CINTA DAN BENCI YANG KURASA

CINTA DAN BENCI YANG KURASA
cause you are the reason


__ADS_3

Terakhir kali bertemu Arnaf dia bersikap dingin padaku, dia tidak menghunungiku sama sekali, dia juga tidak minta maaf, sekarang tiba-tiba dia muncul di hadapanku, dan saat bertemu dia memerintah dirkku, aku tidak bisa menerima hal ini, “haruskah aku mempermainkannya untuk memberinya pelajaran, selama ini dia selalu mempermainkanku dan membuatku kesal, sekarang giliranku” Ucapku dalam hati sambil tersenyum


“ tidak, aku tidak mau mengantarmu pulang, aku belum selesai menikmati pemandangan malam, (aku turun dari mobil) jika kau ingin pulang segera (membuka pintu mobil) kau jalan kaki saja” ucapku dengan sombong, sambil menariknya keluar dari mobilku


Dia menyentuh pipiku dengan kedua tangannya yang lembut dia menarik tanganku dan membuatku tersudut diantara dirinya dan juga mobil, dia berada sangat dekat denganku, aku menahan diri agar tidak tersenyum, aku mendorongnya dan menjauhkannya dari diriku, tapi dia menarik tanganku dan menghentikan langkahku yang hendak menjauh darinya, dia berjalan mendekatiku, aku mengambil langkah mundur untuk menjauhkan diri darinya, langkahku terhenti karna ada mobil di belakangku, lagi-lagi aku tersudut karnanya, tangannya yang lembut menyentuh wajahku dengan lembut, dia menyibakan rambutku ke belakang telingaku, aku memalingkan wajah karna merasa malu, aku tidak ingin dia melihat wajahku yang memerah karnanya, perlahan wajahnya semakin mendekati wajahku, Arnaf membuka pintu mobil dan mendudukan diriku, aku tidak bisa bergerak bebas karna dia menaruh tangannya di samping kepalaku, wajahnya semakin mendekat, jantungku berdegup sangat cepat, apa yang ada di pikiranku, otaku berpikir liar, apa yang aku harapkan


“Arnaf “ Ucapku dengan nafas berat


“ ini pertama kalinya bagimu kan! Aku bisa tau dari nafasmu yang menjadi berat, tenang saja, aku akan melakukannya dengan hati-hati...”


“Arnaf jangan...


“ini sudah terlambat untuk mengatakannya Maya” ucap Arnaf dengan nada suara pelan dan lembut


Wajah Arnaf kini berada tepat di depanku, bigitu dekat, hidungnya menyentuh ujung hidungku, dia menggerakan kepalanya hingga pipinya yang lembut menyentuh pipiku, dia meniup telingku aku memalingkan wajah dan menutup mataku


“ Maya “ ucapnya dengan nada suara lembut


“apa?” ucapku dengan gugup


“ Maya” ucapnya dengan lembut


Iya meniup telingaku lagi dengan lembut, seluruh tubuhku terasa panas, aku merasa sangat malu, aku rasa wajahku kini sudah memerah seperti buah tomat, dia membuatku sampai tidak bisa berkata-kata, dan


“Maya apa kau sudah siap? Aku akan memulainya, bukalah matamu”


Aku membuka mataku perlahan dan memnutupnya kembali


“Arnaf tidakah kau merasa ini ...


“ Maya apa yang kau pikirkan wanita mesum?” ucapnya dengan tegas

__ADS_1


Mataku terbuka lebar karna terkejut mendengar ucapanya, tanpa sadar Arnaf sudah memasang sabuk pengamanku


“Arnaf kau” ucapku dengan kesal


“ Aku! apa katakan? Kau bilang kau tidak mau mengantarku, jadi biar aku yang menyetir dan mengantarmu pulang” ucapnya sambil tersenyum


Dia duduk di kursi pengemudi, memasang sabuk pengamannya, menyalakan mobil dan menginjak gas


“ Apa kau sudah siap untuk pulang sayang” ucapnya sambil tersenyum


“ apa kau perlu melakukan semua itu hanya untuk membuatku duduk di kursi penumpang, menyebalkan” ucapku dengan suara pelan


“ Kelihatanya kau kecewa karna aku, apa yang kau harapkan dariku? sebaiknya kau cuci otak kotormu itu,” Ucapnya sambil tersenyum dan memegang kepalaku


“aku tidak mengharapkan apapun, mengemudilah dengan benar” ucapku dengan nada kesal


“ iya kau tidak berharap apapun, aku melihatnya tadi, saat wajahmu memerah seperti buah tomat” ucapnya sambil menatap wajahku


“ baiklah sayangku, tenang saja, aku sudah mengatakannya bukan, kalau aku akan melakukannya pelan-pelan” ucapnya sembil tersenyum


Aku memukul lengannya karna gemas dan kami tersenyum bersama,


“Aneh kenapa aku merasa tidak bisa marah padanya, sepertinya otak dan hatiku bermasalah, bisa-bisanya otakku ini berpikir bahwa aku akan melepas keperawananku untunya, dan hatiku ini kecewa karna Arnaf tidak melakukannya” ucapku dalam hati sambil memperhatikannya


Sepanjang perjalanan Arnaf bicara yang tidak-tidak aku merasa kesal tapi juga merasa bahagia di waktu yang sama, setiap kali melakukan perjalanan dengan Arnaf watu terasa cepat berlalu, rasanya baru 5 detik yang lalu Arnaf menyalakan mobil dan sekarang sudah tiba di depan hotelnya, Arnaf menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk hotel, aku melihat Malik sedang memperhatikan kami dari kejauhan, Aku dan Arnaf turun dari mobil, Malik berjalan menghampiri kami, dia menyapaku kemudian mengajak Arnaf pergi, aku membuka pintu mobilku dan melihat ponsel Arnaf tertinggal di jok pengemudi, aku mengambilnya dan bergegas mengejar Arnaf dan Malik, aku pikir mereka akan naik keatas untuk bekerja, tapi ternyata mereka menuju kafe, mereka duduk di satu tempat saat aku hendak mendekati mereka aku mendengar Malik mengatakan


“ menjauhlah darinya Arnaf, aku serius”


Aku penasaran Malik meminta Arnaf menjauh dari siapa, jadi aku putuskan untuk duduk membelakangi mereka dan mendengarkan percakapan mereka


“ Kau sudah menemukan wanitamu” ucap Malik

__ADS_1


“ aku tidak bisa melacak jejaknya, jika dia wanita biasa seperti dulu, aku mungkin sudah akan menemukannya, kau sudah mendapat kabar mengenai Adriana”


“Entahlah, dia menghilang tanpa jejak, aku hanya berharap dimanapun dia berada dia akan baik-baik saja dan bisa berbahagia, Arnaf aku serius saat bicara mengenai Maya”


“ tenang saja, aku memang tertarik padanya, dia mengingatkanku pada kekasihku, saat bersamanya aku selalu mencari sosok kekasihku pada dirinya, aku akan menjaga jarak dengannya, lagipula aku tidak ingin menyakitinya”


Aku pergi dari sana setelah mendengar perkataan Arnaf, entah apa lagi yang mereka bicarakan aku tidak peduli, “ ini sudah terlambat Arnaf, aku sudah terluka, kenapa malik begitu jahat padaku, bukannya meminta adiknya melupakan cintanya yang hilang dia malah memilih menjauhkan cinta yang sudah ada di hidupnya” Ucapku sambil menangis


Aku berjalan menuju mobilku sambil menangis, tanpa sadar aku masih memegang ponsel Arnaf, aku masuk mobil dan menaruh ponsel arnaf di dasbor, aku berkendara menuju rumah, entah kenapa hatiku rasanya seperti diremukan, air mataku tidak kunjung berhenti, sekarang aku mengerti kenapa Arnaf bersikap dingin waktu itu, alasannya adalah Malik, kenapa Malik, kenapa harus Malik, dulu dia membuatku terluka, sekarang setelah aku menghancurlannya dia juga menghancurkan diriku, aku membenci dia, dan semakin membenci dia...


Aku tiba di depan rumah, rasanya aku tidak ingin beranjak dari mobilku, aku membenturkan kepalaku diatas setir berkali-kali,


“ kenapa harus dia lagi” teriakku sambil menangis kencang


“ Mahira buka pintunya” terdengar suara ibu


Aku mengangkat kepalaku dan melihat ibu berdiri di samping mobilku, aku membuka pintu mobilku, aku keluar dan langsung memeluk ibu, aku menangis dengan kencang dalam pelukannya berkali-kali aku mengatakan


“Ibu aku benci dia, aku sangat membencinya,”


Ibuku membawaku masuk rumah, aku melihat ayah tengah duduk di ruang tamu, ia terkejut melihatku menangis


“ istriku Ada apa dengam gadisku, kenapa dia menangis” ucap ayah


Ibu hanya menggelengkan kepala dan tidak mengatakan apapun, aku memeluk ayah dan mengatakan


“ ayah aku ingin pulang kerumahku, rumahku yang sesungguhnya, rumah yang ayah dan ibu tinggali bersama, aku tidak mau berada di sini sendirian ayah”


Ayah memeluku dengan erat dan mencoba menenangkanku, ibu memberiku segelas air, entah kenapa air putih yang ibu berikan terasa manis di lidahku...


Arnaf datang menemuiku

__ADS_1


“ kau tidak perlu menjaga jarak dariku Arnaf, karna aku akan pergi jauh darimu dan juga dari hidupmu...


__ADS_2