Cinta Dua Benua

Cinta Dua Benua
25 Pov Megumi


__ADS_3

Sepulang sekolah Megumi pergi ke toko buku. Ia membeli beberapa note book dan alat tulis. Pandangannya mengarah ke pajangan drawingbook, tangannya mulai mengambil satu buku gambar yang menurutnya tak asing.


"Kenapa kau tidak menggambar saja." ucap Taehyung memberikan saran kepada Megumi.


Tiba-tiba Megumi teringat perkataan Taehyung. Ia memutuskan untuk membeli satu buku gambar dan drawingpen ukuran 0.5 sebagai pemula.


Seperti biasa Megumi akan menemui seseorang dirumah sakit. Sebenarnya Megumi selalu datang saat malam hari. Tapi Mitsuya menyuruhnya untuk datang lebih awal, karena pada malam hari dokter sudah ada janji lain.


"Konnichiwa." Sapa Megumi saat masuk ke ruangan Mitsuya.


"Konnichiwa, bagaimana kabarmu hari ini? "


Sapa Mitsuya dengan ramah dan tersenyum kepada Megumi.


"Baik-baik saja. Sensei sebenarnya aku tidak begitu ingin bercerita hari ini."


"Tak apa, aku hanya memastikan jika kau baik-baik saja. Oh ya kau membeli buku gambar lagi? Aku pikir ayahmu membelikan buku gambar sebagai hadiah ulang tahunmu. "


Mitsuya melihat beberapa buku yang di beli Megumi, kemudian ia membuatkan secangkir teh hijau untuk pasiennya.


"Dokter ada yang ingin ku tanyakan padamu."


Megumi mulai duduk, dan ingin mengatakan hal yang serius pada Mitsuya.


"Apa yang ingin kau tanyakan? Duduklah dulu jangan terburu-buru." Ucap Mitsuya dan mulai duduk berhadapan dengan Megumi.


"Sepertinya ada sesuatu yang penting yang aku lupakan."


Mitsuya hanya meringis karena setiap pasiennya bercerita akan selalu mengatakan hal sama. Seperti Megumi, dia selalu melupakan hal ingin dilupakan, tapi Megumi juga selalu mengatakan bahwa ingin mengingatnya.


"Dokter aku merasa ada sesuatu yang aku lupakan. Aku ingin mengingat." Ucap Megumi yang sudah bisa ditebak oleh Mitsuya.


Mitsuya melipat kedua tangannya ke meja, ia tersenyum kepada Megumi. Karena bagaimanpun juga ia harus bersabar dan tetap tersenyum agar bisa membuat pasiennya nyaman saat cerita. Walaupun sering kali diulang-ulang.


"Kau tak harus mengingatnya, bukankah kau sendiri yang ingin melupakannya. Mungkin saja itu adalah kenangan yang buruk, jadi secara tidak langsung memori otakmu langsung menghapusnya. Tenanglah tidak udah dipikirkan."


Mitsuya memberikan saran pada Megumi seperti biasa.


"Tapi kali ini aku merasa itu sesuatu yang penting."


Wajah Megumi yang biasanya ceria mendadak menjadi muram. Karena bercerita dengan Mitsuya juga tidak mendapatkan hasil yang ia inginkan.

__ADS_1


"Minumlah."


Mitsuya menyuruh Megumi untuk meminum secangkir teh hijau yang telah ia buatkan. Megumi pun menurutinya, karena aroma teh hijau benar-benar bisa membuat rilex.


"Mitsuya kun, apa biasanya aku sering menggambar? " Tanya Megumi sekali lagi.


"Iya, kau selalu menggambar saat menungguku." Jawab Mitsuya sembari menulis buku laporan.


"Gambar apa yang biasa aku buat? Kenapa aku suka menggambar? Apa Mitsuya tahu?"


Megumi semakin tertarik bertanya karena mungkin satu persatu bisa mengungkapkan rasa penasarannya.


"Menggambar selalu membuat perasaanmu senang dan bahagia, maka dari itu ayahmu selalu membelikanmu buku gambar. Tentang apa yang kau gambar aku tidak tahu, karena kau sendiri tak pernah memberitahuku."


"Begitukah." Gumam Megumi sedikit kecewa.


"Aku ingin pulang."


"Baiklah, hati-hati di jalan. Titip salam untuk ayahmu." Jawab Mitsuya kemudian mengantarkan Megumi sampai depan.


Megumi berjalan dengan perasaan yang hampa, entah mengapa ia merasakan ada sesuatu yang hilang darinya. Matanya hanya bisa memandangi buku gambar yang barusan ia beli, entah gambar apa yang bisa ia buat dan dari mana ia akan memulainya.


"Eh..." Megumi sedikit terkejut karena mendengar ada suara di belakangnya. Tapi saat menoleh ia tak mendapati satu orang pun.


Sesampainya dirumah, Megumi sudah melihat ada sepasang sepatu. Biasanya ia selalu pulang lebih awal dari yang lainnya. Apakah ayahnya sudah pulang, pikir Megumi.


"Tadaima (aku pulang) apakah ayah sudah pulang?" Ucap Megumi dan berjalan masuk kedalam rumahnya.


Seorang laki-laki dengan rokok di tangannya duduk di meja makan.


"Oniichan." panggil Megumi dengan perasaan senang. Selama ini kakak laki-lakinya jarang pulang ke rumah karena suatu alasan.


"Kau baru pulang? "


Tanya kakaknya dengan dingin tetapi Megumi mengiyakan dengan penuh senyuman. Dirinya senang karena kakaknya pulang ke rumah.


"Sebentar lagi ibu akan pulang, Oniichan bagaimana kabarmu? Kemarin aku pergi ke supermarket bersama ibu, aku membeli banyak daging sapi. Oniichan ayo aku senang akhirnya bisa makan malam bersama."


Ucap Megumi dengan senang dan mulai mengambil bahan-bahan di kulkasnya untuk membuat makan malam.


"Apa kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Hum tentu saja." Jawab Megumi.


"Jika kau baik-baik saja, mana mungkin kau pergi ketempat Mitsuya."


Perkataan dari kakaknya membuat Megumi menghentikan aktivitasnya. Yang dikatakan kakanya benar jika akhir-akhir ini ia selalu pergi ke tempat Mitsuya, itupun karena ayahnya yang menyuruhnya. Entah mulai kapan Megumi selalu pergi menemui Mitsuya ia tidak mengingatnya.


"Kieta..? "


Percakapan mereka berdua terhenti karena ayah dan ibunya datang. Kedua orangtuanya sangat terkejut karena kepulangan putra pertamanya.


"Megumi tidak perlu repot menyiapkan makanan. Aku hanya mengambil beberapa barang dan akan pergi." Kieta langsung bergegas pergi karena melihat kedatangan kedua orangtuanya.


"Kieta, tunggu sebentar. Tinggalah sebentar, ibu akan menyiapkan makan malam dengan cepat." Ibunya segera mencegah kepergian putranya.


Akhirnya Kieta terpaksa menuruti keinginan ibu dan adiknya. Ia berjalan ke kamarnya tanpa mengatakan apapun kepada ayahnya. Perang dingin antara Kieta dan ayahnya sudah berjalan lama entah apa penyebabnya.


Makan malam keluarga yang diinginkan Megumi akhirnya terkabul. Ia senang melihat kakaknya duduk bersama di meja makan. Meskipun Megumi tahu bahwa dirinya bukan putri kandung di keluarga Saibara, tetapi semuanya menyayanginya, termasuk Kieta yang selalu memanjakannya waktu kecil.


"Oniichan tambahlah tempura sayur, aku sengaja membuatnya banyak." Megumi memberikan beberapa tempura yang ia buat kedalam piring kakaknya.


Dengan senang hati Kieta menerima dan segera memakannya.


"Bagaimana dengan kuliahmu? Ku harap kau tidak sering meninggalkannya." ucap Ayahnya seakan memberikan perhatian pada putranya.


"Baik. Aku sangat menyukai semester pertamaku dalam sastra Jepang." Jawab Kieta dengan dingin.


"Apa yang kau bilang? "


Ucapan ayahnya sedikit ada penekanan. Hana ibunya langsung mendekat kearah Megumi.


"Aku berganti universitas, aku mengambil juran sastra Jepang. Meskipun baru semester satu kurasa aku cukup menyukainya." Jawab Kieta dengan santai.


"Kau pikir biaya kuliah tidak mahal. Cukup belajarlah dan sebentar lagi kau lulus jadi dokter."


Ucap Saibara dengan nada yang cukup tinggi. Sementara Hana hanya bisa menutupi telinga Megumi dengan kedua tangannya. Ia tak ingin gangguan psikologis pada putrinya bertambah parah.


"Menjadi dokter kemudian membunuh seorang pasien, itukah yang ayah inginkah."


"Sudah kubilang itu hanya salah paham, tidak seharusnya kau percaya pada omong kosong itu."


Wajah ayahnya bertambah merah, Megumi hanya bisa menangis dipelukan ibunya.

__ADS_1


"Kalau hanya salah paham, kenapa ayah tak selesaikan semua. Apa ayah tahu siapa yang menjadi korban karena kesalahan ayah. Aku, Ibu dan Megumi. Kenapa ayah tak tinggalkan saja desa ini, dengan begitu semuanya akan selesai."


Suara Kieta mulai melemah, ia tak bisa lagi menerima jika orang-orang di sekitarnya selalu mengatakan jika dirinya anak seorang pembunuh. Tak hanya satu orang, bahkan hampir semua orang yang tinggal didekat rumahnya selalu mengatakan kalau ayahnya adalah pembunuh.


__ADS_2