
Ayah mengirim seorang wanita bernama frida yang usianya tidak beda jauh denganku, dia hanya satu tahun lebih tua dariku, aku merasa ada yang tidak berses, aku meminta ayah untuk memberiku posisi technical supervisior sejauh yang aku tau posisi itu tidak membutuhkan asisten, aku menelpon ayah untuk memastikn kembali posisi ku di kantor, dan ayah mengatakan aku akan menduduki posisi yang aku mau.
Aku pamit pada ibu dan berangkat ke kantor bersama frida, di sepanjang perjalanan Frida mengatakan jadualku hari ini dimulai dengan menghadiri rapat di gedung seminar untuk menyambutku, rapat itu akan dihadiri oleh para pemegang saham, dewan komisaris, dewan direksi, menejer keuangan, pimpinan anak perusahaan, deputi menagin direktur dan semua bagian penting dari perusahaan juga akan hadir untuk menyambit bergabungnya aku dalam perusahaan, aku semakin merasa janggal, aku sadar aku adalah purti dari pemilik perusahaan tapi ini terlalu berlebihan, sesampainya di sana pak Ritwan yang merupakan anggota dewan direksi merangkap wakil ayah menyambutku dan langsung membawaku ke tempat rapat, semua orang yang tengah duduk serentak berdiri dan memberi salam padaku, karna semua orang sudah berkumpul, pak Ritwan membuka rapat dengan memperkenalkan aku sebagai Technical Supervisior yang baru, semua orang yang hadir terlihat terkejut mendengar pengumuman itu, para anggota dewan direksi menolak aku menduduki jabatan itu, mereka mengatakan sebelum aku pindah kuliah aku bekerja dengan baik sebagai CFO ( Chiep Financial Officer) bagaimana mungkin posisiku kemudian turun menjadi Tachnical Supervisior, mereka bersikeras memaksaku untuk menjadi CEO (Chief Executive Officer), semua orang setuju dengan angota dewan direksi aku tidak bisa melakukan apapun selain menyetujuinya,
Setelah selesai rapat aku menghubungi ayah untuk menceritakan masalah ini, dan inilah kenapa ayah mengirim frida sebagai asistenku, ayah sebagai ketua dewan komisaris dan pemegang saham tertinggi bisa memasukan aku dan memberiku jabatan tapi pada akhirnya yang memutuskan adalah para anggota dewan, ayah sudah memprediksi apa yang akan terjadi, aku meminta turun dari jabatanku tapi mereka ingin aku naik jabatan, sejujurnya aku tidak percaya diri tapi ayah bilang aku hanya harus bekerja dengan baik, sisanya serahkan pada waktu dan keadaan, dan aku melakukan itu.
Hari-hari berlalu dan aku hanya sibuk dengan setumpuk pekerjaanku, aku berusaha lari dari perasaanku sendiri, aku fokus dengan pekerjaanku Hingga tak memiliki waktu untuk terus memikirkan Arnaf, meski sesekali aku masih mengingat dia.
“Nona aku dengar HRD sudah mendapatkan seseorang untuk mengisi bagian Technical supervisior” Ucap Frida tiba-tiba masuk ruanganku dengan tergesah-gesah
“ baru sebulan kau bekerja denganku tapi kau sudah bertingkah” ucapku
“ kali ini apa lagi salahku nona?” ucapnya dengan wajah suram
“ Kau lupa mengetuk pintu lagi,” ucapku
“ maaf nona aku terburu-buru masuk karna aku pikir berita ini pasti penting bagimu” ucapnya
“ Kabar ini tidak penting bagiku, tapi bagus juga kau mengatakannya, sekarang katakan apa kau membawa profil pegawai baru itu?” tanyaku sambil menatapnya
“ nona kenapa kau perlu profil pegawai baru itu, dia akan kemari nanti, kau bisa mengetahui semuanya secara langsung, itu bagus kan!” ucapnya sambil mengangkat halis
“ aku hanya bercana nona, tentu saja aku membawanya” sambungnya lagi
Aku memintanya meletakan profil pegawai baru itu di meja lalu memintanya pergi, melihat sikapnya yang ceria dan sering bersikap konyol hanya untuk membuat orang lain tersenyum, dan juga kepolosannya itu aku seperti melihat diriku sendiri di masa lalu, dulu aku juga sering bersikap konyol hanya karna aku tidak suka melihat orang lain bersedih, dulu aku bisa merasa bahagia hanya karna hal kecil, tapi itu dulu, entah kenapa rasanya sekaran kebahagiaan enggan mendekat padaku.
karna sikap frida aku melamun sampai tak sadar bolpoin ku terlepas dari tanganku, aku mencari-cari di meja namun tak ku temukan aku mencari ke bawah meja, terdengar ada orang yang membuka pintu kemudian masuk, aku tau siapa yang masuk ruanganku tanpa mengetuk pintu, siapa lagi jika bukan frida, pikiran jahil melintas di kepalaku, aku akan bersembunyi di bawah meja, frida pasti akan mencariku di luar, biar saja dia mencariku sampai ia lelah
__ADS_1
“ Nona tidak ada di ruanganya, sepertinya dia keluar, aku akan mencarinya” terdengar suara frida
“bagus frida pergi carilah aku sampai kau lelah” ucapku dalam hati
“ Nona frida tunggu, aku hanya dengar tentangnya dari temanku, aku ingin tau nona Mahirah itu orangnya seperti apa?” terdengar suara seorang pria
“ Dia adalah contoh wanita sempurna tapi dia juga sangat kejam jika kau melakukan kesalahan kau akan dihabisi olehnya, apa kau tau,
diam-diam aku keluar dari tempat persembunyianku dan berdiri di belakangnya
“benarkah, lalu menurutmu apa dia akan memaafkan perkataanmu ini” ucapku
Pria itu memberi kode dengan matanya pada frida tapi iya tidak menyadarinya dan terus saja bicara
“Tentu saja dia akan memaafkanku, kau tau kenapa, karna dia takut padaku”
Pria itu hanya terdian, Frida berbalik dan melihat ke arahku, dia nampak terkejut melihatku di belakangnya
“ Tidak ada nona, aku hanya bicara tentang cicak, aku bilang cicak takut padaku, nona dari mana saja? Aku mencari nona sejak tadi.” ucapnya dengan panik
“ kau sebut aku cicak”
“tidak nona mana mungkin aku berani”
“ apa kau pikir aku ini tuli frida, aku tidak pergi kemanapun, tadi aku ada di bawah meja untuk mengambil bolpoinku yang jatuh dan aku mendengar semuanya, sekarang pergi ke luar dan berdiri dengan satu kaki di depan ruanganku sekarang” ucapku dengan nada marah
Frida menuruti perkataanku, dia ke luar dan berdiri di depan pintu dengan satu kaki, aku berbicara dengan pria yang dibawa masuk oleh Frida
__ADS_1
“ Siapa kau”
“ Nona dia...” saut frida dari luar ruangan
“ Apa aku bicara denganmu, tarik kedua telingamu dengan tangan menyilang” ucapku dengan marah
“ Kau tidak perlu memarahinya sampai seperti itu, Namaku Akmal khan,”
Akmal khan, nama itu tidak asing bagiku, dia adalah rekan kerja Zian dalam kepolisian, aku ingat Zian pernah menyebut namanya dan memuji-muji dia, dia memiliki prestasi dan reputasi yang baik di kepolisian.
Aku mempersilahkan Akmal untuk duduk, namun aku keluar dari ruanganku, aku menghampiri frida dan bertanya
“Frida kapan pegawai baru itu akan menemuiku?”
“ Syukurlah nona tidak berpikir pria itu adalah pegawai baru, ternyata aku cemas tanpa alasan, nona pegawai baru itu akan datang setelah menyelesaikan formalitas di bagian HRD” Ucapnya
“ Bawa dia menemui pak Ritwan, aku akan mengirim pesan pada pak Ritwan, pergilah...”ucapku dengan tegas
Aku kembali keruanganku dan duduk bersama Akmal
“Maaf membuatmu menunggu, kau adalah seorang inspektur jendral polisi, yang aku katakan benar bukan! Ada urusan apa kau denganku”
“ bisakah kau membantuku nona”
“ bantuan apa yang kau inginkan dariku?”
“aku ingin kau jadi kekasihku”
__ADS_1
“Kenapa?”