
Aku terbangun di padang bunga, aku berjalan menuju jalan besar, matahari yang begitu terik sinarnya berubah menjadi hitam pekat, semuanya menjadi gelap hingga aku tidak bisa melihat apapun, aku mulai merasa ketakutan, aku berteriak tapi suaraku tiba-tiba menghilang “seseorang tolong aku, aku tak mau sendirian” suara jerit hati yang ketakutan, aku mendengar suara mobil dari belakangku, aku merunduk dan menutup mata karna takut tertabrak, namun aku mendengar suara mobil berhenti, perlahan aku membuka mataku, cahaya dari lampu mobil itu menyilaukan mataku, aku menutup mataku dengan tanganku, aku melihat dari sela-sela jariku seorang pria turun dari mobil, dia mengulurkan tangannya dan aku meraihnya dengan perasaan bahagia, aku tidak bisa melihat wajahnya namun aku bisa melihat sinar matanya yang begitu hangat dan tak asing....
“ Mahirah...Mahirah....Mahirah.... Sayang ayo cepat bangun, matahari sudah terbit, jangan hanya karna ini hari sabtu kau bisa bermalas-malasan” terdengar suara ibu
Aku membuka mataku, menghela nafas panjang dan tersenyum melihat ibu ada di hadapanku, “ternyata aku hanya bermimpi” Ucapku dalam hati,
Aku membasuh wajahku dan pergi berolah raga, cuaca hari ini begitu cerah,
🎶 do you ever feel like a misfit
Everithing inside you is dark and twisted
Oh but it’s okay to be different
Cause baby so am I🎶 terdengar suara ponselku yang berdering, pikirku siapa yang menghubungiku pagi-pagi dan itupun di akhir pekan ternyata itu dari ibu,
Aku mengangkat telpon dari ibu, ibu memintaku untuk segera pulang, suara ibu terdengar panik Apa terjadi sesuatu?
Aku berlari ke rumah karna khawatir terjadi sesuatu, sesampainya di rumah aku berteriak memanggil ibu, seorang pelayan memberitahu bahwa ibu ada di ruang keluarga, aku melihat ibuku duduk dengan menundukan kepala, aku segera menghampiri ibu
“ibu apa yang terjadi?”
“ harusnya ibu yang bertanya padamu, apa yang terjadi Mahirah, kenapa seluruh saluran telvisi memberitakan kepulanganmu sore ini? Ada apa katakan pada ibu “ ucap ibu dengan cemas
“ibu tenanglah,, tidak ada masalah apapun yang harus ibu khawatirkan”
“ Mahirah benar ibu, tidak ada yang perlu di khawatirkan, dia hanya menjadikan dirinya umpan untuk menangkap penjahat kelas kakap yang sudah menjadi buronan selama 5thn, yang sudah membunuh 80 orang penjaga musium barang-barang antik, yang aku katakan benarkan Mahirah” ucap Ali yang tiba-tiba muncul di rumahku
“apa? Mahirah kenapa kau lakukan itu sayang,” ucap ibu sambil memegang pipiku dengan kedua tangannya
__ADS_1
“ Apa kau sudah tidak sayang pada ayah dan ibu” sambung ibu lagi
“ Maaf ibu, aku tidak berniat menyembunyikan ini dari ibu, hanya saja aku tidak tau bagaimana cara untuk mengatakannya” ucapku
“ Ibu tidak mempersalahkan kau menyembunyikan ini dari ibu, yang ibu permasalahkan adalah kau yang menjadikan dirimu sendiri sebagai umpan, “ ucap ibu sambil menghapus air matanya
Ibu menariku ke kamar dan mengurungku, ibu melarangku keluar rumah, aku tidak tau bagaimana untuk meyakinkan ibu, tidak lama kemudian ibu membuka pintu kamarku, dia menatapku kemudia memeluku
“Kau harus baik-baik saja nak, jika terjadi sesuatu padamu aku bersumpah akan ku pecat inspektur itu” bisik ibu padaku
Ibu mengajakku turun kebawah, ternyata di sana sudah ada inspektur Akmal, entah apa yang ia katakan pada ibu sampai ibu mengizinkanku pergi bersamanya,
Kami pergi ke bandara dengan persiapan yang cukup baik, aku sudah memakai jam GPS untuk berjaga-jaga, sekitar 200 polisi dikerahkan memenuhi bandara internasional dan kebanyakan dari polisi itu menyamar dan berbaur denganku, wartawan sudah siap menyambutku di sana, kamera cctv pun sudah di sana, sejujurnya aku merasa gugup, Zian memberikan foto-foto yang selama ini iya sembunyikan dari inspektur Akmal dari foto itu akhirnya wajah penjahat itu terungkap,
‘aku sungguh tidak percaya ada orang yang menggilaiku sepertinya, seandainya saja Arnaf yang...tunggu dulu apa yang baru saja ku pikirkan’ ucapku dalam hati.
Ini sudah waktunya, aku bersiap di posisiku, earphone sudah aktif, aku berjalan menuju keluar bandara, seolah aku baru tiba hari itu, kerumunan wartawan langsung menghadangku, aku berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan mereka,
Aku memalingkan wajah untuk melihat siapa yang bicara, aku melihat seorang pria dengan masker dan topi hitam keluar bandara,
“ inspektur arah jam 12” ucapku
Aku melihat para polisi mengejar orang itu, namun tiba-tiba ada seseorang yang menarik maskerku hingga terlepas, aku langsung berbalik arah dan merunduk, seseorang menarik tanganku dan mengajaku berlari, kami berlari cukup jauh dari bandara, aku mengajaknya berhenti karna lelah, aku berterimakasih padanya diapun berbalik, aku terkejut karna ternyata pria yang mengajaku berlari adalah pria yang dicari sejak 5thn silam,
“ penjahatnya di sini, lalu siapa yang mereka kejar” ucapku dalam hati
Aku mengambil langkah mundur kemudian berlari, pria itu terus mengejarku, karna terus berlari sambil melihat ke belakang, aku menabrak seorang pria, aku hampir terjatuh namun pria itu menahan tubuhku, dia memegang pinggangku, dan tanganku merangkul padanya, akal sehatku berhenti kala aku menatap indah matanya, rasanya hingga melumpuhkan jiwa, dia mencuri perhatianku, aku tidak tau apakah yang aku lihat ini nyata, atau hanya khayalanku saja karna terlalu merindukan Arnaf, dia membuatku berdiri secara perlahan, tanpa berpikir panjang aku langsung memeluknya dengan erat, dengan nafas yang terengah-engah aku membisikan kata rindu
“ Aku merindukanmu Arnaf”
__ADS_1
Dia membalas pelukanku, dia memeluku sangat erat dan berkata
“ Gadis mesum, aku juga merindukanmu, kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun, apa seorang sahabat akan melakukan hal itu? ”
Mendengar perkataan itu aku tersadar, bahwa pria yang ku tabrak dan ku peluk, pria itu benar-benar Arnaf, aku tidak sedang bermimpi ataupun berkhayal, aku mencoba lepas dari pelukannya tapi dia menariku kembali kedalam pelukannya,
“hadirmu kembali membuatku lelah tuk berpikir akankah ini hanya pelarian tanpa ujung” Ucapku dalam hati
Penjahat itu menariku menjauhanku dari Arnaf, dia merangkulku sambil menodongkan senjata ke pinggangku dibalik cardiganku
“Arnaf tolong aku, pria ini adalah seorang penjahat” ucapku dalam hati
“ kenapa kau memeluk calon istri orang sembarangan” ucap penjahat itu kemudian membawaku menjauh dari Arnaf, sesekali aku berbalik dan melihat Arnaf, aku harap dengan melakukan ini Arnaf akan mengerti bahwa aku tak ingin pergi bersamanya,
Aku dibawa ke sebuah bangunan, masuk kedalam kamar, dia pun mengikatku pada sebuah kursi, aku harus memikirkan cara untuk melepaskan diri, aku tidak akan bisa melawannya, aku tidak lebih kuat darinya, hanya ada satu jalan.
“ Tuan hades apa maumu kenapa kau menerorku seperti ini, kau bilang jika aku kembali kau akan berhenti tapi kenapa kau menginglari janjimu” ucapku dengan nada tak berdaya
“ tuan hades, namaku bukan hades namaku basel” Ucapnya
Aku menghela nafas
“ kenapa kau tidak mengatakan dari tadi, jika kau bukan tuan hades berarti aku tidak perlu takut padamu (aku tersenyum) tuan basel kenapa kau menakutiku seperti ini, kau menangkapku dan menyakitiku, tanganku sakit terjerat tali, tali ini sangat kasar, jika kau ingin menculiku maka ikat dengan kain saja, aku mohon” ucapku dengan lembut
“ kau kesakitan?, aku minta maaf membuatmu terluka, aku takut kau akan lari dariku seperti tadi”
Dia membuka tali yang mengikat tanganku dan hendak mengikatku dengan selendang, aku membisikan padanya bahwa aku tidak akan lari kemanapun, aku mengatakan bahwa dia itu tampan mana mungkin aku menyiayiakan dan mengabaikan pria tampan sepertinya, dia mengalungkan selendang yang hendak iya gunakan untuk mengikatku pada leherku, dia menguruankan niatnya unruk mengikatku, aku memegang pergelangan tanganku dan menyadari arloji yang di set GPS terlepas dari tanganku, saat dia menatapku aku mengatakan bahwa arloji kesayanganku hilang entah di mana, untuk sesaat aku merasa bahwa penjahat ini sangat aneh , dia terlihat seperti orang yang baik, aku bertanya-tanya apakah dia benar-benar sudah membunuh 80 orang, ataukah dia benar-benar menggilai aku, hingga dia memperlakukanku dengan sangat baik, dia mengajaku keluar dari kamar itu, aku menggandeng tangannya dan aku melihat ada begitu banyak perhiasan antik yang sangat indah, dia menceritakan sejarah perhiasan itu satu persatu, dia juga menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan perhiasan-perhiasan itu, dari ceritanya aku bisa mengerti bahwa dia lebih kejam dan licik dari dugaanku. Aku hanya bisa memujinya agar bisa selamat darinya, aku rasa jika dia tau aku berpura-pura dia akan melenyapkanku, aku harus pura-pura tertarik padanya sampai inspektur Akmal datang. Jika dia tidak datang sampai besok pagi aku bersumpah aku akan melenyapkannya
Entah mengapa tiba-tiba aku merasa mengantuk hingga aku menguap di depannya, dia tersenyum dan memintaku tidur, dia membawaku ke kamar itu lagi, kemudian dia pergi setelah melihatku berbaring dan memejamkan mata, aku tahu karna aku tidak benar-benar tidur, aku beranjak dari tempat tidur dan memeriksa apa ada jalan keluar dari tempat itu, pintu kamar terkunci, semua jendela memakai pagar besi, kacanya bisa ku pecahkan tapi bagaimana aku bisa melewati pagar besi jendela ini, aku mendengar suara dari saluran angin-angin di atas kamar,
__ADS_1
“ Mahirah tenanglah, itu mungkin hanya kecoa” ucapku bicara pada diri sendiri
Tapi suaranya semakin keras, aku yakin ada tikus besar didalamnya, aku kembali ke tempat tidur, berbaring dan menarik selimut, aku bersembunyi di balik selimut karna takut, aku mendengar suara benda jatuh, atau mungkin tikus itu jatuh, aku merasakan sesuatu di kakiku, aku rasa tikus itu benar-benar jatuh, haruskah aku berteriak?