
Ini pertama kalinya Arnaf mengabaikanku, aku mengejarnya dan menarik lengannya untuk menghentikan langkahnya
“Arnaf “
“ Ada apa? Cepat katakan, aku tidak punya waktu untuk main-main denganmu?”
“ Arnaf ada apa denganmu?, kenapa kau bersikap dingin padaku? Apa aku melakukan kesalahan hingga membuatmu marah?”
Dia pergi tanpa menjawab satupun pertanyaanku, entah ada apa denganya, sangat menyebalkan. Lihat saja, aku tidak akan datang dan menemui Arnaf lagi sebelum dia datang dan menemuiku. Aku kembali ke rumah tapi tidak tau harus berbuat apa, aku berpikir untuk pergi ke rumah paman Rai dan menemui Malik, mungkin suasana hatiku akan membaik, setibanya di sana aku mendengar paman Rai berteriak memarahi Malik, suaranya sangat keras hingga aku bisa mendengarnya dari depan pintu kamar Malik
“ sampai kapan kau akan terus berdiam diri dan tidak melakukan apapun, apa aku membesarkanmu hanya untuk melihatmu terpuruk hanya karna seorang wanita, sadarkah dirimu dengan apa yang kau lakukan, kau sudah mengabaikan tanggung jawab dan kewajibanmu, jika kau tidak mau melakukan kewajiban dan tanggung jawabmu lagi, aku akan melemparmu kejalanan, kau bisa lakukan apapun sesuka hatimu”
Paman Rai keluar dari kamar dan terkejut melihatku berdiri di depan pintu
“ Nak kau di sini?”
“ Maaf paman sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat?” ucapku
“ kau datang di waktu yang tepat, kebetulan aku sedang butuh teman minum teh”
Aku dan paman minum teh bersama di pinggir kolam, kami berbincang-bincang tentang banyak hal, tiba-tiba seseorang menepuk pundaku
“ Apa ini si cantik switty”
Aku terkejut dan memalingkan wajah
__ADS_1
“ Tante Rana” Ucapku sambil memeluknya
Ternyata dia adalah tante Rana Raizada istri dari paman Raizada ibunya Malik, selama ini tante rana sibuk mengurus bisnis dan menyelenggarakan fashion show di berbagai negara jadi setiap tahun selama 6 bulan beliau tidak ada di rumah, pergi dari satu kota ke kota lain, aku berbincang dengan tante dan paman, membicarakan masalalu, tante menceritakan saat Arnaf sekolah menengah tinggi dan kuliah, Arnaf begini, Arnaf begitu, tapi beliau tidak menceritakan apapun tentang Malik, aku juga tidak bertanya karna aku tidak ingin tau tentang hidupnya. Aku melihat Malik berpakaian rapih, ia berjalan menuju keluar rumah, aku pamit pada paman dan tante, kemudian aku mengikuti Malik, setelah tiga bulan ini pertama kalinya malik keluar rumah, aku ingin tau dia pergi ke mana? , ternyata dia pergi ke hotel, dia yang biasanya tersenyum ramah kini senyumnya menghilang, melihat dia aku merasa seperti melihat robot yang diciptakan hanya untuk bekerja, aku bergegas pergi dari hotel karna tidak ingin bertemu dengan Arnaf.
Hari-hari berganti, tapi aku masih bermalas-malasan di rumah, entah sudah berapa lama aku tidak bertemu dengan Arnaf, dia juga tidak datang menemuiku, aku berpikir apa Arnaf tidak menyadari aku menghilang darinya, aku ingin melihat Arnaf, memandang wajahnya namun aku tidak punya alasan untuk menemuinya, di tambah lagi sikapnya terakhir kali itu sangat menyebalkan
“ Rasa rinduku ini tidak tertahankan, tak bisakah dia datang menemuiku” Ucapku dalam hati
Apa yang baru saja aku harapkan, kenapa aku berharap Arnaf ada di sini, tertawa bersamaku, biasanya dia selalu mempermainkanku dan membuatku kesal, Aku melihat foto-foto Arnaf yang diam-diam ku ambil dan ku simpan dalam ponselku
“rasa rindu ini tidak cukup hanya melihat potretnya” ucapku bicara pada diri sendiri
Ada apa dengan diriku, haruskah aku pertahankan egoku ini, atau melupakannya dan menemuinya.
Ku pejamkan mata dan kulihat kenangan masa lalu, mengingat kembali kenangan yang telah ku lalui bersamanya hanya membuatku semakin merindukannya. Aku tidak yakin Arnaf akan tau, tapi saat pertama bertemu dengannya, aku sangat membencinya, sama sepeti kebencianku pada malik karna dia sudah menghancurkan semua mimpiku, dia menciri pelukan dan ciuman pertamaku, tapi seiring berjalannya waktu keberadaannya di sisiku membuatku merasa bahwa aku telah menemukan bagian yang hilang dalam hidupku, akankah Arnaf mengetahuinya, aku ingin dia datang dan hadir di setiap mimpiku
Aku bahkan tidak bisa tidur siang karna terus memikirkan Arnaf,
Aku memutuskan untuk berkendara dibawah terik matahari, melarikan diri dari kota sebentar saja, tanpa ku sadari aku berada di tepi pantai, aku menatap tepian air, melihat garis dimana langit bertemu dengan lautan, melihat matahari terbenam, cahayanya yang seakan menyinari lautan, indah meski menyilaukan, tak ada yang tau seberapa dalam cahaya itu menembus air,
Aku tidak ingin menemui Arnaf tapi suara di hatiku mengatakan hal berbeda, aku duduk dalam mobil menarik tuas kursiku agar aku bisa berbaring di dalam mobil, dan aku membuka atap mobilku
“ saat dia ada aku selalu kesal padanya tapi saat dia tidak ada aku justru merindukannya, hari semakin gelap aku akan menatap rembulan dan menikmati taburan bintang sebentar, setelah itu pulang” ucapku bicara pada diri sendiri
Aku melihat Arnaf berdiri di dekatku
__ADS_1
“ Apa yang sedang kau lakukan?” ucap Arnaf
“ ada yang salah dengan diriku, sepertinya aku harus melupakan egoku dan menemuinya sebelum menjadi gila” ucapku
“ Siapa yang ingin kau temui, Ibas?” ucap Arnaf
“Wah luar biasa, bahkan dalam hayalanku Arnaf terlihat tampan saat sedang marah karna cemburu” ucapku sambil memandang wajahnya
“ hayalan, aku ini nyata dan aku sedang tidak cemburu” ucapnua sambil duduk di kursi sebelahku
“ hahaha... Aku benar-benar gila jika aku menganggap ini semua nyata, lagipula Arnaf mana mungkin ada di sini, dia pasti tengah sibuk mengurus hotelnya” ucapku sambil terus menatapnya
“ Bangunlah dari tidurmu” ucap Arnaf sambil mencubitku
“ Awww... Kau benar-benar nyata? Tapi sedang apa kau di sini” ucapku
“aku disini untuk bekerja tidak sepertimu yang selau bersantai sepanjang hari, huh (menghela nafas) ban mobilku pecah antar aku pulang sekarang” ucapnya memerintah dengan sombong
Terakhir kali bertemu Arnaf dia bersikap dingin padaku, dia tidak menghunungiku sama sekali, dia juga tidak minta maaf, sekarang tiba-tiba dia muncul di hadapanku, dan saat bertemu dia memerintah dirkku, aku tidak bisa menerima hal ini, “haruskah aku mempermainkannya untuk memberinya pelajaran, selama ini dia selalu mempermainkanku dan membuatku kesal, sekarang giliranku” Ucapku dalam hati sambil tersenyum
“ tidak, aku tidak mau mengantarmu pulang, aku belum selesai menikmati pemandangan malam, (aku turun dari mobil) jika kau ingin pulang segera (membuka pintu mobil) kau jalan kaki saja” ucapku dengan sombong, sambil menariknya keluar dari mobilku
Dia menyentuh pipiku dengan kedua tangannya yang lembut dia menarik tanganku dan membuatku tersudut diantara dirinya dan juga mobil, dia berada sangat dekat denganku, aku menahan diri agar tidak tersenyum, aku mendorongnya dan menjauhkannya dari diriku, tapi dia menarik tanganku dan menghentikan langkahku yang hendak menjauh darinya, dia berjalan mendekatiku, aku mengambil langkah mundur untuk menjauhkan diri darinya, langkahku terhenti karna ada mobil di belakangku, lagi-lagi aku tersudut karnanya, tangannya yang lembut menyentuh wajahku dengan lembut, dia menyibakan rambutku ke belakang telingaku, aku memalingkan wajah karna merasa malu, aku tidak ingin dia melihat wajahku yang memerah karnanya, perlahan wajahnya semakin mendekati wajahku, Arnaf membuka pintu mobil dan mendudukan diriku, aku tidak bisa bergerak bebas karna dia menaruh tangannya di samping kepalaku, wajahnya semakin mendekat, jantungku berdegup sangat cepat, apa yang ada di pikiranku, otaku berpikir liar, apa yang aku harapkan
“Arnaf “ Ucapku dengan nafas berat
__ADS_1
“ ini pertama kalinya bagimu kan! Aku bisa tau dari nafasmu yang menjadi berat, tenang saja, aku akan melakukannya dengan hati-hati...”
“Arnaf jangan...