CINTA DAN BENCI YANG KURASA

CINTA DAN BENCI YANG KURASA
Haruskah aku...


__ADS_3

Aku pergi ke hotel diantar oleh supir paman Rai, setibanya di hotel aku menemui Ezzah dan menemui klien Arnaf di ruang meeting, Aku terkejut melihat klien itu, ternyata dia ayahku sendiri, aku begitu senang sampai tanpa sadar langsung lari kepelukannya,


“ayah aku sangat merindukanmu” ucapku


“Ayah juga merindukan putri ayah yang nakal ini” ucap ayah sambil mencubit pipiku


Kami tersenyum bersama, aku bersyukur karna aku yang pergi menemui ayah dan bukannya Arnaf dan Malik.


“Ayah ingin kau berhenti bekerja dan fokus pada kuliahmu karna dosenmu memberi tahu ayah kau sering datang terlambat” ucap ayah


“ itu tidak benar ayah, aku selalu datang tepat waktu” ucapku


“maaf sebaiknya saya pergi dari sini” ucap Ezzah


“Ezzah ini...


“Rahasi kan, aku tau, tentang saja nona Mahirah” ucap Ezzah


Aku tersenyum padanya dan berterimakasih padanya, aku mengajak ayah pergi ke rumah,


Sesampainya di sana kami menikmati teh sambil berbincang , aku menanyakan kabar ibu karna sudah lama tidak bertemu dengannya, aku juga bertanya tentang nyonya hesti dan masih banyak lagi, Ayah bilang dia hanya akan menginap satu malam, besok ayah akan kembali ke negara F, ayah mengatakan sebelum ayah pergi dia ingin menemui paman Rai, aku khawatir ayah akan bertemu dengan Malik, jadi aku bertanya pada ayah dia akan menemui paman di hotel atau di rumah, aku merasa lega karna ayah mengatakan akan menemui paman di hotel


Keesokan harinya.


Aku bangun di pagi hari, dan bersiap pergi olah raga, aku senang karna hari ini ayah menemaniku olah raga, kebiasaan olah raga ini aku dapatkan dari ayah, sejak kecil ayah membuatku terbiasa olah raga pagi sebelum melakukan aktivitas lain, saat olah raga sendiri aku bisa makan apapun setelah selesai olah raga, tapi saat olah raga dengan ayah aku hanya di izinkan minum jus atau susu saat sarapan, aku ingat kadang-kadang ibu diam-diam menaruh makanan lain didalam kamarku, setelah olah raga aku bersiap pergi ke hotel untuk terakhir kalinya, sejujurnya aku ragu untuk berhenti karna pekerjaan di hotel cukup menyenangkan,


Sesampainya di hotel aku bertemmu dengan paman Rai,


“ Selamat pagi Tuan Rai zada” ucapku sambil tersenyum


“ selamat pagi nak, di mana ayahmu?” ucap paman

__ADS_1


“Ayah masih dirumah, saat aku pergi ayah sedang sibuk dengan leptopnya, paman kau datang sendirian” ucapku


“ iya, Bisakah kau bantu paman nak” ucap paman


“Katakan saja paman?” ucapku


“ Bantu paman bicara dengan Arnaf, paman ingin dia menjalani kehidupannya seperti biasa, aku tidak suka Arnaf mengurus Malik hingga mengabaikan dirinya sendiri, dia juga mengabaikan pekerjaannya” ucap paman


“ Baiklah paman nanti siang aku akan ke rumah paman dan bicara pada Arnaf” ucapku


Kenapa aku merasa ada yang janggal, ucapan paman membuatku berpikir paman lebih peduli pada Arnaf daripada Malik yang anak kandungnya sendiri, atau mungkin itu hanya perasaanku saja, sudahlah...


Aku pergi ke ruanganku untuk merapihkan barang-barangku, Ezzah dan pak Abdul datang dan berdiri di depan meja keejaku


“kau benar-benar akan pergi” ujar Ezzah


“Apa nona tidak bisa memikirkan kembali keputusan nona” ucap pak Abdul


“ sejujurnya aku masih ingin bekerja, tapi aku akan menghadapi skripsiku, jika pikiranku terbagi aku hawatir hasilnya tidak akan memuaskan, waktuku hanya tinggal tiga bulan, tenang saja aku akan sering-sering mampir jika ada waktu luang” ucapku


“ kau sudah merapihkan barang-barangmu nak?, kau kuliah siang kan! Jangan lupa mampir kerumahku saat kau pulang” ucap paman


“Baiklah paman” ucapku sambil tersenyum,


Setelah selesai membereskan barang-barangku aku keluar dari ruanganku, langkahku terhenti saat melihat ayah dan paman bicara di depan lift, entah kenapa aku bersembunyi dari mereka, aku juga menguping pembicaraan mereka


“ Bagaimana keadaan Malik sekarang”


“ belakangan ini dia tidak makan dengan benar, aku dengar dia pergi ke negara F untuk menemuimu, apa itu benar”


“ Iya, sayangnya aku tidak ada di sana untuk menemuinya, tapi dia bertemu dengan putraku Ali, dari yang aku tau Ali akan bersikap seperti kakak Mahirah pada Malik”

__ADS_1


“ kau tenang saja, biarkan putrimu menyelesaikan dulu pendidikannya, kau sudah meminta putrimu berhenti bekerja, hari ini aku meminta putrimu datang ke rumah untuk menemui Malik, masih ada banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu, sebaiknya kita bicara di ruanganku”


Paman dan ayah pergi dari sana, aku keluar dari tempat persembunyianku, berdiri di depan lift dan berpikir, ada yang salah dari pembicaraan mereka, tapi ada apa denganku hari ini, otaku tidak dapat mencerna ucapan paman dan ayah.


Aku pergi ke rumah paman, setelah sampai di sana pengurus rumah menyambutku di depan pintu, dia mengatakan bahwa tuan Arnaf ada di kamarnya tuan Malik, akupun pergi ke kamar Malik, saat melihat Malik hanya berdiam diri seperti orang mati rasanya aku ingin loncat-loncat kegirangan, tapi saat aku melihat Arnaf turut bersedih di sisi lain hatiku tidak menyukainya, wajah Arnaf terlihat pucat, aku pergi ke dapur dan bertanya pada pengurus rumah apa Arnaf sudah makan atau belum, karna dia bilang Arnaf belum makan aku membuatkan makanan sederhan dan segelas jus, aku menarik Arnaf keluar dari kamar Malik menuju ke meja makan,


“sejak kapan kau disini” ucap Arnaf


“ Sejak tadi” ucapku sambil memaksanya duduk


“aku tidak ingin makan Maya, aku sedang tidak berselera” ucap Arnaf


“ apa kau senang melihat Malik terus bersedih seperti itu (Arnaf menatapku dengan tatapan tajam) baiklah kau tidak menyukainya, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, dengarkan aku, jika kau tidak makan kau akan sakit, jika kau sakit siapa yang akan mengurus Malik, bukan hanya Malik kau juga punya tanggung jawab lain, ayahmu dan hotel juga membutuhkanmu, jika kau tidak mengurus dirimu bagaimana kau bisa mengurus semuanya?” ucapku


Arnaf menuruti perkataanku dia menghabiskan makanan yang ku buat, tidak lama setelah selesai makan Arnaf memuntahkan kembali makanan yang iya makan, kemudian dia jatuh pingsan, aku memanggil pengurus rumah untuk membantuku membawa Arnaf ke kamarnya, aku memanggil dokter untuk memeriksanya, dokter bilang kondisi Arnaf menurun karna dia tidak makan dan istirahat dengan benar, dokter bilang dia hanya butuh istirahat dan tidak perlu di rawat, aku merasa lega tapi di sisi lain aku juga cemas, Arnaf jatuh sakit, kondisi Malik juga sedang tidak baik, ada banyak pekerjaan di hotel dan paman tidak ada yang membantu, jika paman bekerja keras sendirian dia juga bisa jatuh sakit, haruskah aku berhenti sekarang atau bekerja membantu paman di hotel sampai kondisi Arnaf membaik, tapi bagaimana dengan skripsiku, aku tidak bisa berpikir dengan baik sekarang,


Arnaf membuka matanya dan memegang tanganku


“maaf karna menyia-nyiakan kerja kerasmu”


“Tidak apa itu bukan salahmu, tapi jika kau menyesal kau bisa makan jus dan bubur yang ada di sampingmu”


“kau yang membuatnya?”


“ iya untuk jus nya tidak untuk buburnya, bubur itu pengurus rumah tanggamu yang membuatnya, dokter bilang lambungmu tidak bisa di isi dengan makanan padat untuk sementara, jadi dua sampai tiga hari kedepan kau hanya bisa makan bubur dan jus, sebenarnya ada apa denganmu Arnaf, aku tau kau menyayangi kakakmu tapi jika kau seperti ini bagaimana kau bisa membantunya”


“ bagaimana aku bisa membantunya? Pertanyaan itu juga terus berputar-putar di kepalaku, yang terjadi pada malik juga terjadi padaku Maya, aku juga kehilangan kekasihku, aku tidak tau dia ada di mana? Apa dia baik-baik saja? Apa yang sedang dia lakukan? Dan apa dia memikirkan diriku seperti aku memikirkannya, aku tidak tau, sejujurnya aku tidak tau apapun tentang kekasihku, dia nampak seperti bayangan hitam, ada tapi tidak bisa dirasakan”


Tanpa sadar aku memeluk Arnaf


“ Aku tidak bisa membantu diriku sendiri untuk menemukan kekasihku, bagaimana aku bisa membantu Malik, katakan padaku Maya aku harus apa?”

__ADS_1


“ jika kau mau menuruti perintahku, aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu dan juga Malik...


Ok!


__ADS_2