
Arnaf membuka matanya dan memegang tanganku
“maaf karna menyia-nyiakan kerja kerasmu”
“Tidak apa itu bukan salahmu, tapi jika kau menyesal kau bisa makan jus dan bubur yang ada di sampingmu”
“kau yang membuatnya?”
“ iya untuk jus nya tidak untuk buburnya, bubur itu pengurus rumah tanggamu yang membuatnya, dokter bilang lambungmu tidak bisa di isi dengan makanan padat untuk sementara, jadi dua sampai tiga hari kedepan kau hanya bisa makan bubur dan jus, sebenarnya ada apa denganmu Arnaf, aku tau kau menyayangi kakakmu tapi jika kau seperti ini bagaimana kau bisa membantunya”
“ bagaimana aku bisa membantunya? Pertanyaan itu juga terus berputar-putar di kepalaku, yang terjadi pada malik juga terjadi padaku Maya, aku juga kehilangan kekasihku, aku tidak tau dia ada di mana? Apa dia baik-baik saja? Apa yang sedang dia lakukan? Dan apa dia memikirkan diriku seperti aku memikirkannya, aku tidak tau, sejujurnya aku tidak tau apapun tentang kekasihku, dia nampak seperti bayangan hitam, ada tapi tidak bisa dirasakan”
Tanpa sadar aku memeluk Arnaf
“ Aku tidak bisa membantu diriku sendiri untuk menemukan kekasihku, bagaimana aku bisa membantu Malik, katakan padaku Maya aku harus apa?”
“ jika kau mau menuruti perintahku, aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu dan juga Malik”
“ apa yang akan kau lakukan”
“ pegang tanganku dan percaya saja, bagaimana”
“ok! Katakan padaku aku harus apa?”
Arnaf bersedia menuruti perkataanku, aku memintanya untuk makan dan segera pulih, setelah memastikan Arnaf makan dan beristirahat aku bergegas pergi ke kampus, masuk kelas dan mengikuti pelajaran, setelah kuliah selesai kemudian aku mampir ke perpustakaan mencari bahan-bahan untuk skripsiku, setelah selesai aku keluar dari perpustakaan, tiba-tiba beberapa orang menghalangi jalanku
“Maya,Shanti,Tian,Dion, dan Ibas, lama tidak bertemu, bagaimana kabar kalian?” ucapku
“ kabar kami buruk karan kami baru saja di tipu oleh teman kami” ucap Maya
__ADS_1
“kalian di tipu oleh siapa” tanyaku
“ Kau,” ucap Shanti
“ aku” Ucapku
“ tadi pagi kami berencana mengajakmu sarapan bersama jadi kami datang ke rumahmu, disana kami bertemu ayahmu, paman bilang kau sedang menenui kekasihmu tuan Arnaf” ucap Ibas
“ kami pergi ke hotel tuan Arnaf tapi resepsionis bilang kau tidak lagi bekerja di sana tapi dia tau pergi ke rumah tuan Arnaf” ucap Tian
“Aku bisa jelaskan teman-tenan, tenang dulu ok!” Ucapku
“bagaimana jika kau ikut dulu dengan kami sekarang” ucap Ibas
Mereka menariku berjalan menuju kantin, kami makan bersama sambil mengobrol, aku mengatakan pada mereka bahwa aku sudah tidak bekerja di hotel lagi, karna pekerjaan di sana menyita waktuku, sementara aku juga harus mengerjakan skripsiku, dan itu membutuhkan banyak waktu, aku mengatakan aku tidak tau kalau ayahku berfikir aku menjalin hubungan dengan Arnaf tapi sungguh hubungan itu tidak terjalin, aku juga mengatakan bahwa ada orang kaya yang akan membayar semua uang kuliahku asal aku mau jadi baby sister selama tiga hari untuk putranya cote, tanpa sadar aku menyebut Arnaf dengan nama panggilan yang ku berikan pada Malik saat kami masih kecil, sejujurnya aku merasa bersalah karna membohongi mereka tapi apa boleh buat, identitasku masih harus ku sembunyikan, kami mengobrol sangat lama hingga tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 13:45 aku berpamitan pada mereka karna aku ingin mengantar ayah ke bandara. saat di depan kampus ternyata ayah sudah menjemputku, aku dan ayah pergi ke bandara, Ayahpun naik ke pesawat, sebelum pergi ayah memintaku menginap beberapa hari untu membantu paman mengurus Malik aku pun menuruti perkataan Ayah, aku pulang ke rumah paman tapi bukannya mengurus Malik sesuai dengan perintah ayah aku justru mengurus Arnaf sesuai dengan permintaan paman, bukan karna aku seorang pembangkang tapi aku merasa aneh jika harus mengurus Malik, aku yang sudah menjatuhkannya ke jurang, jika aku juga membantunya bangkit aku akan membuat kerja kerasku bersama Ali, Zian dan Lusiana jadi sia-sia dan aku tidak menginginkan hal itu.
Tidak kusangka aku menggali lubang untuk diriku sendiri, aku meminta Arnaf untuk istirahat dan dia menjadikan itu sebagai senjata untuk mempermainkanku, dia terus berbaring seperti orang sakit yang tidak berdaya, dia terus saja memerintahku ini dan itu seperti raja,
Maya kupas buah untuku,
Maya mana bubur untuku,
Maya buatkan aku jus,
Maya aku bosan bacakan buku untukku,
Maya aku ingin melihat berita nyalakan telvisi,
Maya garuk punggungku,
__ADS_1
punggungku terasa gatal,
apa aku juga harus menggaruk punggungnya?
Maya siapkan air hangat aku ingin mandi,
Maya papah aku ke kamar mandi, apa ini juga harus kulakukan?
Maya mana bajuku,
Maya bantu aku memakai baju,
Apa? Aku tidak mau...
Tenanglah aku sudah memakai celana pendek, tapi jika kau ingin, aku bisa membuka celanaku agar kau bisa memakaikannya
Tidakkkk..... Jangan coba-coba berpikir macam-macan atau kau akan menyesalinya
Maya ini Maya itu, ahhh....aku benar-benar merasa menjadi baby sister sungguhan, hanya saja bayi ini lebih besar dari ukuran yang seharusnya, entah berapa kali aku menghela nafas dalam sehari, sangat menjengkelkan, aku merasa kesal setiap kali dia mempermainkanku, tapi di sisi lain aku merasa kehilangan saat dia tidak lagi menggangguku, sesekali untuk menghibur diri aku pergi ke kamar malik, melihatnya menderita membuarku merasa bahagia, hanya saat aku pergi ke kampus aku bisa lepas dari kekangan Arnaf,
Tiga hari berjalan sangan cepat aku kembali ke rumahku dan kembali ke kehidupanku yang dulu, hanya ada kampus dan rumah, karna aku sekarang memiliki teman-teman, kampus menjadi tempat yang menyenangkan, sesekali aku pergi ke hotel bertemu dan makan siang bersama Ezzah dan sekedar minum kopi bersama pak Abdul
Malik masih saja berdiam diri di kamarnya dan meratapi kepergian istrinya
Arnaf kembali menjalani kehidupannya, dia kembali bekarja di hotel membantu paman Rai, sesekali dia datang ke kampus dan rumahku untuk menemuiku, dia juga membantuku mengerjakan skripsi.
Hariku menjadi indah dan berwarna, semua beban dan kepedihanku menghilang seketika, semua kesedihanku kini dipikul oleh Malik
Orang bilang saat kau bahagia waktu berlalu lebih cepat dan aku merasakan hal itu, tiga bulan berlalu tapi semuanya masih sama seperti tiga bulan lalu, tugas skripsiku sudah selesai aku mulai menyiapkan diri untuk sidang kelulusan, aku merasa sedikit cemas bukan karna aku tidak percaya diri dengan skripsiku, namu aku tidak tau apa saja yang akan ditanyakan saat sidang, apakah aku akan menjawabnya dengan baik, menghadapi para profesor jauh lebih sulit dari menulis skripsi.
__ADS_1
Profesor kenapa kau menggelengkan kepala? Apa aku tidak lulus....