CINTA DAN BENCI YANG KURASA

CINTA DAN BENCI YANG KURASA
Kesalahan


__ADS_3

Inspektur Akmal membawaku kerumah sakit untuk di periksa, dokter bilang kakiku tergores peluru, lukanya tidak serius tapi obat bius yang ada dalam lapisan peluru juga mengenai kakiku hingga membuat otot-otot kakiku menjadi lemas jadi kakuku tidak akan bisa digunakan untuk berjalan dalam 3 jam kedepan, setelah mendengar pernyataan dokter aku marah pada inspektur Akmal, tapi dia berjanji akan bertanggung jawab untuk keadaan ini,


“ Tuan kau temannya maya, kau sudah membantuku menangkap Basel tapi aku bahkan tidak tau siapa namamu?” ucap Akmal


“aku Arnaf Raizada, aku datang dari negara S” ucap Arnaf


“ oh ya Arnaf, apa yang membawamu sampai kesini,”


“ Aku datang untuk menemui Mahirah, aku dengar dari berita hari ini dia kembali ke tanah air” ucap Arnaf


“ Ehem...ehem... Apa Mahirah membuat masalah denganmu juga” ucap Akmal sambil meliriku dengan maksud menggodaku


“ apapun urusanku dengan Mahirah itu bukan urusan kalian berdua” ucap Arnaf


Arnaf pergi keluar dari ruang perawatan, entah kenapa dari tiga jam itu aku merasa Arnaf cemburu pada Akmal, aku tidak tau ini hanya perasaanku saja atau dia memang cemburu,


inspektur Akmal heran melihat sikap Arnaf yang aneh, aku mengatakan padanya bahwa Arnaf tidak tau bahwa aku adalah Mahirah, aku meminta inspektur untuk mengantarkanku pulang, karna aku tidak ingin berada di rumah sakit lebih lama lagi, dia setuju dan mengantarku pulang,


Setibanya di rumah inspektur Akmal memapahku masuk dalam rumah, aku terkejut melihat Arnaf di rumahku, begitupun dengan Arnaf dan ibu mereka juga terkejut melihatku


“ Mahirah apa yang terjadi denganmu sayang, kakumu kenapa apa inspektur yang membuatmu seperti ini, katakan pada ibu nak tidak usah takut? ” ucap ibu dengan nada panik sambil berjalan ke arahku, ibu menarik tanganku dari pundak inspektur Akmal dan mendorongnya menjauh dariku


“menjauh dari putriku” ucap ibu dengan nada marah


“ Mahirah” ucap Arnaf dengan terkejut bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku, dia menariku dan menggendongku ke dalam kamarku, dia menjatuhkanku di atas tempat tidur dengan kasar, kemudian mengunci pintu, dia kembali menghampiriku dan membuatku tersudut di ujung tempat tidur


“ Kau Mahirah yaqzanah windarwan? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, kau membohongiku dengan mengatakan namamu Maya kenapa? Jawab aku switty” ucapnya dengan nada marah


Aku terkejut mendengar Arnaf memanggilku switty, aku mendorong tubuh Arnaf dan menjauhkannya dariku

__ADS_1


“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya Arnaf, hanya saja ayah memintaku menyembunyikan identitasku jika aku ingin kuliah di luar negri” ucapku


“Malik, Mahirah apa yang sedang kalian lakukan di dalam, kenapa kalian mengunci pintunya” teriak ibu dari luar kamar


Arnaf membuka pintu, aku terkejut karna ibu memanggil Arnaf dengan nama Malik


“ Ibu kenapa ibu memanggilnya malik” tanyaku


“ Karna dia memang Malik sayang, benarkan!...” ucap ibu sambil menatap Arnaf


“apa yang sedang terjadi sekarang, jika Arnaf adalah Malik lalu Malik itu siapa, apa dia adalah anak angkat yang dijadikan tameng oleh paman Rai, jika itu benar maka...Adriana..aku sudah menghukum orang yang tidak bersalah, aku harus memperbaiki kesalahanku, Tidak aku akan mengurus nya besok, ini sudah pukul 3 dini hari, kaki kiriku masih terasa sakit masih belum bisa dipakai berjalan dan aku merasa lelah” ucapku dalam hati


“ Mahirah kau melamun? Kau mendengar ibu atau tidak?” ucap ibu


“ Maafkan aku ibu, kepalaku sedikit pusing, tadi ibu mengatakan apa?” ucapku


“sudahlah... Kepalamu pusing nak kau istirahat saja, ayo ibu bantu kau berbaring, pejamkan matamu, ibu akan keluar, ayo Malik” ucap ibu sambil menyelimutiku


Pagi harinya.


Aku bersiap untuk pergi olah raga, kaki kiriku sudah normal kembali, meski luka goresannya masih terasa sedikit sakit, aku berjalan menuruni tangga, ibu datang menghentikan langkahku, aku menyapa ibu dan ibu membalas menyapaku, ibu melarangku untuk pergi olah raga tapi aku berhasil meyakinkan ibu untuk mengizinkanku pergi, dan akupun pergi, aku ingin lari dari semua masalah dalam hidupku, aku lari sekencang yang aku bisa, tiba-tiba salah satu pengawalku menarik tanganku dan menghentikanku, dia mengatakan bahwa kakiku berdarah, tapa ku sadari aku mengabaikan rasa sakit di kakiku, aku membeli dan mengobati lukaku di depan super market sebelum pulang karna tak ingin ibu hawatir, aku meminta pengawalku untuk tidak melaporkan ini pada ibu, aku pulang dengan kaki pincang dan nafas terengah-engah, aku pergi ke dapur untuk mengambil air kulihat Arnaf dan ibu tengah menyiapkan sarapan


“ ibu sudah mengatakan kau tidak boleh berolah raga dulu kenapa kau keras kepala” Ucap ibu mendekatiku, ibu mengambil gelas dan tempat air yang tengah ku pegang kemudian menuangkan air untuku


“ Minumlah nak, kau pasti memaksakan diri,” Ucap ibu sambil mengelus rambutku, ibu tau dari nafasmu yang terengah-engah, aku menatap ibu sambil tersenyum “ bersihkan dirimu, dan turunlah untuk sarapan” ucap ibu


Aku menganggukan kepala sambil tersemyum, aku kembali ke kamar dan membersihkan diriku, setelah selesai mandi aku menelpon Frida dan menanyakan dia ada di mana? Dan apakah tugas yang ku kirimkan lewat massage sudah dia selesaikan, aku turun ke bawah berlari kecil di tangga


“ Nona muda” teriak seorang pelayan

__ADS_1


Dia menghampiriku kemudia memapahku dia memintaku mengangkat kaki kiriku, ibu dan Arnaf menghampiriku dengan tergesah-gesah


“Ada apa? Apa yang terjadi nak? “ ucap ibu dengan khawatir


“kaki nona berdarah nyonya” ucap pelayan sambil membuatku duduk di kursi


“ lagi” ucapku sambil menghela nafas


“apa maksudmu lagi? Pelayan cepat ambilkan kotak obat” ucap ibu sambil melepas balutan perbanku secara perlahan


“itu tidak perlu nyonya aku ada di sini, aku akan mengobatinya?” ucap Inspektur Akmal


“Bagus kau di sini, cepat kemari dan obati lukaku, aku harus segera pergi” ucapku


“ kau tidak boleh pergi kemanapun sebelum lukamu sembuh, ini perintah” ucap ibu


Aku memperhatikan Arnaf, dia memalingkan wajahnya, kemudian pergi ke atas, aku bertanya-tanya apakah dia tidak peduli padaku,


“ katakan satu hal Nona CEO luka ini bukan karna tergores peluru saja, setelah mengantarmu aku pergi ke tempat itu lagi, aku melihat bercak darah dan tisu yang berlumuran darah di sudut kamar dimana kau disekap, pagi ini aku menerima laporan ronsen kakimu dari dokter, ada lubang yang cukup dalam dibawah goresan peluru, beritahu aku apa yang terjadi, kapan dan bagaimana luka itu ada di lakimu tapi kami tidak menyadarinya sejak awal?” ucap inspektur Akmal


Semua orang menatapku dengan cemas, ibu menitikan air mata


“ apa kau sangat suka menyakiti dirimu sendiri, jika kau tidak sayang pada dirimu sendiri setidaknya ingatlah aku melahirkan dirimu dangan melawan maut tidak bisakah kau hidup dengan baik untuk ibumu, 5thn yang lalu kau menyayat lenganmu sendiri, dan sekarang kau membiarkan kakimu berdarah, kau tau akan sangat berbahaya jika kau kehilangan banyak darah,” ucap ibu sambil menangis


“ sebelum kau melukai dirimu sendiri lagi, kau lenyapkan saja ibu mu ini, karna aku tidak sanggup melihatmu menyiksa dirimu sendiri seperti ini” ucap ibu sambil mengambil pisau buah yang terletak di meja dan memberikannya padaku, aku menepis tangan ibu hingga pisau itu terlempar, aku menarik ibu dalam pelukanku


“ ibu apa yang ibu katakan, jangan pernah berpikir begitu, aku sangat menyayangi ibu, ibu tidak perlu cemas, aku sudah hidup dengan baik, putrimu ini tertusuk paku saat mencoba melarikan diri dari Basel, tapi ibu Basel sudah mengobati lukaku, dia merawatku hingga aku bisa berjalan normal tanpa rasa sakit, itulah sebabnya inspektur tidak melihat lukaku”


Ucapku

__ADS_1


Lukaku sudah di obati, inspektur Akmal pamit karna dia masih banyak pekerjaan, frida mengatakan bahwa semua yang aku perintahkan sudah iya lakukan, ibu melarangku untuk pergi, jadi aku mengajaknya untuk pergi agar ibu bisa tau alasan aku harus pergi. Aku menceritakan semua perbuatan buruku di negara s pada ibu, bagaimana aku mempermainkan Malik hingga membuatnya jatuh tak berdaya, ibu marah dan aku mendapatkan jeweran telinga sangat keras sebagai hukuman, tapi aku senang ibu mengatakan bahwa dia akan membantuku menebus dosa yang telah ku lakukan itu tanpa harus mengungkapkan rahasia itu pada siapapun.


Adriana... I comeing


__ADS_2