
Sejak dua tahun Haruka tidak pernah datang ke rumah seseorang dan ini pertama kalinya. Haruka merasa senang karena kedua orang tua Taehyung menyambutnya dengan ramah.
"Maaf membuatmu menunggu lama, ini buku tulisku yang masih kosong. Sebenarnya aku tidak punya banyak buku materi tapi aku bisa membelinya."
Taehyung memberika beberapa buku tulis dan alat tulisnya. Serta buku materi pelajaran yang ia beli sebelum masuk sekolah. Haruka mengambilnya dan mulai membaca buku yang di berikan Taehyung.
"Ehh..." Pekik Haruka, ia terkejut karena melihat tulisan yang sama sekali tidak ia ketahui.
"Maaf, ini buku lamaku." Taehyung baru sadar jika salah satu buku yang masih berbahasa Korea tak sengaja terbawa.
"Tidak apa, hanya saja sedikit kaget karena tak mengenali tulisannya." Jawab Haruka dan tersenyum.
Taehyung memeperhatikan wajah Haruka yang sedikit mengukir senyum. Entah mengapa ia malah teringat Megumi.
"Aku sudah lama sekali tidak membaca buku. Dan hari ini rasanya menyenangkan. Terimakasih Kim Taehyung." Ucap Haruka yang masih sibuk dengan membaca bukunya.
"Kalau begitu kita sepakat untuk belajar bersama, aku tidak akan memaksamu. Gunakan saja saat waktu luangmu."
"Hum, aku akan mencobanya." Jawa Haruka dan mengangguk.
Taehyung mendengar ibunya berbisik memanggilnya. Kemudian ia segera menghampirinya.
"Ibu membeli beberapa manisan, makanlah bersamanya." Ibunya menyajikan manisan dan minuman hangat untuk putranya dan temannya.
"Terimakasih." Taehyung pun segera menerimanya dan memberikan pada Haruka.
"Itukah teman permpuan Taehyung yang pertama kemari." Tanya Kim pada isrinya.
"Bukan yang itu, teman perempuan yang pernah kemari sebelumnya berambut pendek dan lebih manis. Aku khawatir apakah Taehyung hanya memiliki teman perempuan saja." Jawab Ibunya Taehyung.
"Siapapun temannya asalkan Taehyung bahagia. Jangan cemaskan itu." Tuan Kim berusaha meyakinkan istrinya.
Taehyung mengantar Haruka pulang sampai di stasiun. Ia sedikit senang karena bisa berteman dengan Haruka, dengan begitu Taehyung bisa meminta Haruka untuk tidak mengganggu Megumi lagi.
"Sampai Jumpa." Ucap Haruka kemudian pergi. Tak perlu berlama-lama akhirnya Taehyung juga pulang ke rumah.
...****************...
"Selamat pagi Kim Taehyung." Megumi menyapa Taehyung saat bertemu di halaman sekolah.
"Selamat pagi, kau mengingat namaku?" Tanya Taehyung dengan senang.
__ADS_1
"Belum." Megumi menujukkan buku catatan kecil kepada Taehyung.
'Laki-laki yang duduk di belakangku adalah Kim Taehyung. Dia temannku.'
Tulis Megumi pada catatan kecil itu.
"Baiklah sampai jumpa." Megumi melambaikan tangannya dan berlari ke arah Rikako yang berjalan jauh di depannya.
Taehyung tersenyum, ia mulai mendapatkan kepercayaan dirinya lagi. Harapannya akan terwujud ketika dirinya mau berusaha lagi untuk mendekati Megumi.
Karena ujian sudah di mulai, tempat duduknya mulai berubah. Taehyung masih mendapatkan bangku yang sama, tetapi yang di depannya bukan Megumi melainkan orang lain.
Megumi duduk jauh di depannya di samping tempat duduk Junta. Tapi tak masalah asalkan masih bisa bertegur sapa dengan Megumi, Taehyung sudah merasa senang.
"Ohayou (Pagi)." Sapa Taehyung kepada Hiroaki yang duduk di sebelahnya. Tapi Hiroaki hanya menoleh saja tak membalas sapaan Taehyung.
Sementara itu, Haruka sedang berada di rumahnya. Ia mulai membuka kotak kardusnya dan mengambil buku pelajarannya yang dulu. Tangannya mulai membersihkan buku-buku yang terkena debu. Pelajaran bahasa Jepang adalah yang sangat ia sukai.
"Sumimasen." Terdengar suara seseorang di depan dan ketukan pintu.
Haruka merapikan bukunya dan bergegas keluar.
"Konnichiwa, apakah kau sedang sibuk?"
Tanya laki-laki paruh baya dengan pakaian rapinya yang bernama Aoyama Ijima. Ia adalah seorang dokter yang ingin mengadopsi Haruka.
"Tidak juga, duduklah dulu."
Haruka menyuruh Aoyama untuk duduk di kursi teras, dan ia membuatkan minuman untuk tamunya.
"Bagaimana keadaanmu? Aku ingin jawaban atas tawaranku dan Istriku tempo hari."
Tanya Aoyama. Waktu itu ia dan istrinya menawarkan Haruka untuk menjadi anggota keluarganya, tapi Haruka menolak karena Aoyama adalah seorang dokter yang mempunyai rumah sakit dimana ayahnya meninggal.
"Aku masih memikirkannya." Jawab Haruka singkat.
"Kudengar kau sudah tidak bersekolah selama satu tahun lebih. Dan kau melakukan pekerjaan paruh waktu. Bukankah lebih baik kau menyetujui saja tawaran dariku." Ucap Aoyama membujuk Haruka.
"Boleh kutanyakan apa maksud tujuanmu?
Jika kau berniat membantuku bantu saja, tanpa harus menyuruh melakukan pers. Apa kau takut jika rumah sakitmu bangkrut." Tukas Haruka dengan emosi, ia langsung masuk ke rumahnya dan menutup pintunya.
__ADS_1
Aoyama masih berusaha menjelaskan pada Haruka, memang benar jika komentar-komentar jahat tentang rumah sakitnya masih tersebar maka bisa mempengaruhi rumah sakitnya. Meskipun Aoyama masih punya rumah sakit besar di kota Tokyo.
"Haruka, yang kau katakan benar. Aku memang takut jika rumah sakitku bangkrut. Karena semua penghasilanku juga berasal dari rumah sakit. Tapi yang perlu kau ketahui, saat di bawa ke rumah sakit kondisi ayahmu sudah sangat kritis, semua team medis sudah tidak bisa menyelamatkannya. Aku juga ingin membantumu juga dokter Saibara juga."
Aoyama berbicara di depan pintu yang tertutup. Ia yakin bahwa Haruka masih berada disana. Tujuan Aoyama memang baik tapi percuma saja jika membantu Haruka tetapi Haruka masih mengirim komentar-komentar jahat pada rumah sakitnya. Karena imbas dari masalah ini bukan hanya pada Haruka, tetapi putrinya dokter Saibara yang tidak ada kaitannya dengan masalah ini.
Haruka masih berada di balik pintu, ia juga bisa mendengar perkataan dari Aoyama san. Mengingat saat kematian ayahnya memang menyakitkan, karena saat dibawa ke rumah sakit tidak ada satu pun pihak rumah sakit yang menghubunginya. Haruka baru tahu ayahnya meninggal setelah lima jam itupun karena tetangganya yang memberitahu.
.
.
.
.
"Mungkin benar juga menurutmu. Tapi menurut pemikiranku bisa saja dokter itu benar-benar peduli padamu. Meskipun benar jika dokter itu hanya ingin nama baiknya kembali, bukankah itu termasuk tanggung jawab kepadamu? Haruka, pikirkan baik-baik tawaran dari dokter itu. Kau bisa bersekolah lagi dan mengubah hidupmu."
Taehyung mencoba memberikan saran kepada Haruka.
"Tapi... Ayahku meninggal di tangan dokter." Gumam Haruka dengan pelan.
"Jangan hanya keegoisanmu, kau membuang kesempatan emas. Kau masih ingin bersekolah kan?"
.
.
.
Haruka mengingat perkataan Taehyung saat sedang bekerja di taman. Sejujurnya Haruka jug ingin sekolah lagi maka dari itu dirinya sangat membenci putrinya Saibara. Tapi mengingat saat ayahnya meninggal membuat Haruka masih belum mampu memaafkan semua dokter yang ada di rumah sakit itu.
"Apa kau benar bisa membuatku sekolah lagi." Teriak Haruka saat Aoyama san akan masuk ke dalam mobilnya.
"Jika kau menyetujui semua persyaratanku."
"Lalu bagaimana dengan biaya kehidupanku. Kau juga sudah punya anak, mana mungkin anakmu mau menerimaku." Haruka mulai keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah Aoyama.
"Aku akan menanggungnya. Kau tahu jika aku dan istriku tidak mempunyai anak perempuannya. Setelah proses adopsi selesai kau bisa tinggal di rumahku. Tenang saja, putra pertamaku sudah tidak tinggal di rumah bersama. Jadi hanya istriku dan putra keduaku." Jawab Aoyama menjelaskan pada Haruka.
Sebelum membantu Haruka ia memang sudah mendapat dukungan dari istrinya, hanya saja belum mendapatkan dukungan dari putra pertamanya. Dan putra keduanya merasa masa bodoh dengan tindakan orang tuanya.
__ADS_1