CINTA DAN BENCI YANG KURASA

CINTA DAN BENCI YANG KURASA
Aku dan kesedihanku...


__ADS_3

Aku merasa lebih baik setibanya di rumah, Ali adalah sahabatku, sudah sejak 6thn lalu, entah mengapa Ali selalu berada di sisiku di saat aku membutuhkan seseorang, kadang terlintas dalam pikiranku bahwa ia adalah malaikat yang dikirim untuku, hal terbaik dari Ali adalah ia selalu bisa menghiburku,


Aku dan Ali bicara di depan rumah.


“Ali pria itu, orang yang aku tunggu di menara cinta..."


Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku, Aku tak mampu menahan air mataku, Ali memegang kedua tanganku


“Cukup, jangan teruskan lagi...Menangislah Mahirah, lepaskan semua rasa sakitmu, hancurkan saja semua cinta dan harapanmu hingga tak tersisa, jangan menahan air matamu, aku mengizinkanmu menangis hari ini, tapi tidak ada lain hari” ujar Ali


Aku menangis hingga tersedu-sedu di depan Ali, tiba-tiba Arnaf datang menarik Ali dan memukul Ali hingga terjatuh.


“ Ali kau tidak apa-apa? Arnaf apa yang kau lakukan? “ tanyaku sambil membatu ali untuk berdiri


Arnaf menariku menjauh dari Ali


“Maya kau baik-baik saja? dia sudah membuatmu menangis , kenapa kau masih saja membelanya?” ucap Arnaf


“MY siapa pria ini, kenapa dia tiba-tiba menyerangku?” Tanya Ali


“Kau,, berani sekali kau, kau sudah membuat maya menangis” ucap Arnaf sambil memegang baju ali dan bersiap untuk memukulnya lagi


“Arnaf lepaskan dia, kau sudah salah paham” ucapku sambil memegang tangan Arnaf mencoba melepaskan cengkraman tangannya dari baju ali


“Arnaf lepaskan dia, Ali adalah sahabatku, Aku menangis karna masalah lain, dan Ali di sini untuk menghiburku, tapi apa yang kau perbuat? Kau malah memukulnya?” ucapku


Arnaf melepaskan cengkraman tangannya dari baju Ali


“benarkah, aku minta maaf, aku tidak tahu kalau kau sahabatnya maya, entah kenapa aku tidak suka melihatnya menangis, sekali lagi maafkan aku” ujar Arnaf sambil menjulurkan tangan


“Tidak masalah, aku justru senang jika ada seseorang yang memperhatikan sahabatku seperti apa yang kau lakukan” ucap Ali sambil menjabat tangan Arnaf

__ADS_1


“ Ada apa kau kemari?” tanyaku


“Ayah memintaku untuk menjemputmu, dia ingin bertemu denganmu, ayah sudah mencoba menghubungimu berkali-kali tapi kau tidak bisa dihubungi” jawabnya..


Aku pergi bersama Arnaf untuk menemui paman, dia juga mengajak Ali ikut bersama kami, aku pikir Arnaf akan mengajak kami ke hotelnya tetapi dia malah mengajak kami kerumahnya,


Aku baru tau kediaman keluarga zada ternyata sangat indah, rumah yang besar dikelilingi taman bunga dan ada air mancur di depan pintu, kemegahannya nampak saat kami memasuki rumah,,, Arnaf menanyakan keberadaan ayahnya pada seorang pelayan, pelayan itu bilang bahwa paman ada di kolam, iyapun membawa kami kepada paman, di depan pintu yang menuju kolam renang, sontak langkahku terhenti takala aku melihat malik dalam kolam, iya tengah menatap seorang wanita yang duduk di depannya sambil tersenyum.


“MY Apa pria yang di kolam itu malik?” Bisik Ali


Aku tersenyum kepada ali, tapi sepertinya dia menyadari rasa sakitku, ia menggenggam tanganku, kami berjalan melewati malik dan wanita itu menghampiri paman yang sedang bersantai, tapi mataku tidak bisa berpaling dari wanita itu.


“Kau sudak datang, siapa pria yang memegang tanganmu itu” ucap paman


“dia temanku, namanya Ali”jawabku


“Baiklah, mari duduk nak, ada yang ingin paman bicarakan denganmu” Ucap paman


“Arnaf kenapa kau bisik-bisik dengan maya, katakan pada kami, apa yang kau katakan pada maya secara diam-diam” Ucap paman


“Arnaf bertanya kenapa aku terus menatap malik paman, aku akan memberi taumu alasannya, aku menatap malik karna malik tidak memakai pakaian, aku hanya tidak menyangka bahwa dia begitu sexsy” ucapku


“Aku tidak tau kalau nona maya tertarik padaku, dan aku tidak menyangka kau bisa memujiku di hadapan kekasihmu” saut malik berjalan mendekat sambil menggenggam tangan wanita itu


“Hei wanita mesum, sadarlah. Tidakah kau lihat malik sudah memiliki wanita, apa kau tidak malu mengatakan hal itu dihadapan wanitanya” ucap arnaf


“jadi wanita ini adalah wanitamu?” tanyaku


“perkenalkan namaku adriana badzlin, aku istrinya malik” ucap wanita itu sambil menjulurkan tangan


“ kau sudah tau siapa akukan, jadi aku rasa aku tidak perlu memperkenalkan diriku” ucapku sambil menjabat tangan wanita itu,

__ADS_1


“ Karna kalian sudah berkumpul aku akan mengatakan tujuanku mengumpulkan kalian semua, aku akan bekerja sama dengan wander word dalam sebuah proyek, proyek ini adalah proyek persahabatan, aku sudah mengatakan ini pada Arnaf dan Malik, sekarang aku mengatakan pada mu maya, penting bagimu untuk mengetahui siapa yang akan menangani proyek ini, katakan padaku kau bisa mengatur waktu kuliah dengan pekerjaan bukan”


“ Ayah boleh aku tau kenapa maya terlibat dalam proyek ini” saut malik


“Karna MY adalah perwakilan dari wander word, bukan begitu tuan Rai” ucap Ali


“yang dikatan oleh ali benar, aku harap kalian bertiga bisa bekerjasama mewujudkan proyek ini” ucap paman


“Aku akan berusaha paman, tapi karna aku masih harus mengutamakan kuliahku aku tidak bisa menjanjikan apapun” ucapku


“Tidak masalah nak, kau hanya harus berusaha sempumu, jangan memaksakan diri, tetaplah jadikan kuliah prioritas sutamamu” ucap paman


“Paman jika tidak ada hal lain lagi bisakah aku membawa maya pergi?” tanya Ali


“Karna aku yang menjemput kalian, aku akan mengantar kalian juga” Ucap arnaf


Aku tidak menerima tawaran Arnaf ataupun menolak tawarannya, yang kuinginkan hanyalah menjau dari malik, kami berjalan keluar rumah, ali masih tidak melepaskan tangannya hingga aku nai ke mobil Arnaf,


Arnaf mengantarku pulang, di jalan aku hanya diam, dan Ali juga, Arnaf juga, aku tau mereka diam-diam melihatku sesekali di kaca mobil.


Arnaf membuka atap mobilnya, aku mengangkat kepalaku melihat jauh ke atas langit yang mulai memerah,jalanan yang semakin ramai...


“Arnaf ini bukan jalan pulang” ucap Ali


“ Aku mengambil jalan memutar, tidakah kau lihat dia begitu menyedihkan, kita akan berjalan-jalan sebentar setelah itu aku akan mengantar kalian pulang” bisik arnaf pada malik


Aku dapat mendengar suaranya itu, namun aku tetap diam, aku tidak punya tenaga untuk berdebat ataupun menangis.


Mobil Arnaf sudah berhenti, aku tau kita sudah sampai rumah, entah mengapa aku tak ingin beranjak dari mobil dan berpaling dari langit, sinar mega di langit membuatku merasa damai, entah sudah berapa lama aku memandangnya.


Arnaf memasangkan sabuk pengaman padaku, iya kembali menyalakan mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi, selang beberapa waktu ia berhenti, ia membuka sabuk pengamanku menarikku turun dari mobil, berjalam masuk kehutan , mendaki bukit berbatu, ia mendorongku ke laut dari atas tebing, aku membiarkan diriku tenggelam, jika harus berakhir maka biarlah,,, aku lelah menerima rasa sakit....

__ADS_1


__ADS_2