
Happg reading.
.
.
.
Malam semakin larut, tapi kedua manusia itu masih asyik bercerita kesana -kemari, menceritakan masa-masa kecilnya, mereka saling bertukar cerita, sampai Cinderella bertanya tentang hal-hal yang paling buruk yang pernah di alami oleh Kemal, Kemal yang belum siap bercerita hanya bisa diam, sambil menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya.
“Ya sudah kalau nggak mau cerita, aku mau tidur saja,” ancam Cinderella saat tidak mendapat jawaban dari Kemal. Dia menarik selimut, menidurkan tubuhnya membelakangi Kemal.
“Kok tidur sih, kita kan belum melakukannya,” bisik lembut Kemal di samping telinga Cinderella.
“Bodo amat! Terserah aku mau tidur, aku sudah lelah...”
“Jangan begitu dong Ndut, aku belum ngantuk nih!” jeda Kemal membalikkan tubuh Cinderella, “Ok. Aku bakal cerita, kenapa sampai sekarang aku bisa takut hantu dan kegelapan,” lanjut Kemal menjauh, dan mencari posisi ternyamannya. Cinderella yang tadi sudah akan tidur, langsung kembali terbangun saat mendengar ucapan Kemal. Dia menyandarkan kepalanya di lengan Kemal sambil merangkul lengan suaminha. Kemal dalam hatinya bahagia sekali, andai dari dulu Cinderella bersikap seperti ini, apapun yang dia minta, pasti akan dia berikan semuanya.
“Sudah siap?” tanya Kemal yang akan memulai bercerita.
“Ayo mulailah bercerita, telingaku sudah siap untuk mendengarkanmu,” jelas Cinderella.
“Pada...Zaman dahulu...”
“Kemal ini serius, jangan cerita Aris dan Ara,” cibir Cinderella sambil menoleh ke samping ke arah wajah Kemal. Kemal terkekeh lalu menutup mulutnya saat melihat tatapan membunuh Cinderella. Dia lalu kembali menarik selimutnya, tidak peduli lagi dengan ucapan Kemal.
“Jangan marah dong Ndut, sini aku ceritain, kamu juga berhak tahu jelas siapa diriku,” ucap Kemal membawa Cinderella ke dalam pelukannya.
“Dulu waktu usia 9 tahun, aku terkurung di gudang penyimpanan barang -barang bekas, di kantor Ayah, kesalahanku juga karena aku dulu terlalu aktif, awalnya aku hanya penasaran dan masuk ke dalam gudang tersebut, mungkin karena sudah waktunya pulang kerja atau apa jadi ada orang yang mengunci gudang itu. Aku tidak bisa melihat karena ruangannya gelap sekali, saklar lampu juga saat itu berada di luar ruangan, jadi aku cuma bisa menangis semalaman di sana, satu malam itulah yang membuatku seperti sekarang, aku tidak bisa tanpa cahaya lampu, mungkin karena rasa trauma waktu kejadian itu,” jelas Kemal.
“Apa kamu sudah datang ke dokter?” tanya Cinderella.
“Sudah tapi tetap saja,” jawab Kemal.
“Lalu kenapa kamu takut dengan hantu palsu, apa kamu pernah bertemu dengan hantu betulan?” tanya Cinderella lagi yang masih penasaran dengan cerita Kemal.
“Mau tahu jawabannya?” Cinderella mengangguk sebagai jawaban.
“Cium dulu, nanti aku lanjutkan ceritanya!” Cinderella menatap Kemal yang tengah menahan senyumnya.
__ADS_1
“Tapi sayangnya aku nggak jadi penasaran, aku mau tidur saja, nggak baik tidur terlalu malam untuk perkembangan anak kita, bye..., good night!” Kemal cemberut saat mendengar ucapan Cinderella, semakin menggemaskan istrinya itu, tapi juga semakin menyiksa dirinya, Kemal lalu memeluk Cinderella lebih erat lagi, mencium aroma Cinderella lebih dalam hingga membuatnya merasa nyaman meski hanya menghirup aroma rambutnya.
“Malam itu, aku hanya berpikiran negatif tentang hantu, biasalah anak kecil selalu berfikiran jika gelap identik dengan hantu, apalagi diiringi suara -suara menyeramkan di gudang waktu itu, semakin membuatku takut, tapi ntah benar ada hantu atau tidak, aku juga tidak tahu, karena saat itu hanya kegelapan yang bisa aku lihat,” lanjut Kemal bercerita sambil memeluk Cinderella dari belakang.
Cinderella berbalik menghadap ke arah Kemal, menatap wajah Kemal yang juga tengah menatapnya.
“Percayalah, jika di sana tidak terjadi apa-apa, dan aku akan berusaha membawamu ke cahaya terang, supaya kamu tidak akan takut gelap lagi,” ucap Cinderella, lalu menghadiahi Kemal dengan kecupan singkat di bibir manis Kemal.
“Lalu berapa banyak wanita yang kamu tiduri?” Kemal terdiam saat mendengar pertanyaan Cinderella.
“Jangan tanyakan itu, kamu tahu sendiri sekotor apa diriku ini, tapi sekarang aku sudah memperbaikinya, dan aku hanya ingin denganmu, tanpa peduli bagaimana wujudmu,” jawab Kemal. Cinderella lalu memeluk Kemal.
“Aku lebih suka suami yang seperti ini, dari pada punya suami yang main belakang dengan wanita lain, tapi berjanjilah jika aku akan menjadi satu-satunya saat ini, dan selamanya,” ucap Cinderella.
“Iya Kemal berjanji, Gendut akan menjadi yang terakhir kalinya di hidupku,” ucap Kemal seperti membacakan ikrar sumpahnya di depan pendeta. Cinderella tersenyum sambil melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“Sudah! Aku mau tidur betulan sekarang, sebelum mereka berdua protes, karena mendengarkan suara Daddynya,” ucapnya sambil menarik selimut, Kemal hanya menatap kepergian Cinderella ke alam mimpi, hingga nafas istrinya itu mulai teratur.
“Aku nggak tau kenapa bisa jatuh cinta padamu Ndut,” lirih Kemal, “Mungkin karena sikap, semangat, dan ketegaranmu, selain itu mungkin karena lesung pipimu ini,” lanjut Kemal sambil memainkan pipi Cinderella.
“Atau mungkin juga karena mereka,” ucap Kemal sambil mengusap perut Cinderella.
“Aku janji akan menjaga dan melindungi kalian,” lirih Kemal lalu mengecup singkat dahi Cinderella, dia yang juga lelah ikut terlelap di samping Cinderella, tanpa memeluk istrinya karena kasihan jika Cinderella merasa tidak nyaman.
***
“Mal..., bangun Mal...,” teriak panik Cinderella sambil menggoyang -nggoyangkan tubuh Kemal. Kemal yang kaget segera bangun dari tidurnya.
“Kenapa?” tanya Kemal yang sudah duduk dari tidurnya.
“Lihatlah! Masalah datang lagi!” ucap Cinderella sambil menyerahkan ponselnya pada Kemal. Kemal langsung menerima dan kembali merebahkan tubuhnya.
“Bung! Nyebelin tau nggak sih! Baca dulu itu!” maki Cinderella yang sudah tidak lagi memanggil nama Kemal, Kemal lalu membaca ponsel Cinderella yang ada di tangannya.
“Sudah waktunya sepertinya,” ucap Kemal singkat.
“Maksudmu?”
“Aku akan mengatakan, jika aku suamimu, biar kita tidak jadi gosip murahan seperti ini,” jelas Kemal. Cinderella hanya diam, sambil menunduk.
__ADS_1
“Ci..., apa yang kamu takutkan, kamu mencintaiku! Aku mencintaimu, tidak ada yang salah dengan hubungan kita,” ucap Kemal sambil menatap wajah Cinderella.
“Begitu ya...? Tapi Mal...”
“Nggak ada tapi..., bersiaplah kita akan adakan konferensi pers siang ini,” jelas Kemal, lalu menyambar ponselnya yang sejak tadi berdering.
“Bos...” ucap orang di seberang telepon dengan nada panik.
“Undang wartawan yang bisa di percaya, aku akan datang ke kantor 1 jam lagi,” ucapnya pada Billy sambil melirik ke arah Cinderella.
“Bos sudah dengar?”
“Tentunya sudah, karena wanita tidak akan pernah ketinggalan berita gosip,” ucap Kemal sambil tersenyum ke arah Cinderella.
“Oke... Aku akan mengatur semuanya,” ucap Billy lalu segera menutup teleponnya.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Cinderella mengangguk, percaya pada suaminya.
“Kau benar-benar mencintaiku, Bung!” tanya Cinderella memastikan lagi.
“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa datangkan ahli bedah untuk melihat, nama siapa yang ada di hatiku,” ucap Kemal sambil melepaskan kancing piyama yang dia pakai. Cinderella hanya menatap tangan Kemal yang hampir sampai di kancing terakhir piyamanya.
“Stop!” teriak Cinderella, membuat Kemal tersenyum smirk ke arahnya.
Cinderella akhirnya percaya dan yakin jika ucapan Kemal tidak main-main, semoga pilihannya kali ini tepat dan tidak akan menimbulkan masalah ke depannya.
“Apa kamu juga mencintaku?” tanya Kemal pada Cinderella yang akan beranjak ke arah kamar mandi. Cinderella diam tidak menjawab pertanyaan Kemal, dia hanya menatap wajah Kemal yang juga tengah menatapnya lekat.
“Pengen tahu jawabannya?”
“Iya, tapi nggak begitu penasaran juga sih sebenarnya,” jawab Kemal.
“Nanti setelah konferensi, aku akan menjawab.” Kemal menatap langkah Cinderella yang berjalan menuju kamar mandi, menggelengkan kepala sambil tersenyum menatap tubuh Cinderella.
“Jadi berdebar begini ya?” ucap Kemal sambil meraba dadanya.
.
.
__ADS_1
TBC