CINDERELLA GENDUT

CINDERELLA GENDUT
Dia Anakku


__ADS_3

Happy reading,


.


.


.


Kemal fokus ke arah jalan menuju rumah kedua orangtuanya, senyumnya masih terukir di bibir tebal milik Kemal, hatinya berbunga-bunga ketika mendengar ucapan manis dari Cinderella saat konferensi pers tadi. Dia terus mencuri pandang ke Cinderella yang duduk di samping kemudi.


“Sepertinya kita harus singgah dulu ke rumah sakit.” Kemal langsung menepikan mobilnya ke pinggir jalan, dia menghentikan kemudinya.


“Apa anak kita mau keluar?” tanya Kemal, menelisik ke arah kaki Cinderella, siapa tahu ada darah yang keluar dari sana.


“Anak kita baru 5 bulan di dalam perutku, mana mungkin keluar, tapi Papanya ini yang sepertinya perlu diperiksa dokter,” ucapnya sambil menarik pelan telinga Kemal.


“Ngapain juga dari tadi senyum-senyum sendiri? Bikin ilfil tau nggak!” lanjut Cinderella yang memaki Kemal. Dia menatap wajah Kemal, yang terkena sinar matahari sore. Warna orange membuat kadar ketampanan Kemal sedikit meningkat, hingga Cinderella tidak mampu mengalihkan pandangan matanya.


“Kenapa ya? Emmm..., pokoknya aku bahagia hari ini, mendengar ucapanmu, jika kamu juga mencintaiku.” Cinderella mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil. Menyembunyikan wajah malunya supaya terhindar dari pandangan Kemal.


“Kan, aku sudah bilang, jika itu hanya sandiwara,” jelas Cinderella tanpa menoleh ke arah Kemal.


“Tapi aku bisa mendengarnya jika kamu mengatakannya dari hati, dan itu bisa sampai di relung hatiku paling dalam,” ucap Kemal, sambil melajukan kembali mobilnya pelan-pelan.


Cinderella menatap kendaraan yang melewatinya, mengabaikan ucapan Kemal yang terus mengoceh di sampingnya. Butuh waktu tigapuluh menit untuk tiba di rumah mertuanya. Dia melihat ibu mertuanya tengah menyiram tanaman di halaman rumah. Dia mendekat, dan menyapa ramah mertua wanitanya itu.


“Sudah datang,” ucapnya sambil memeluk tubuh berisi Cinderella, “Calon cucuku sehatkan? sudah berapa bulan?” lanjutnya bertanya, sambil menatap wajah Cinderella.

__ADS_1


“Sehat Bun. Sudah lima bulan sebentar lagi, mereka akan hadir,” jelas Cinderella.


“Ayo masuk, kamu mau makan apa? Biar bunda buatkan, nyidam rujak nggak?” tawar Martha sambil membawa Cinderella masuk ke dalam rumah.


“Terima kasih Bun, Cici nggak pengen makan apa-apa kok, Bunda duduk sini saja kita ngobrol sama-sama,” ucap Cinderella yang sudah duduk di samping Kemal. Martha melirik ke arah Kemal, menatap wajah anaknya yang sudah tidak lagi bersahabat.


“Biarkan saja dia pergi, aku ke sini, hanya untuk menemui Ayah,” ucap Kemal yang tidak suka dengan kehadiran Martha.


“Kemal, nggak boleh seperti itu, dia juga Bundamu, yang sudah merawatmu dari kamu kecil,” peringat Cinderella.


“Tapi dia yang sudah membuat Bundaku pergi!”


“Kemal! Semua itu takdir dari Tuhan, kita hanya bisa menjalani tanpa harus menyalahkan siapapun,” lirih Cinderella yang bisa didengar Martha, dia lalu mengusap lengan Cinderella, supaya tidak melanjutkan ucapannya. Martha meninggalkan mereka berdua yang saling terdiam, dia juga sakit karena sampai sekarang ini, Kemal belum bisa menerimanya.


“Aku memang belum pernah menjadi ibu Mal, tapi aku bisa pastikan jika Bunda Martha juga sakit hati dengan setiap ucapan yang selalu kamu keluarkan, sadarlah sebentar lagi kamu akan dipanggil Papa!” Kemal menoleh ke arah Cinderella, tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan istrinya.


Apa aku yang sudah gila, bahkan dia sangat peduli denganku. Batin Kemal.


Cinderella hanya diam, sambil memperhatikan tingkah Kemal yang terlihat jelas seperti kebingungan.


“Minta maaflah sebelum semuanya terlambat! Mereka sudah tua Mal, kita tidak tau juga kapan Tuhan akan memanggilnya untuk pulang!” saat mendengar ucapan Cinderella, Kemal langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya.


“Di mana wanita itu?” tanya Kemal pada pelayan yang berpapasan dengannya.


“Nyonya ada di dapur Tuan.”


Kemal berjalan ke arah dapur, melihat wanita tua yang berusia limapuluhan tahun, dia merengkuh tubuh Martha dari belakang. Membuat Martha kaget dengan kelakuan Kemal yang tidak biasa.

__ADS_1


“Maafkan aku Bun,” ucap Kemal yang masih memeluk Martha. Wanita itu kaget dengan kata-kata Kemal yang menyentuh hatinya, kata ‘Bund’ pertama yang keluar dari bibirnya. Dia menangis sesenggukan dipelukan Kemal, dia terharu, bahagia. Dia melepas pelukkan Kemal, lalu menghadap ke arah Kemal.


“Kamu tidak salah Sayang, kamu hanya salah paham,” ucap Martha yang mengusap air mata Kemal.


“Bunda tidak pernah merebut Bundamu dari Ayah,” jelasnya.


“Sudahlah, itu tidak penting, yang terpenting mulai sekarang aku akan menganggapmu sebagai Bunda yang harus aku lindungi dan harus aku jaga.”


Mereka kembali berpelukkan, Kemal masih menagis dipelukkannya Martha. Orang yang berdiri di belakangnya tersenyum lebar saat melihat hubungan kedua orang itu sudah membaik.


“Ayo ajaklah istrimu ke sini, Bunda sudah membuatkan rujak untuknya, apa kamu mau juga?” tawar Martha, Kemal langsung mengarahkan mulutnya ke tangan Martha, meminta Martha untuk menyuapinya.


“Ehmmm...,” terdengar jelas deheman dari Ayah Kemal. Keduanya ikut menoleh sambil tersenyum.


“Dia anakku,” ucap Martha sambil tersenyum manis, dia mengusap punggung Kemal yang lebih tinggi darinya.


“Tentu dan aku Ayahnya!”


Mulai hari itu Kemal benar-benar bisa menerima Martha yang hadir sebagai ibu sambungnya, tidak semua ibu sambung itu buruk, dan dia beruntung karena tidak pernah diperlakukan tidak baik oleh Martha.


“Terima kasih ya..., semua ini karenamu,” ucap Martha pada Cinderella


“Kamu membawa keberuntungan untuk keluarga kami,” lanjutnya sambil mengusap perut Cinderella, Kemal hanya mendengarkan ucapan kedua wanita di sampingnya. Hari ini dua kali dia merasa puas dengan tingkah kedua wanita di sampingnya itu. Satu istrinya yang akan hadir di saat ini dan masa depannya, satunya Martha yang akan dia lindungi mulai hari ini, sampai dia pergi meninggalkannya.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2