
Aku terkejut melihat Arnaf hingga kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, aku menghentikan sepedah listrikku dan mulai mengkayu sepedah dengan kakiku, aku mengkayu sepedahku dengan segedap kekuatanku, sekencang yang ku bisa karna tidak ingin Arnaf mengikutiku, aku berhenti di depan air mancur karna lelah, aku membasuh wajahku dan duduk di kursi yang ada di samping air mancur, merentangan kaki dan tangan dan menutup mataku sejenak, saat aku membuka mata aku melihat Arnaf memberiku sebotol air, aku mengambil air itu dan meminumnya.
“ kenapa kau terus mengikutiku? Apa kau tidak punya pekerjaan lain... “ ucapku
“Kenapa? Apa ada larangan untuk mengikutimu”
“ iya, untukmu itu ada, karna kau sudah punya kekasih kau tidah boleh bersikap seperti ini padaku, Pergilah...dan temui Kekasihmu”
“ Kenapa? apakah kau tidak merindukanku?”
“ aku... Aku merindukanmu... tidak! aku tidak merindukanmu, Aku bahkan berharap tidak bertemu denganmu”
“Benarkah itu!”
“sudahlah aku tidak ingin bicara denganmu lagi”
Aku berjalan meninggalkan dia namun dia terus saja mengikutiku, ibu menelponku dan mengatakan bahwa beliau sudah tiba dan sedang dalam perjalanan ke GF, ibu mengajaku makan siang bersama setibanya di sini, aku makan siang bersama Ayah, ibu, paman Rai, tante Rana, Arnaf, Malik, Adirana, Ali, Zian, Lusiana, Akmal, Ezzah, Frida, Maya, Tian, Dion, Shanti, bahkan pak Abdul juga ada. Ini seperti reoni ke 2, semua orang yang aku sayangi berada di tempat yang sama, hanya saja aku merasa aneh, kenapa kekasihnya Arnaf tidak di sini, kami semua makan siang sambil tertawa bersama, aku berpamitan pada mereka setelah selesai makan karna ada satu tempat yang ingin aku kunjungi, aku pergi ke parkiran, kemudian berjalan masuk menuju hutan, aku terus berjalan hingga sampai di tepi tebing.
“ tempat ini adalah kenangan yang tidak bisa kulupakan, tempat dimana aku kehilangan mimpiku, dulu aku tidak merasa sedih, karna kehadiran Arnaf mewarnai hari-hariku, tapi mimpi yang hilang itu membuatku sangat terluka hari ini.” Ucapku bicara sendiri sambil menitihkan air mata, aku duduk di tepi tebing, menikmati indahnya laut di tengah teriknya matahari, aku mengenang saat-saat yang kuhabiskan bersama Arnaf, air mataku terus mengalir, aku menghapusnya berkali-kali namun air mata ini tidak berhenti menetes
“ menyebalkan” teriakku dengan kencang
“ Apa yang menyebalkan switty?” ucap Arnaf dari belakang sambil berjalan mendekatiku
__ADS_1
Aku menyeka air mataku dan berbalik melihatnya
“ kenapa kau ke sini, pergilah... Aku ingin sendirian” ucapku
Arnaf menggelengkan kepala seolah berkata tidak, dan tetap berjalan mendekattiku, dia duduk di sampingku,
“ Masa lalu kita sangat indah switty? Apa yang membuatmu begitu kesal kau ingat...
Arnaf menceritakan kembali apa yang pernah kita lalui bersama, tanpa ku sadari aku terhanyut dalam cerita itu hingga tertawa bersama, menertawakan hal-hal bodoh yang kita lakukan semasa kecil,
Tanpa di sadari waktu berlalu, matahari sudah akan tenggelam, tiba-tiba Arnaf memintaku untuk berdiri
“Switty berdirilah cepat”
Aku menuruti keinginannya
“Ayo kita mengulang kembali salah satu kenangan yang terjadi”
“apa?”
Arnaf mendorongku ke laut, tapi kali ini aku kembali ke permukaan dan tidak membiarkan diriku tenggelam seperti waktu itu, Arnaf melompat kedalam air dan menariku ke dalam air, satu tangannta menarik punggungku dalam pelukannya dan tangan satunya menarik kepalaku hingga kami berciuman di dalam air, ciumannya membuat seluruh tubuhku jadi panas hingga rasa dingin dari air laut berubah terasa hangat, tanpa ku sadari aku menikmatinya dan membalas ciumannya, kami kembali ke permukaan, tanganku merangkuh pundaknya dan aku mencium Arnaf lagi, tangan arnaf semakin erat memeluku...
“ Mahirah... Dimana kau?” samar-samar aku mendengar suara teriakan memanggil diriku, suara itu semakin lama terasa semakin kencang hingga membuatku tersadar dan mendorong tubuh Arnaf menjauh,
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan Mahirah, ini tidak benar” ucapku dalam hati
“ Aku di sini” ucapku sambil melihat ke atas tebing
Malik dan Adriana melihatku dan Arnaf dari atas kemudian mereka berdua melompat,
“ kalian berdua sedang apa di sini?” ucap Malik
“Malik lihat... Matahari tenggelam sangat indah dilihat dari sini” ucap lusiana
“ Kami sedang menikmati matahari” ucap Arnaf dengan nada kesal
Setelah melihat matahari tenggelam kami berenang ke tepian dan pulang ke penginapan, tanpa ku sadari Arnaf terus mengikutiku sejak pagi hingga malam, Bahkan dia sampai makan malam di rumahku, Ayah memintanya untuk menginap, tapi aku melarangnya, aku meminta dia untuk pulang, tetapi Arnaf memilih untuk menginap, menuruti apa kata ya Ayah,
“aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, dia sudah punya kekasih tapi seharian dia mengikutiku, dia bahkan memciuku lagi hari ini, dia bilang kekasihnya sudah tiba kemarin malam, tapi bukannya menghabiskan waktu dengan kekasihnya dia justru bersamaku, rasa penasaranku pada kekasih Arnaf semakin besar, begitu juga dengan keinginanku untuk menyingkirkan dia dari hidup Arnaf,
Haruskah aku menemuinya tidak! Tidak! Tidak! aku tidak boleh menemuinya Bagaimana jika aku lepas kendali dan melakukan sesuatu, tidak Mahirah, sadarlah... fokus pada acara besok, besok aku akan mengungkapkan jati diriku di hadapan publik dan menyelesaikan semua konflik yang ada, menghilangkan semua skandal terkait diriku, tapi aku bingung, bagaimana jika ada yang bertanya tentang Kekasihku, Kenapa juga aku harus mengatakan pada Lusiana untuk mengatakan bahwa aku sedang mencari calon suami, sebaiknya aku katakan saja bahwa aku belum menemukan pria yang tepat untuk menjadi suamiku, iya itu benar, tapi jika aku mengatakan itu pasti akan ada banyak pria yang akan mendekatiku dan mengganggu diriku setelah acara itu, aku bingung, aku harus bagaimana? hari semakin gelap sebaiknya aku tidur” Ucapku bicara pada diri sendiri
keesokan harinya.
Aku keluar kamar untuk pergi berolahraga, saat aku membuka pintu Ayah, Frida, dan Arnaf sudah menungguku, kami jogging bersama, jam 6 kami kembali ke Villa, untuk sarapan dan bersiap untuk acara pemotongan pita,
“ Jika saja acaranya bukan jam 7 aku pasti akan mengajakmu melihat matahari terbit switty, seperti waktu itu” ucap Arnaf
__ADS_1
“Maaf tapi aku tidak berpikir untuk melakukan” Ucapku
Aku terkejut karna semua para tamu undangan sudah datang, aku bertanya kapan mereka tiba di sini, Frida bilang mereka sampai di sini tadi malam, karna para tamu undangan diwajibkan menginap, para wartawan juga sudah berkumpul, seperti rencana nona, wartawan yang datang bukan hanya wartawan yang diundang oleh perusahaan, melainkan wartawan dari negara F juga banyak yang datang untuk Meliput acara ini, mereka tidak bisa masuk karena mereka tidak memiliki undangan Jadi mereka menunggu diluar gerbang, aku meminta Frida memerintahkan pihak keamanan untuk mengizinkan wartawan masuk meski tanpa undangan jika dia bisa menunjukan kartu identitasnya. Acara pemotongan pita berlangsung dengan hikmat dangan doa-doa untuk kesuksesan. Jam 8 pagi gerbang dibuka untuk umum, semua orang antusias dengan semua yang ada di sana, ada yang sibuk memotret, ada yang sibuk mencicipi semua makanan, ada juga yang berjalan-jalan dengan kekasihnya. luar biasa tempat itu menjadi sangat ramai, alunan musik yang indah di atas pentas mengiringi semua aktivitas yang dilakukan di sana, aku naik ke atas pentas dan mulai memainkan piano dengan nada yang indah, tidak lama kemudian Ali, Zian, dan Lusiana naik ke atas pentas juga, Ali mulai memainkan drum, Zian dan Lusiana mulai memainkan gitar, kami memainkan musik bersama dengan sangat indah, hingga membuat semua perhatian tertuju pada kami, aku tahu semua orang bertanya-tanya tentang diriku, mereka semua yang hadir di tempat ini mengenal Ali, Zian dan Lusiana tapi siapa aku....