
Keesokan harinya.
Aku mencoba bersikap seolah tidak tau apa-apa, sejujurnya aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi, tetapi tidak baik mencampuri urusan orang lain, terlebih nyonya hesti sudah begitu baik padaku, aku berpikir mungkin nanti nyonya hesti akan menceritakannya kepadaku jika aku memang harus tau, atau mungkin tuhan yang akan memberitauku...
Aku keluar rumah dengan senyum ceria, menyusuri jalan perkebunan menuju kampus, aku melihat para pegawai perkebunan sedang mengobrol, pikiran jahil melintas begitu saja, kesempatan akan hilang jika pikiran jahil itu tidak di lakukan.
Aku berjalan perlahan mendekati mereka, sejenak aku terdiam karna mendengar mereka yang membicarakan tentang rencana kepergian nyonya hesti,,, aku berbalik dan kembali ke rumah
“ nyonya hes... Nyonya hes... Nyonya hes kau di mana?” panggil ku dengan nada suara kencang
“ Dasar kau anak nakal, bukankah kau harus pergi ke kampus? Kenapa kau kembali” Jawabnya
“Nyonya hes katakan kepadaku apa yang terjadi? Tadi aku mendengar para pekerja mengatakan bahwa kau akan pergi, dan semalam aku mendengar kau menyerahkan semua perkebunan pada tuan muda, kenapa aku merasa kau akan pergi untuk selamanya”
Ucapanku,,tanpa sadar mengeluarkan semua yang ku coba sembunyikan
“Kau menguping pembicaraan ku semalam? “ tanyanya dengan wajah terkejut
“ baiklah anak nakal, pergilah ke kampus sekarang, aku akan jelaskan padamu saat kau pulang, jika kau tidak berangkat sekarang kau akan terlambat, jika kau sampai di usir dari kelas kau tau apa yang akan terjadi selanjutnya” ucapnya sambil mendorong aku keluar dari rumah
__ADS_1
“ Baiklah nyonya hes, aku akan pergi sekarang, aku harap kau tidak mengingkari ucapamu” jawabku sambil berjalan pergi meninggalkan rumah
Aku berangakat ke kampus seperti biasanya, pelajaran yang membosankan, teman-teman yang lebih suka bergosip dibandingkan belajar, aku selalu ditinggal sendiri di kampus, merka bilang aku ini membosankan, terkadang aku juga merasa apa yang mereka katakan itu benar, mau bagaimana lagi aku merasa buku-buku lebih jujur daripada manusia, tidak hanya jujur buku-buku juga selalu membuatku penasaran, itulah yang selalu aku katakan setiap kali ada yang bertanya kenapa aku lebih senang belajar daripada bermain dengan teman-teman.
Sejujurnya aku selalu merasa kesepian... Bisa apa lagi ayahku memberikan tekanan yang berat dalam hidupku...
Waktu cepat sekali berlalu, ini sudah sore jika aku tidak pulang tepat waktu nyonya hesti akan menceramahiku lagi...
Aku menutup buku dan bergegas untuk pulang, saat berjalan di padang rumput aku melihat seorang pria berbaring di sana, aku mendekatinya dan memperhatikan dia, entah siapa dia? Datang dari mana? Aku tak tau, dia sedang tidur atau pingsan, kenapa dia tidak terbangun? Apa dia tidak merasakan ada aku di sini,, aku mengelilingi tubuhnya dan terus memperhatikannya, saat aku melewati satu kakinya, tiba-tiba aku tersandung dan terjatuh tepat diatas tubuh kekarnya, wajahku berada tepat diatas wajahnya, pria itupun membuka matanya, wajah tanpa ekspresi, itu membuat mataku terbuka lebar, perlahan iya mengangkat tangannya, iya menaruh telunjuknya di dahiku dan perlahan menyingkirkanku dari atas tubuhnya.
“hai nona, ini masih sore, aku tau aku ini mempesona, tapi aku tidak tertarik pada wanita mesum sepertimu” ujarnya dengan sombong dan sedikit senyuman di ujung bibirnya
“Kau tidak tertarik padaku, tapi terus saja memperhatikanku, kau bahkan melompat ke atas tubuhku? “ ujar pria itu dengan nada tak percaya, membuatku sangat kesal
“aku memang memperhatikanmu, tapi aku tidak melompat ke atas tubuhmu, “ jawabku
“ Lupakan itu, siapa kau ? Kenapa kau berbaring di sini?” tanyaku
“siapa aku? Kenapa aku berbaring di sini?,,,aku hanyalah aku, aku berbaring di sini karna merasa lelah” jawabnya sambil kembali berbaring
__ADS_1
“Kau tidak boleh berada di sini tuan, kau tau perkebunan ini milik siapa? Perkebunan ini milik tuan muda, apa kau tau tuan muda itu sangat... Jika dia tau kau berbaring di sini kau akan mendapat masalah besar” kataku
“Sepertinya kau sangat dekat dengan tuan muda?” tanyanya dengan senyum meledek
“Tentu saja,,, jadi lebih baik kau pergi dari sini,” jawabku dengan tegas
“Kalau begitu panggil tuan muda pemilik perkebunan ini kemari, aku ingin lihat, apa yang akan dia lakukan saat melihatku berbaring di perkebunannya” ucapnya menantangku
Aku pergi meninggalkan pria itu dengan wajah kesal, tanpa ku sadari aku sudah sampai di rumah, tanpa sadar aku sudah bicara sendiri sepanjang jalan, entah berapa banyak orang yang melihat dan menganggapku aneh.
Saat aku melihat nyonya hesti sedang minum teh di depan rumah, akupun mendekatinya, aku menceritakan apa yang terjadi, namun nyonya hesti tidak percaya padaku, dia justru berpikir aku tidur di suatu tempat dan bermimpi, untuk meyakinkan nyonya hesti bahwa apa yang ku katakan itu bukan mimpi aku tidak bisa mengatakan kepadanya bahwa aku jatuh diatas pria itu, jadi aku menariknya ke ladang untuk menunjukan kebenaran,
Sesampainya di ladang, pria itu menghilang entah kemana, nyonya hesti pun tersenyum dan mengajakku kembali pulang, aku tau arti senyuman di wajah nyonya hesti menandakan apa yang iya pikirkan itu benar, tapi aku tidak bisa berbuat apapun,
Aku heran pria menyebalkan yang berbaring itu pergi kenama? Dia tadi menantangku dengan wajah meledek, tapi saat aku kembali kenapa dia tidak ada?, apa dia takut pada tuan muda?
Sebenarnya siapa dia?
Assalamu'alaikum para pembaca, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel saya, bantu saya untuk menjadi author yang lebih baik dengan memberikan komentar kritik dan saran kalian, dan tinggalkan jekak ❤ agar aku tau kalian selalu bersamaku untuk membuatku lebih semangat lagi dalam membuat novel yang seru untuk sekedar menemani dan menghilangkan kejenuhan kalian. salam cinta dariku😍
__ADS_1