
Aku dan cote masuk ke kamar mandi bersamaan, cote menyiramku dengan air, dan aku juga melakukannya, ibu berteriak dari luar
“ hentikan perkelahian kalian sekarang juga”
“ Arnaf keluar dari kamar mandiku, aku mau mandi” ucapku
“ aku tidak mau, jika kau mau mandi, mandi saja, aku tidak akan melarangmu, lagi pula ibumu tidak memintaku untuk mandi juga, ayo kita mandi sama-sama sayangku” ucap Arnaf
“ Apa kau sudah gila, aku tidak mau, pergi dari kamar mandiku,” Ucapku sambil mendoronghuuh Arnaf keluar dari kamar mandi
Aku membersihkan diri sambil menggerutu, saat aku keluar Arnaf tengah duduk di tempat tidurku, dia mengatakan bahwa dia akan pergi, tapi aku mengabaikannya, dia terus mengatakan dia akan pergi tapi aku terus mengabaikannya, aku bersikap seolah dia tak ada, aku berangkat ke kantor, sesampainya di kantor aku menyibukan diri dengan pekerjaan, aku juga meminta Frida memadatkan jadwalku, aku hanya ingin melupakan bahwa aku pernah mencintainya, aku ingin melupakan bahwa ia pernah ada dalam hidupku,
Setiap hari aku menyibukan diri dengan pekerjaan, rutinitasku sehari-hari hanya kantor dan rumah, saat akhir pekan aku menyibukan diri dengan kencan buta yang di atur oleh frida, aku tidak pernah menyangka Frida tidak hanya menjadi asisten yang baik, tapi dia juga pendengar dan teman yang baik, aku berhasil membawa kemajuan dalam perusahaan atas kerja keras Frida juga,
“ Frida siapa pria yang akan ku kencani besok” tanyaku
“Nona sebenarnya aku sudah berhenti mencarikan teman kencan untukmu”
“Kenapa?”
“ aku merasa bingung, aku tidak tau pria seperti apa yang nona sukai, sudah lebih dari dua bulan aku mencari pria, aku memilihkan pria yang terbaik dari semua pria yang ada, tapi nona selalu punya alasan untuk menolak mereka semua, nona sudah berkencan sembilan kali, dan dari sembilan pria itu tak ada satupun yang membuat nona tertarik dan jatuh cinta, aku lelah dengan semua ini nona”
“ Jadi kau tidak mau menjalankan tugas dariku, jika aku tidak berkencan besok maka besok kau harus temani aku di kantor, mulai besok kau akan bekerja di hari libur sama seperti sekertaris anggota dewan”
__ADS_1
“ nona aku berhenti mencari pria tapi bukan berarti besok nona tidak akan berkencan”
“apa maksud ucapanmu, aku tidak mengerti”
“ Nona pasti tau Aditya pratama, putra tunggal dari tuan pratama pemilik perusahaan konstruksi terbesar di negara ini, Aditya pratama tengah sibuk mengurus karirnya di bidang entertain, sabtu kemarin dia datang ke acara amal yang nona datangi bersama menejernya, dan menejernya mengatakan Aditya tertarik pada nona dan meninta nomer nona, aku tidak memberikan nomer nona tapi aku mengatakan bahwa jika dia mau, dia bisa berkencan dengan nona, dan dia setuju, besok nona akan berkencan dengannya, dan kali ini nona tidak akan punya alasan untuk menolaknya, karna dia adalah pria tertampan abad ini”
“ kau begitu percaya kencan kali ini akan sukses, bagaimana jika kali ini juga gagal, apa kau akan mencari pria lain atau bekerja di hari libur?”
“ Nona kencanmu berhasil atau tidak minggu depan tidak akan bekerja di hari libur, jika kencan nona gagal maka aku akan pergi menemui tuan windarwan, dan meminta beliau menjodohkan nona dengan seseorang, aku yakin nona tidak akan bisa menolaknya”
“apa kau sedang mengancamku”
“tidak nona aku hanya bercanda, kencannya sukses atau tidak minggu depan aku yang akan mengajakmu berkencan, tapi meski nanti nona tertarik padaku aku tidak akan menikahi nona”
Aku bertanya kepada Frida, dia akan mengajaku ke mana? tapi dia bilang rahasia, sepertinya aku terlalu baik padanya, hingga dia berani bermain-main denganku
Keesokan harinya.
Saat aku terbangun di pagi hari, aku mendapati Frida mengirimiku pesan yang isinya Aditya akan menjemputku pukul 7. Ini sudah pukul 6:30 tapi aku dan penampilanku belum juga siap.
Siapa yang dapat menyangka, dia seseorang yang tidak ku kenal tapi dia menjemputku layaknya seorang kekasih, dia menyapaku dengan hangat dan membukakan pintu mobil untuku, aku sudah terbiasa seseorang membukakan pintu mobil untuku, jika itu gadis lain mungkin dia sudah akan jatuh cinta pada Aditya,
Kami melakukan perjalanan melewati tempat yang belum pernah orang singgahi sebelumnya, jalan yang sunyi melintasi batas pusat kota, menuju kota Oliver, kota yang dikenal dengan kesederhanaannya, ada satu yang istimewa di kota ini, terdapat jalan di samping lautan pasir menuju bukit tinggi, bukit ini sangat indah, di sana kita memanen buah bersama, kemudian mengolahnya menjadi makanan siap saji, ada yang di jadikan keripik ada juga yang di jadikan jus, tempat ini jarang di kunjungi, karna di negara ini minat untuk melakukan pertanian sangat minim, orang-orang lebih banyak tertarik pada gemerlap kota dibandingkan keasrian sebuah kota kecil, kesenangan ini kami akhiri dengan melihat matahari terbenam di jalan buntu di atas bukit sambil berbincang
__ADS_1
“ Apa kau selalu di ikuti oleh ke4 pengawalmu itu” tanya Aditya
“ ya mereka selalu ikut kemanapun aku pergi, kenapa apa kau merasa tidak nyaman”
“ tidak juga, tapi aku penasaran denganmu”
“ Awalnya aku merasa sangat tidak nyaman, tapi jika mereka tidak ada di sisiku aku akan sangat kehilangan, jangan berpikir aku akan mengusir mereka karna kita sedang berkencan, meski kau memintanya aku takan melakukannya, jika kau memang merasa tidak nyaman kau anggap saja mereka tidak pernah ada”
“ kita bisa hidup di sebuah dunia yang kita rancang, sejuta mimpi membuat kita terjaga, sebuah visi kita buat untuk memastikan segala hal akan terjadi sesuai dengan sejuta mimpi yang kita ciptakan, kutipan ini adalah motivasi dalam hihupku” ucapnya dengan lembut
“ itu kutipan yang bagus tuan Aditya, dengarkan sebuah kutipan ini juga, ‘bagaimana aku cinta saat aku takut jatuh? Selangkah lebih dekat, berpikir sekali lagi tentang mengambil jalan keluar yang mudah, aku bisa melihatmu tersenyum padaku, bagaimana aku bisa tau jika ku lepaskan dirimu?’ “ ucapku
“ apa maksud dari kutipan itu nona Mahirah” ucapnya sambil tersenyum
“ kau akan tau pada saatnya nanti tuan Aditya”
Matahari sudah terbenam, dan waktu semakin larut saat kami berkendara menuruni bukit, kami sampai di rumah tepat jam 9 dan ibu sudah menungguku dengan cemas di depan rumah, Aditya langsung pulang setelah mengantarku kembali, ibu sedikit marah karna aku sulit untuk di hubungi, mau bagaimana lagi, ini kencan yang cukup menyenangkan hingga aku lupa mengisi daya ponselku, kencan ini mengingatkanku pada kejadian saat aku tengah bersedih, Arnaf bembawaku keluar kota dan menjatuhkanku ke laut, meski setelah sekian lama aku ternyata masih belum bisa melupakan dia sepenuhnya, Aditya pada dasarnya adalah orang yang baik, tapi dia terlalu dikendalikan ketenarannya, meski tidak mengatakannya tapi aku tau ibu tidak menyukai Aditya.
Keesokan harinya.
Aku bangun di pagi hari dan melakukan aktifitasku seperti biasanya, tapi kemudian keadaan berubah dan perubahan itu Adityalah yang membawanya
“ Mahirah tidak pernah mengampuni orang yang mengusik ketenanganya
__ADS_1
“aku menunggu kau melakukan apa yang aku inginkan....sayang...