
Kieta berdiri dari tempat duduknya, kemudian mengambil ranselnya dan hendak pergi dari rumahnya.
"Oniichan, jangan pergi."
Megumi langsung menghampiri kakak laki-lakinya dan mencegahnya untuk pergi.
"Jika kau keluar dari rumah ini, jangan pernah kembali lagi." Ucap ayahnya mengancam Kieta.
Bagaimanapun juga tidak seharusnya Kieta mengatakan jika ayahnya pembunuh. Putranya harusnya berada dipihaknya. Tapi di akhir-akhir ini, putranya berubah. Bahkan Kieta sering meninggalkan kuliahnya. Yang lebih mengejutkan lagi, putranya malah keluar dari kuliah kedokteran dan beralih ke jurusan sastra.
"Tentu saja." Jawab Kieta dengan senyum pahit di wajahnya.
"Oniichan, tidak boleh.... Jangan pergi lagi...."
Air mata Megumi sudah mulai berjatuhan. Entah berapa kali ia memohon pada kakaknya untuk tetap tinggal bersamanya. Tapi Kieta selalu tegas pada pendiriannya, kakinya melangkah keluar sekalipun Megumi memegangi tangannya.
"Hey Megumi, jadilah dewasa. Saat itulah kau bisa memutuskan apa yang terbaik untukmu. Selamat tinggal." Ucap Kieta dan melepas genggaman tangan kecil Megumi.
"Ikanaide..... (jangan pergi)."
Teriak Megumi dengan tangis yang sesegukan. Ia tak percaya jika kakaknya benar-benar pergi meninggalkannya. Hana masih memeluk Megumi dengan erat dan hanya memandangi kepergian putranya. Ia tak bisa berbuat lebih, karena tak mungkin menentang suaminya.
Kejadian yang menimpa suaminya tak membuat semua orang membencinya. Dan tak jarang Megumi mendapakan hinaan dari beberapa orang. Tapi meskipun seperti itu, suaminya menolak untuk berpindah tempat. Saibara mengatakan tidak akan lari karena ia tak bersalah atas apapun.
.
.
.
.
"Kau tak harus mengingatnya, bukankah kau sendiri yang ingin melupakannya. Mungkin saja itu adalah kenangan yang buruk, jadi secara tidak langsung memori otakmu langsung menghapusnya."
Megumi teringat dengan perkataan Mitsuya. Mungkin seperti inilah yang dimaksud kenangan yang buruk tapi berharga.
"Mitsuya kun, oniichan pergi meninggalkanku. Mungkinkah akan lebih baik jika aku tak mengingatnya? Aku ingin melupakannya semuanya."
Gumam Megumi dalam hatinya, hingga ia tak sadarkan diri dalam pelukan ibunya.
"Megumi.... Megumi...
Suamiku tolonglah Megumi pingsan."
__ADS_1
Hana segera berteriak kepada suaminya untuk membantu Megumi ke kamarnya.
Ia juga menghubungi Mitsuya untuk memeriksa keadaan Megumi dan memastikan jika putrinya baik-baik saja.
"Hanya kelelahan saja, tidak ada panic atack. Biarkan dia istirahat, dan buatkan teh hijau saat nanti terbangun." Ucap Mitsuya setelah memeriksa keadaan Megumi.
"Baiklah, terimakasih." Hana akhirnya lega setelah mendengar keadaan putrinya baik-baik saja.
"Bisakah mengurangi beberapa tekanan pada Megumi? Awalnya kupikir Megumi sebenarnya tidak menderita OCD tapi dokter psikologis lainnya menyimpulkan kearah OCD. Tapi akhir-akhir ini Megumi bercerita jika tidak bisa mengingat apa yang ingin diingatnya. Dia bahkan melupakan apa yang biasa menjadi aktivitasnya. Jika semakin berlanjut, aku tidak yakin jika kondisinya baik-baik saja."
Mitsuya menjelaskan bagaimana kondisi Megumi. Meskipun yang diderita Megumi tidak berbahaya, tapi jika terus berlanjut maka akan membuat kondisinya semakin buruk bahkan hingha ke arah gangguan mental uamg sangat serius.
"Lalu apa yang harus aku lakukan dokter?"
Tanya Hana dengan mata yang sudah sembab.
"Sebaiknya jauhkan Megumi dari hal-hal yang membuat batinnya terluka. Hanya dengan itu memori otaknya tak akan menghapusnya. Aku pergi dulu." Sembari memberi anggukan kecil Mitsuya berpamitan dan pergi dari kediaman Saibara.
Saibara hanya mampu memandangi Megumi yang sedang tertidur. Terbesit perasaan sakit di hatinya karenanya keluarga bahkan putri kesayangannya menjadi korban.
"Apa ayah tahu siapa yang menjadi korban karena kesalahan ayah. Aku, Ibu dan Megumi."
Suara putranya masih berbekas di telinganya, Saibara sudah menyadari jika semuanya adalah kesalahannya. Tapi ia tak mungkin lari dari tanggung jawab. Jika dirinya dan keluarga pergi dari desa ini, itu artinya Saibara mengakui kesalahan yang tidak ia perbuat.
Keesokan harinya, Megumi terbangun dengan keadaan rambut yang berantakan dan wajahnya yang sedikit basah. Ia sangat terkejut karena ibunya berada di sebelahnya dan tertidur dengan posisi duduk.
"Megumi, kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja? " Tanya ibunya dengan panik.
"Memangnya apa yang terjadi padaku? Apakah ibu baru saja mimpi buruk? " Tanya Megumi dan sedikit menertawakan ibunya.
Kejadian semalam tentu saja Megumi melupakannya sesuai dengan perkataan Mitsuya, bahwa Megumi akan melupakan apa yang diingin dilupakan dan mengingat apa yang ingin diingat.
"Mungkin saja. Baiklah cepatlah mandi, ibu akan membuat makan pagi." Ucap ibunya seakan mengiyakan perkataan Megumi dan membiarkan jika putrinya menganggapnya mimpi buruk.
...----------------...
"Ohayou (pagi). " Sapa Megumi kepada ayahnya yang sedang sibuk membereskan barang-barang.
"Apa yang sedang ayah lakukan, siapa ini?" Tanya Megumi sekali lagi.
Saibara tiba-tiba terkejut karena menanyakan fotonya dengan Kieta. Apakah Megumi bercanda atau berpura-pura.
"Kau tidak tau siapa yang ada difoto ini?"
__ADS_1
Saibara bertanya dan menunjukkan foto yang ada di pigora kecil.
Percakapan suaminya dan putrinya membuat Hana menghentikan masakannya dan menghampiri keduanya.
"Tentu saja aku tahu, ini adalah ayah. Apakah ini teman ayah. Dia terlihat masih muda." Jawab Megumi dan menunjuk foto di sebelah ayahnya.
"Megumi apakah kau tidak mengingatnya? Dia adalah kakakmu, Kieta." Sahut ibunya dari belakang.
"Kakak? Eh... Aku punya seorang kakak, kenapa ayah dan ibu tidak memberitahuku." Tanya Megumi dengan wajah polosnya.
Megumi tidak hanya melupakan kejadian semalam, tetapi Megumi juga melupakan kakaknya yang selama ini sangat dekatnya dengannya.
Hana hanya bisa melihat Megumi dengan mata yang berkaca-kaca, ia teringat dengan ucapan Dokter Mitsuya yang mengatakan jika Megumi mulai melupakan apa yang menjadi aktivitasnya.
.
.
.
"Tapi akhir-akhir ini Megumi bercerita jika tidak bisa mengingat apa yang ingin diingatnya. Dia bahkan melupakan apa yang biasa menjadi aktivitasnya. Jika semakin berlanjut, aku tidak yakin jika kondisinya baik-baik saja."
.
.
.
Saibara hanya memperhatikan keadaan putrinya yang semakin hari membuatnya merasa bersalah. Megumi masih bisa tersenyum dan mengatakan baik-baik saja, namun sejatinya ada luka yang sangat dalam di hatinya.
Karena kejadian semalam, Saibara memutuskan untuk mengantar putrinya ke sekolah. Ia juga ingin bertemu dengan Masahiro dan mengatakan jika kondisinya purtinya sudah sangat menghawatirkan.
"Rikako chan selamat pagi." Sapa Megumi dengan tersenyum kepada sahabatnya.
"Selamat pagi, tumben sekali ayahmu mengantarmu? " Tanya Rikako karena Megumi turun dari mobil.
"Dia ingin bertemu dengan Masahiro Sensei." Jawab Megumi dan berjalan di samping Rikako.
"Ehh... Apakah ayahmu sudah menyetujui hubungan kalian... " Ucap Rikako dengan nada bercanda, karena tahu jika Megumi menyukai Masahiro.
"Baka... Masahiro sensei menolakku berkali-kali. Apa kau sudah siap test bahasa inggris? "
"Tentu saja, aku sudah belajar semalaman. Bagaimana denganmu? "
__ADS_1
"Aku..... Semalam??? Entahlah, kupikir aku tertidur." Jawab Megumi dengan menggaruk kepalanya karena tak ingat apakah semalam ia belajar atau tidak.