
Haruka akhirnya tersenyum, ia merasa sedikit lega karena Taehyung membantunya. Dan ini pertama kalinya Haruka merasa ada seseorang yang membantunya. Ia segera menghabiskan makanannya untuk bisa melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Kembalikan sapunya."
Haruka segera meminta kembali sapu yang dipakai Taehyung dan melakukan kembali pekerjaannya.
"Aku akan membantumu, bukankah kau merasa kelelahan?" Jawab Taehyung.
Haruka sedikit terkejut karena mendengar jawaban jika Taehyung akan membantunya. Apakah ini hanya alasan Taehyung agar dirinya mau diajak bicara membahas Saibara.
"Tapi ini adalah pekerjaanku." Tolak Haruka.
"Istirahatlah sebentar, aku sudah melihatmu bekerja dari tadi pasti kau lelah."
Sekali lagi Taehyung menyuruh Haruka untuk beristirahat. Hanya menyapu halaman saja tidak sulit bagi Taehyung. Ia bahkan bisa melakukan dua kali lebih cepat dari pada Haruka.
Haruka terpaksa menuruti perkataan Taehyung, memang hari ini ia benar-benar sangat lelah karena bekerja di tiga tempat sekaligus. Haruka terpaksa melakukannya karena untuk membayar biaya listrik dan yang lainnya.
Satu jam kemudian Taehyung sudah selesai membersihkan halaman. Memang pekerjaan ini sangat melelahkan baginya. Bahkan Taehyung berkeringat meskipun udara malam terasa dingin.
"Lebih baik kau juga istirahat sebentar."
Haruka melemparkan sekaleng kopi yang barusan ia beli kepada Taehyung. Ia juga membeli untuk dirinya sendiri.
"Arigatou (terimakasih)." Tangkap Taehyung dengan cepat. Ia memang merasa haus tapi Haruka membelikannya kopi, minuman yang tidak disukai Taehyung.
"Apakah kau membantuku untuk mencoba merayuku agar mau membahas tentang Saibara?" Tanya Haruka tanpa basa-basi lagi.
"Tentu saja tidak. Aku benar-benar membantuku, maaf soal yang tadi. Aku tidak tahu jika kau sudah berhenti sekolah." Jawab Taehyung dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Pasti menyenangkan bersekolah. Aku sudah berhenti sekolah sejak satu tahun yang lalu. Ayahku adalah satu-satunya keluargaku setelah ibuku meninggal. Beliau tidak punya sanak saudara dan hanya memiliki aku. Jadi setelah ayahku meninggal aku tidak punya siapapun lagi, aku juga tidak tahu kerabat dari ibuku karena ayahku tak pernah memberitahuku."
Haruka berusaha tegar menceritakan tentang masalahnya pada Taehyung.
"Lalu bagaimana dengan kerabat ayahmu, apakah saat ayahmu meninggal mereka tidak datang?" Tanya Taehyung.
"Ayahku seorang yatim piatu. Beliau tinggal di panti asuhan semasa kecil hingga dewasa. Pernikahan dengan ibuku mungkin tidak direstui, maka dari itu ayah dan ibuku tidak pernah memberitahuku tentang kerabat ibuku. Bagaimana denganmu? Kau sangat beruntung kan masih mempunyai kedua orang tua."
"Hummm, tapi akhir-akhir ini aku merasa bersalah karena banyak menuntut." Jawab Taehyung.
"Aku pun juga begitu dulu. Tapi sekarang aku merindukan masa-masa itu. Sebenarnya ada seorang dokter kaya yang ingin mengadopsiku karena kasihan kepadaku."
__ADS_1
Haruka mulai bercerita banyak pada Taehyung, setelah sekian lama memendam kesedihan. Mungkin karena dirinya lelah memendam semuanya dan melampiaskan ketika ada Taehyung yang mengajaknya bicara.
"Lalu kenapa kau tidak menerimanya, dengan begitu kau tidak perlu lagi bersusah seperti ini." Sahut Taehyung dengan cepat.
"HAH apa kau bodoh...? Mana mungkin aku menerima tawarannya. Ayahku mati juga karena dokter, mungkin saja dokter itu hanya ingin nama baiknya tidak tercemar."
"Ano... Apakah yang mengadopsimu adalah tuan Saibara?" Tanya Taehyung dengan hati-hati.
"Tidak ." Haruka menggelengkan kepalanya.
"Dokter itu yang punya rumah sakit itu, dia juga pemilik rumah sakit besar di Sapporow. Dan ayahku meninggal di rumah sakit itu."
Haruka menunjuk ke arah bangunan besar yang merupakan bangunan rumah sakit.
.
.
.
"Ayahku seorang dokter dan bekerja di rumah sakit itu...." Ucap Megumi dan menunjuk kearah gedung besar.
"Lagi pula dokter itu juga sudah memiliki kedua putra, jadi jelas saja hanya ingin nama baiknya kembali." Ucap Haruka lagi.
"Mungkin benar juga menurutmu. Tapi menurut pemikiranku bisa saja dokter itu benar-benar peduli padamu. Meskipun benar jika dokter itu hanya ingin nama baiknya kembali, bukankah itu termasuk tanggung jawab kepadamu? Haruka, pikirkan baik-baik tawaran dari dokter itu. Kau bisa bersekolah lagi dan mengubah hidupmu."
Taehyung mencoba memberikan saran kepada Haruka. Ia merasa kasihan jika orang seusianya harus bekerja dari pagi sampai malam.
"Tapi... Ayahku meninggal di tangan dokter." Gumam Haruka dengan pelan.
"Jangan hanya keegoisanmu, kau membuang kesempatan emas. Kau masih ingin bersekolah kan?"
Tanya Taehyung dan menatap kedua bola mata Haruka yang sempat ingin menangis.
"Akan ku pikirkan lagi. Baiklah ayo bekerja lagi."
Ucap Haruka dan segera mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin menangis di hadapan orang lain, telebih lagi Taehyung yang baru ia kenal.
"Ehh.. Bukankah sudah selesai?" Pekik Taehyung keheranan.
"Sudah selesai kan bagian barat, aku belum membersihkan bagian timur, utara dan selatan."
__ADS_1
"Jadi harus membersihkan semuanya?" Teriak Taehyung.
"Benar. Kenapa kau menyesal membantuku? Makanya aku membelikanmu kopi agar tidak mengantuk."
Haruka mengejek Taehyung karena melihat ekspresi Taehyung yang kesal. Taehyung terpaksa meminum kopi yang diberikan oleh Haruka meskipun ia tidak menyukainya.
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Haruka keheranan.
"Sebenarnya aku tidak menyukai kopi, rasanya sangat pahit. Aku lebih suka minum susu pisang. Tapi kau benar, bekerja saat malam hari sangat mengantuk. Jadi aku terpaksa meminumnya."
Mendengar jawaban dari Taehyung membuat Haruka tertawa lebar. Entah laki-laki di sebelahnya ini datang dari dunia mana, karena sudah SMA masih tidak menyukai kopi dan masih suka minum susu pisang.
"Haruka..."
Taehyung sangat terkejut melihat Haruka yang tersenyum dan tertawa. Karena selama ini ia selalu melihat Haruka yang murung dan terkesan cuek.
"Doshite (kenapa) ." Tanya Haruka yang masih tertawa.
"Aku baru pertama kali melihatmu tertawa dan tersenyum." Jawab Taehyung dengan jujur.
"Benar, aku jarang sekali tertawa. Karena kehidupanku yang pahit seperti kopi. Tapi mendengar susu pisang yang kau sukai menurutku lucu." Ucap Haruka dan semakin tertawa.
"Haruka... Tersenyumlah. Meskipun hidupmu pahit jika kau tersenyum maka bisa saja akan berubah menjadi manis."
Taehyung mencubit kedua pipi Haruka dan membentuk garis senyum di wajah Haruka.
"Semanis susu pisang yang kau sukai." Ejek Haruka sekali lagi. Ia masih tidak percaya jika laki-laki di depannya ini sangat fanatik dengan susu rasa pisang.
"Ayolah jangan mengejekku seperti itu."
"Gomenne... Hey, aku lupa siapa namamu?" Haruka berhenti tertawa dan mulai mengambil sapunya.
"Kim Taehyung." Jawab Taehyung dengan tersenyum.
"Kim Taehyung? Ah iya.. Aku hanya mengingat jika kau bukan berasa dari Jepang. Kim Taehyung lumayan sulit di ucapkan." Gumam Haruka.
"Tapi kau bisa mengingatnya kan?"
"Tentu saja, meskipun kau bukan dari Jepang dan namamu cukup sulit di ucapkan kenapa aku harus lupa?. Baiklah jangan banyak bicara. Masih banyak yang harus di kerjakan dan besok aku juga harus kembali ke kafe."
Haruka memberikan sapu yang baru diambil untuk Taehyung, ia sengaja mengambilnya di gudang karena tak mungkin bisa merebut dari Taehyung. Dan mereka berdua mulai manyapu taman bersama.
__ADS_1