kuberikan untuknya di phonebookku? Tanya Cinderella dalam hati.


Kemal lalu berjalan ke kamar mandi meninggalkan Cinderella yang tengah menatapnya. Kemal yang tadinya merasa pusing, kini sudah menghilang akibat guyuran air hangat dari shower kamar mandi Cinderella.


“Kamu kenapa?” tanya Kemal saat berjalan mendekat ke arah Cinderella.


“Nggak papa! Aku hanya takut tubuhku segendut dulu,” jawab Cinderella, sambil menatap Kemal dari pantulan kaca. Kemal hanya mengernyit saat mendengar ucapan Cinderella.


“Nggak papa gendut, lagian setelah lahiran nanti bisa kurus lagi,” ucap Kemal sambil menyerahkan dasi ke tangan Cinderella. Cinderella yang paham dengan rutinitasnya seminggu ini segera mengalungkan dasi itu ke leher Kemal.


Cup.


Kecup Kemal tepat di bibir tipis Cinderella, ketika istrinya selesai memakaikan dasi.

__ADS_1


“Terimakasih.” Cinderella menunduk malu, karena Kemal tiba-tiba melakukan itu padanya, biasanya Kemal hanya akan mengecup keningnya, tapi pagi ini kecupan itu benar-benar membuatnya malu.


“Ayo kita turun, aku takut kesempatanku semakin tipis karena bangun kesiangan,” ucap Kemal sambil tersenyum menatap wajah malu Cinderella. Cinderella yang mendengar itu, hanya bisa mengikuti langkah kaki Kemal di depannya, dia masih ingin menyembunyikan wajah meronanya.


Pagi itu mereka sarapan bersama dengan Kemal yang sedikit berwajah bahagia, karena ternyata rasa traumanya itu bisa membawanya ke dalam keberuntungan ini, setelah sekian lama menanti akhirnya dia bisa tidur satu ranjang dengan istrinya, meskipun belum melakukan hubungan normal seperti yang lainnya, tapi dia bahagia setidaknya hubungannya kini bisa lebih baik dari kemarin.


Setelah menyelesaikan sarapan, Cinderella mengantar Kemal untuk berangkat ke kantor. Dia berjalan di belakang Kemal yang berjalan menuju mobilnya. Saat sampai di depan rumah, terlihat Revan yang tengah menatap keakraban mereka berdua, bibirnya tersenyum kecut ke arah Kemal. Lelaki yang beberapa bulan lalu berhasil dipukulinya.


Mata mereka beralih ke arah mobil yang baru saja tiba dan terparkir di halaman rumah Cinderella.


Lelaki itu keluar, mengenakan kemeja hitam dan sepatu sneakernya. Dia membawa bunga yang tengah di sembunyikan di balik badannya, tanpa menyadari jika ada tiga pasang mata yang tengah menatapnya lekat.


Dia mengernyitkan dahinya saat melihat Cinderella yang berdiri di depan pintu. Keadaan fisiknya berubah ketika dia bertemu dengan Cinderella saat terakhir kalinya.


“Andre!” teriak Cinderella saat melihat temannya itu semakin tampan. Andre tersenyum ramah ke arah Cinderella, dia berjalan mendekat dan memberikan sebucket bunga ke tangan yang dikira masih gadis itu. Cinderella yang mengerti itu langsung mencium bunga pemberian Andre. Dia reflek memeluk Andre karena sudah hampir 6 bulan mereka tidak bertemu.


“Uhuk..., uhuk..., uhuk...,” terdengar suara batuk yang keluar dari bibir Kemal. Membuat Cinderella segera melepaskan pelukannya.


“Sepertinya aku tidak jadi ke kantor, dadaku terasa sesak,” ucap Kemal sambil memegang bagian dadanya.


.


.


.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2