CINTA DAN BENCI YANG KURASA

CINTA DAN BENCI YANG KURASA
Kembali Ke Negara S


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan sangat lambat, selalu saja ada pertanyaan baru setiap harinya, harga saham terus menurun, para anggota dewan dan pemegang saham terus saja mengeluh padaku setiap harinya, wartawan tidak henti-hentinya menelpon dan suara telpon yang terus berdering setiap saat membuatku geram


“Cukup sudah, kesabaranku sudah tak lagi bisa ku bendung , it’s showtime. Frida siapkan keberangkatan ke negara S, kita pergi sore ini juga, cepat kau juga harus bersiap” Ucapku


“ Nona apa aku juga harus ikut?”


“ Jika kau tidak ikut, siapa yang akan mengurus keperluanku, apa aku harus mencari asisten lain?”


“ Tidak perlu nona, aku akan ikut dengan nona”


Aku kembali ke rumah untuk menyiapkan barang-barangku sementara Frida juga kembali ke rumahnya untuk bersiap-siap. Aku bertanya pada pelayan rumah Apakah ibu sudah pulang atau masih di lestoran? mereka mengatakan bahwa Ibu masih di restoran dan belum juga kembali, kemudian aku menelepon ibu dan bertanya Kapan ibu akan kembali dari restoran, aku juga mengatakan bahwa aku akan pergi ke negara S bersama Frida, ibu mengatakan bahwa dia masih ada urusan yang harus diselesaikan, beliau meminta ku pergi terlebih dahulu dan akan menyusul esok hari, semua barang-barang yang harus dibawa sudah selesai dirapikan,semua berkas juga sudah di siapkan.


Sore harinya Aku berangkat ke negara S bersama Frida, Setibanya di sana aku langsung ke rumahku, tempat yang sama yang aku tinggali Semasa aku kuliah, aku dan Frida memutuskan untuk Langsung istirahat karena lelah setelah menempuh 3 jam penerbangan, Ayah terkejut saat melihat aku dan Frida ada dirumah setelah kembali dari lokasi proyek, Ayah bertanya kenapa aku dan Frida sampai lebih awal dari waktu yang seharusnya, Aku mengatakan pada ayah aku sudah kesal mendengar keluhan dari para anggota dewan dan para pemegang saham, aku juga lelah mendengar suara telepon yang tidak kunjung berhenti, Aku mengatakan pada ayah bahwa aku siap tampil di hadapan publik pada saat acara pembukaan GF.


Setelah bicara dengan ayah aku pergi untuk tidur


*Aku terbangun di padang bunga, aku berjalan menuju jalan besar, matahari yang begitu terik sinarnya berubah menjadi hitam pekat, semuanya menjadi gelap hingga aku tidak bisa melihat apapun, aku mulai merasa ketakutan, aku berteriak tapi suaraku tiba-tiba menghilang “seseorang tolong aku, aku tak mau sendirian” suara jerit hati yang ketakutan dalam diriku, aku mendengar suara mobil dari belakangku, aku merunduk dan menutup mata karna takut tertabrak, namun aku mendengar suara mobil berhenti, perlahan aku membuka mataku, cahaya dari lampu mobil itu menyilaukan mataku, aku menutup mataku dengan tanganku, aku melihat dari sela-sela jariku seorang pria turun dari mobil, dia mengulurkan tangannya dan aku meraihnya dengan perasaan bahagia, aku tidak bisa melihat wajahnya namun aku bisa melihat sinar matanya yang begitu hangat dan tak asing...


Tiba-tiba keadaan sekitar menjadi terang, aku melihat Arnaf yang memegang tanganku.*

__ADS_1


Aku membuka mataku dan ternyata malam telah berlalu


“Tidak...mimpi itu lagi, kenapa aku selalu memimpikan hal yang sama, sampai kapan mimpi itu akan terus datang.” ucapku bicara pada diri sendiri


Aku bangun dari tempat tidur dan bersiap untuk olah raga, aku olah raga bersama Ayah sementara Frida tetap di rumah dan menyiapkan sarapan, setelah olah raga aku membersihkan diri kemudian sarapan bersama, setelah sarapan aku dan Frida ikut bersama ayah pergi ke lokasi GF, Ayah mengurangi kecepatan berkendara saat tiba di lokasi, agar kami bisa melihat pemandangan yang indah menghiasi pinggir jalan, kemudian Ayah memarkirkan mobil di lokasi parkir, lokasi parkir itu nampak tidak asing bagiku, hutan di depan tempat parkir adalah hutan yang sama yang ada di Balik Bukit, tempat dimana arnaf pernah mendorongku ke laut, kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, Sejak pertama kali masuk, aku melihat perbedaan yang sangat jauh dibandingkan pada saat pertama kali aku mengunjungi tempat ini, tempat yang dulu lusuh kini menjadi tempat yang sangat indah untuk dikunjungi, selain bangunan yang tampak cantik bunga-bunga dan pohon-pohon juga tumbuh dengan subur, aku melihat begitu banyak orang yang tengah sibuk mempersiapkan acara pembukaan GF besok, Saat tengah berjalan-jalan aku melihat Arnaf di tepi jalan, dia tidak berbalik, aku berpikir Apakah aku harus menyapanya atau terus berjalan, aku memisahkan diri dari ayah dan Frida berjalan mendekatinya dan memutuskan untuk menyapanya, namun saat aku mendekat,aku melihat dia sedang menelpon, entah siapa yang sedang diajak bicara olehnya, namun dia terlihat kesal dan marah karena sesuatu. aku mengurungkan niatku untuk menyapanya, kemudian aku mengambil mp3 player di dalam tasku, aku hendak mendengarkan musik yang aku suka, aku berjalan melewatinya,


“ aku disini cote, Apa kau tidak bisa melihatnya” ucapku dalam hati


Arnaf kemudian memegang tanganku, langkahku terhenti, dia mengakhiri pembicaraannya di telepon, tersenyum padaku, senyuman yang indah yang tidak pernah kulihat lagi sejak dia pergi hari itu,


“Hai sayang apa kabar?”


“seharusnya kisah cinta kita tidak berakhir seperti ini” ucapku dalam hati


Dia mencopot earphone yang terpasang di telingaku kemudian mengulangi pertanyaannya


“Bagaimana kabarmu” ucapan arnaf sambil menyentuh bahuku dengan lengannya


“aku baik-baik saja, Bagaimana dengan mu?”

__ADS_1


“aku juga baik “


“aku tahu kau lebih baik dari itu, Bagaimana tidak, bila kau mendapatkan seseorang yang kau cintai dan kau bisa terlepas dari janji yang tak bisa kau tepati, Bagaimana kau tidak akan baik-baik saja “ucapku dalam hati


“Apa kau sudah bertemu dengannya?” ucapku


“siapa”


“kekasihmu”


“ Aku menemuinya hari ini dia baru tiba di negara ini kemarin malam, apakah kau ingin bertemu dengannya?”


“Tidak! aku tidak ingin menemuinya dan jangan pertemukan aku dengannya, karena jika aku lepas kendali maka dia akan tiada di tanganku”


“Benarkah! kau tidak akan bisa melakukan apapun kepadanya, Dia sangat hebat, dia tidak akan bisa kau sentuh, meski kau berusaha kau tidak akan bisa melenyapkannya, Dia adalah kekasihku”


“Terserah apa katamu, lanjutkan Apa yang sedang kau lakukan, aku pergi”


Aku meninggalkan Arnaf di sana dan kembali pada ayah dan Frida, Arnaf terus saja melihat ke arahku tapi aku mengabaikannya, aku bertanya pada Frida sejauh mana dia sudah mengerti tentang proyek ini, frida mengatakan bahwa dia sudah cukup banyak tahu, tapi dia masih harus banyak tahu lagi, dari belakang aku mendengar suara seseorang memanggilku

__ADS_1


“Mahirah....


__ADS_2