
Arnaf memasangkan sabuk pengaman padaku, iya kembali menyalakan mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi, aku bisa merasakan hembusan angin begitu kencang, tanpa sadar aku menggenggam sabuk pengaman dengan begitu kuat, Arnaf menyetir sambil sesekali melihatku dari kaca mobil. Beberapa waktu kemudian ia berhenti, ia membuka sabuk pengamanku menarikku turun dari mobil, berjalam masuk kehutan , mendaki bukit berbatu, ia mendorongku ke laut dari atas tebing, aku membiarkan diriku tenggelam, aku menutup mataku, jika harus berakhir maka biarlah,,, aku lelah menerima rasa sakit, apa yang malik lakukan 5thn lalu membuat hatiku berdarah, jiwaku terasa mati, aku bertahan hanya untuk mendapatkan jawaban, kenapa ia melakukan semua ini padaku, sekarang aku sudah tau segalanya, alasan itu sekali lagi membuat hatiku berdarah, kini tak hanya jiwaku, nyawakupun akan tiada, semoga kau selalu bahagia Arnaf kau tidak tau yang kau lakukan hari ini adalah kebaikan.
Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku menarik tubuhku mencengkram kepalaku, bibirku menyentuh sesuatu, aku membuka mataku, aku mendapati Arnaf sedang menciumku, ia mencuri ciuman pertamaku di dalam air, dia sudah menghancurkan mimpiku, aku berusaha melepaskannya, namun cengkramannya begitu kuat, satu tangannya memegang kepalaku, dan yang lainnya merangkul pinggangku, tanpa sadar aku menikmatinya, rasanya seluruh tubuhku menjadi panas diantara air laut yang dingin.
iya menariku ke permukaan, aku sangat marah
“Arnaf Raizada, apa yang kau lakuka?, kenapa kau menciumku? “ tanyaku dengan nada tinggi
Iya tersenyum, kemudian ia mencengkram wajahku dengan kedua tangannya, aku sangat terkejut, aku pikir dis akan menciumku lagi, tetapi yang terjadi ia memalingkan wajahku ke arah barat
“ berhenti bicara, ini bukan saatnya, lihatlah matahari terbenam, sangat indah bukan?” ucapa arnap
Entah mengapa aku menuruti kata katanya, aku melihat matahari terbenam dengan sinar mega disekitarnya, aku belum pernah menikmati matahari terbenam diatas permukaan laut ternyata sangat indah,
Matahari sudah tenggelam, akupun mulai tersadar
“Arnaf apa rencanamu, kenapa kau menciumku tadi, apa semua ini?”
“Aku tidak punya rencana apapun, ayo berenang ke tepian”
Aku sangat kesal, dia sudah menghancurkan mimpiku, dan tidak menjawab pertanyaanku, tanpa sadar aku malah mengikuti perkataannya, Kami berenang hingga ke tepi pantai,
“Arnaf tempat apa ini?”
__ADS_1
“ini adalah lokasi proyek persahabatan”
“Arnaf, aku kedinginan”
“Duduklah, aku akan menyalakan api?, Aku juga akan mencari makanan, kau pasti laparkan?”
Dia menyalakan api, menangkap ikan, dan membakar ikan, sementara aku hanya duduk dekat api, dan memperhatikannya
“aku tidak tau apa masalahmu, apapun itu dengarkan aku, tidak ada waktu yang kembali seperti dulu, baik itu pertemanan ataupun hubungan semuanya akan berubah, kau akan bisa merasakan indahnya hidup ini jika kau bisa menerima setiap perubahan yang datang dengan hati yang lapang” ujar Arnaf sambil membakar ikan hasil tangkapannya
“Bicara itu mudah, tapi kenyataan tidak semudah itu” ucapku sambil merebut ikan yang sudah matang dibakarnya
“Apa kau begitu kelaparan sampai merampas makakanan seperti itu, mendekatlah ke api agar pakaianmu kering, makan dengan perlahan, ikannya masih panas, lagipula aku tidak akan merebutnya” ucap Arnaf sambil tersenyum
Kami menghangatkan tubuh di dekat api sambil menikmati ikan bakar, aku terus berfikir, apa isi kepala pria itu, kenapa ia selalu membuatku kesal. Iya berjalan sedikit menjauh dari api
Entah mengapa aku menuruti perkataannya lagi, aku berbaring di atas pasir putih dan menatap langit
“Arnaf ...”
“Apa?”
“Sebaiknya kita pulang saja, selain bulan yang bulat dan bintang yang bertaburan ada begitu banyak awan hitam di langit aku rasa akan turun hujan malam ini”
__ADS_1
Arnaf tiba-tiba berbaring di sampingku
“ Apa kau sangat suka menghancurkan kesenangan orang, aku baru saja berbaring dan kau malah mengajak pulang, katakan padaku dengan jujur, apa kau takut padaku? Atau pada dirimu sendiri?Tenang saja aku tidak akan memakanmu”
Tidak lama kemudian hujan turun, aku sudah mengatakannya tapi, dia tidak mau mendengar, aku bangkit dari tempat ku berbaring, aku melihat sekeliling siapa tau ada tempat untuk berteduh, tapi ia masih saja berbaring
“Arnaf hujan turun dan kau masih saja berbaring? Arnaf bajuku baru saja kering dan sekarang sudah basah lagi kena air hujan, apinya juga sudah padam, Arnaf apa kau mendengarku, kenapa kau masih berbaring, kau lebih tau tempat ini kan ayo cepat bangun, kita cari tempat untuk berteduh. Hai pria menyebalkana, ya sudah berbaring saja aku akan pergi,”
Aku terus saja bicara, tapi dia tidak meresponku, aku hendak pergi tapi Arnaf memegang tanganku dan berdiri
“suasananya jadi romantis sekarang, mau menari denganku?”
“Apa kau sudah hilang akal, “
“jika masalahnya adalah musik, tenang saja aku menyimpan beberapa musik dalam arloji ku, aku mohon, satu lagu saja”
Aku menuruti keinginannya, kami berdansa dibawah hujan di pinggir pantai, setelah lagunya berakhir Arnaf menariku, kami berlari masuk ke dalam hutan, aku tidak menyanggka di dalam hutan ada sebuah pemukiman, Arnaf membawaku masuk ke satu rumah, iya mengatakan bahwa itu adalah rumahnya, dia menyuruhku mandi air hangat, ia juga memberikan baju ganti, aku merasa semua ini sudah disiapkan olehnya, setelah selesai aku menghampiri Arnaf yang tengah menyalakan api di perapian, kami duduk di depan perapian sambil menikmati teh hangat, kami bicara tak tentu arah sapai kami tertidur, berakhir sudah malam ini, tak terasa aku sudah menghabiskan malam dengannya, hari hampir fajar saat Arnaf membangunkanku, ia mengajaku mengejar matahari, aku tidak mengerti apa yang dia maksud, tapi aku mengikutinya, kami pergi menggunakan sepedah motor, kami berkendara cukup lama, kami berhenti di satu tempat, arnaf mengajaku berlari naik ke atas bukit , setibanya di sana kami duduk di bawah pohon yang rindang di tepi tebing, saat itu matahari bahkan belum terbit, dia menghidangkan teh hangat yang ia bawa di dalam termos kecil, dan sedikit biskuit, aku bahkan tidak menyadari apa iya bawa semua itu, tidak lama kemudian matahari terbit di timur kota, sungguh pemandangan yang luar biasa, aku bisa melihat seluruh kota dari bukit, pemandangan kota dan terbitnya matahari yang indah di tambah udara yang sejuk, sungguh pagi yang sempurna.
Matahari mulai tinggi, arnaf mengajaku kembali ke rumah itu,
Saat melewati tempat itu lagi, Aku baru menyadari, ada begitu banyak rumah disana namun tak ada seorangpun, yang ada hanyalah bangunan bergaya etnik kuno yang lusuh tak berpenghuni, kami berkendara berkeliling di tempat itu, arnaf menunjukan berbagai tempat sambil menjelaskan rencana kerjanya, aku baru menyadari hanya ada satu rumah di sana yang terlihat terawat, yaitu rumah Arnaf. Aku penasaran bagaimana ceritanya, kenapa tempat ini menjadi kosong tanpa penghuni..
“ Arnaf katakan padaku kenapa kau begitu baik padaku, dalam sekejap kau mengubah dukaku menjadi kebahagiaan, mengubah air mataku jadi senyuman, tapi di sisi lain kau juga menghancurkan mimpiku”
__ADS_1
“karna kau membuat jantungku berdebar, tapi hanya dalam mimpi, hahaha...”
Arnaf aku akan mencekikmu hingga mati....