
Taehyung segera kembali ke kelas setelah melihat Megumi pulang. Ia merasa sangat senang karena bisa memenangkan pertandingan. Sebenarnya bukan karena hal itu, tapi hari ini Megumi melihatnya bertanding, itulah yang membuat hati Taehyung bahagia.
"Oi, kau selalu saja menghilang setelah pertandingan." Junta memberikan sekotak jus apel untuk temannya yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Maaf, tapi aku harus ke kamar mandi. Terimakasih." Taehyung langsung meminum jus yang diberikan oleh Junta, rasa segar telah memenuhi tenggorokannya yang sedari tadi sudah kering. Saat melihat Megumi tidak ada di atas gedung, Taehyung langsung panil dan segera berlari mengejarnya. Jadi rasa hausnya pun ia hiraukan.
"Aku tidak menyalahkanmu sama sekali, jangan minta maaf begitu. Ayo kita pergi makan, Yuta senpai mentraktir kita." Junta langsung merangkul pundak Taehyung.
"Eh Hountoni? (benarkah)? Hey apa kau sudah baikan padanya." Tanya Taehyung dengan sumringah, dirinya senang jika perselisihan antara Junta temannya dan Yuta kakak kelasnya berakhir.
"Sepertinya begitu." Jawab Junta dengan senyumnya.
Taehyung langsung pulang kerumah saat jam sekolah sudah berakhir. Ayah dan ibunya sudah terlihat mengemasi barang-barang, jadi rencana ayahnya sudah tidak mungkin dibatalkan.
"Kenapa banyak sekali yang akan dibawa." Ucap Taehyung dan mendekati ibunya. Karena kepulangannya ke rumah tidak ada yang menyambut.
"Oh Taehyung, kau sudah pulang. Okaerinassai (selamat datang)." Balas ibunya juga setengah terkejut karena tidak sadar kedatangan putranya.
"Tadaima (aku pulang)."
"Semuanya adalah oleh-oleh untuk Paman dan Bibimu, ibu dan ayah juga hanya membawa tas kecil berisi barang-barang pribadi. Ini tiket mu jagalah baik-baik." Ibu Taehyung memberikan selembar tiket pesawat untuk putranya.
"Kau pasti sangat merindukan Daegu kan." Ucap ibunya sekali lagi.
"Terimakasih. Aku pergi ke kamar dulu." Taehyung bergegas masuk ke kamarnya untuk segera istirahat.
"Dua puluh menit lagi turunlah dan bantu ibu membuat makan malam ya...." Suara teriakan ibunya memenuhi seisi ruangan rumah yang memang tidak terlalu besar itu.
"Haik....." Balas Taehyung dengan berteriak juga karena saat ini dirinya langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.
.
__ADS_1
.
.
"Omiyage? (oleh-oleh). Apapun darimu aku akan senang menerimanya." Ucap Megumi.
"Ah... Oleh-oleh..." Pekik Taehyung seketika dan langsung turun dari ranjangnya. Ia teringat percakapannya dengan Megumi dan berjanji akan membawakan oleh-oleh darI Korea.
Taehyung membuka kotak celengannya dan berharap ada beberapa uang didalamnya.
"Aku tak pandai menabung sepertinya." Taehyung menggaruk kepalanya karena hanya menemukan beberapa uang koin.
"Baiklah aku akan berhemat selama seminggu ini." Ucapnya dan bernafas lega ketika membuka dompetnya dan melihat uang sakunya.
Hari sudah berganti malam, seminggu lagi Taehyung akan pergi ke Korea untuk mengunjungi paman dan bibinya, serta memperingati dua tahun kematian neneknya. Sudah menjadi kebiasaan Taehyung jika selesai makan malam ia selalu pergi ke taman untuk menghirup udara segar.
"Aku kembali lagi.... Hey bunga bagaimana kabarmu. Lihatlah apa yang ku bawa. Jeng.... Jeng aku membawakan pupuk bunga." Taehyung berbicara sendiri sambil menaburkan pupuk dan menyiramkan air pada bunga lili hitam kesayangannya.
"Kau bicara sendiri......" Dengan senyuman dan wajah yang menawan Haruka sudah berada di belakang Taehyung.
"Haruka.... Ada apa kau disini?" Kejut Taehyung karena tiba-tiba saja Haruka menemuinya.
"Kenapa? Memangnya tidak boleh?" Ucap Haruka dan memanyukan bibirnya. "Hey apa kau benar-benar bicara pada bunga? Aneh sekali." Ejek Haruka dan mengambil posisi duduk di pinggiran air terjun.
"Tidak apa-apa, berhentilah mengejekku. Hal itu kulakukan agar bunga itu bisa terus tumbuh, bahkan aku juga akan mendoakannya." Ucap Taehyung sembari duduk disebelah Haruka.
"Eh... Begitukah? Memangnya bunga itu akan mengerti perkataanmu?"
"Entahlah, tapi seseorang pernah mengatakan padaku bahwa setiap bunga yang mekar pasti ada dewa bunga yang menumbuhkannya. Jadi kalau kita berdoa untuk tanaman dan dewa bunga mendengarnya, pasti bunga itu akan terus tumbuh dengan baik." Jawab Taehyung memberi penjelasan pada Haruka.
"Dan kau percaya hal itu?" Tanya Haruka sekali lagi dan menatap wajah Taehyung dengan lekat.
__ADS_1
"Be-begitulah. Berhentilah menatapku seperti itu." Taehyung langsung bergeser dari posisinya karena Haruka berdiri tepat di depannya.
Melihat Taehyung yang seperti itu membuat Haruka tertawa keras. Entah apa yang di ketawakan Haruka.
"Baiklah biar ku tebak, pasti seseorang itu adalah orang yang kau sukai?" Haruka menutup mulutnya supaya tawanya terhenti.
"Bu-bukan begitu juga." Taehyung berusaha menyangkal ucapan Haruka, tapi yang dikatakan Haruka memang benar.
Kali ini Haruka tertawa lagi, memang semenjak Haruka sudah tidak bekerja dirinya sudah terlihat bahagia dari sebelumnya.
"Hey berhentilah, mengapa kau terus menertawakanku?" Teriak Taehyung dan duduk kembali.
"Karena kau tidak pandai berbohong. Kim Taehyung jika kau berbohong aku pasti langsung tahu, karena bicaramu akan terbata-bata." Jawab Haruka.
"Eh.. Benarkah? Kau bahkan lebih mengenalku daripada diriku sendiri." Taehyung ikut terkekeh karena gadis disebelahnya sangat memahami dirinya dengan detail melebihi dirinya sendiri.
"Hey kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan disini?" Ucap Taehyung bertanya pada Haruka.
"Oh itu..." Wajah Haruka yang tadinya berseri-seri berubah menjadi muram. Entah kenapa seoalah-olah Haruka masih enggan menceritakannya pada Taehyung.
"Haruka doshite? (kenapa)." Taehyung sedikit panik karena melihat wajah Haruka yang tiba-tiba terlihat murung lagi. "Kau bisa ceritakan padaku, atau jika kau enggan kau tak perlu ceritakan padaku." Ucap Taehyung sekali lagi, ia juga tidak ingin memaksakan Haruka jika tidak ingin cerita tentang masalahnya karena mungkin itu hal yang privasi baginya.
"Kau tahu gadis yang selalu ku ganggu waktu itu? Aku akan memasuki sekolah yang sama dengannya, ayah angkatku melarangku untuk masuk di sekolah itu. Karena keberadaanku di khawatirkan akan mencelakainya lagi." Jawaban Haruka seperti benturan batu besar yang menghantam Taehyung.
Ternyata bukan hanya Taehyung saja yang menghawatirkan hal itu. Banyak orang yang peduli dengan Megumi, salah satunya adalah ayah angkatnya Haruka. Itulah mengapa Saibara masih belum membolehkan Megumi ke sekolah karena sudah mendengar kabar bahwa sekolah yang menjadi tujuan Haruka adalah SMA Higashi.
"Lalu apa kau akan mencelakainya lagi saat satu sekolah dengannya?" Tanya Taehyung dengan perlahan.
"Aku tidak mencelakainya, aku hanya memberinya pelajaran padanya. Mereka (keluarga Saibara) bisa bahagia dan tertawa ketika aku sedang menderita." Jawab Haruka dengan berteriak.
Taehyung sangat terkejut saat mendengar pernyataan Haruka. Ternyata benar kekhawatirannya, Haruka masih saja akan menganggu Megumi.
__ADS_1
"Itu sama saja." Ucap Taehyung dengan sedikit berteriak.