
Saat ini Masahiro sudah menginjak kelas tiga SMA. Berbagai ujian untuk masuk universitas sudah ia jalani namun belum juga menemukan universitas mana yang akan Masahiro masuki.
"Masahiro kun....!"
Suara nyaring Megumi sudah terdengar di telinga Masahiro dan dari kejauhan Megumi juga melambaikan tangan kearahnya.
Sejak pertemanan itu, Megumi selalu menjemput Masahiro di sekolahnya.
"Apa kau sudah menunggu lama? " Tanya Masahiro setelah jaraknya sudah dekat dengan Megumi.
"Tidak...
Masahiro kun aku mendapat nilai sempurna saat menggambar."
Megumi menunjukkan buku gambarnya, ia menggambar pemandangan gunung Fuji dan beberapa kuil. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan dan gambaran yang sangat bagus untuk seusia Megumi.
"Woow, Sugoi... (keren sekali). Megumi chan sangat berbakat dalam menggambar."
Masahiro memuji gambaran milik Megumi dan sangat kagum. Dirinya saja tidak bisa membuat gambaran yang sesempurna itu.
"Gambar yang bagus. Higashide, apa dia adikmu? "
Tanya seseorang merupakan teman sekelas Masahiro. Ia baru saja lewat dan juga melihat gambaran milik Megumi yang dibawa oleh Masahiro.
"Dia temanku." Jawab Masahiro dan membenarkan posisi kacamatanya. Baru kali ini ada seorang seusianya yang memanggilnya dan mengajaknya bicara.
"Oniichan, aku berteman dengan Masahiro kun. Apakah Oniichan juga temannya karena seragam yang kalian pakai sama.
Masahiro kun bercerita jika di SMA ada banyak teman. "
Megumi berbicara dengan seorang laki-laki yang memuji gambarannya.
"HAH... Higashide berteman dengan anak kecil? Kau sepertinya menyukai anak-anak."
Ucap salah satu teman perempuan dan seperti mengejek Masahiro.
Masahiro hanya menunduk sementara Megumi hanya memandanginya dengan mata bulatnya.
"Ayo pergi Masahiro kun."
Tangan kecil Megumi menggandeng Masahiro dan tersenyum. Ia juga mengajak Masahiro untuk pergi dari kedua temannya.
Saat ini entah kenapa Masahiro memandang Megumi sebagai gadis yang sudah dewasa. Gadis kecil itu seakan tahu bagaimana perasaan Masahiro yang sedang malu dan sakit hati dengan perkataan teman perempuannya.
"Ano... Sebenarnya aku tidak punya teman."
Masahiro melepaskan tangan Megumi saat sudah merasa jauh dari kedua temannya. Ia merasa malu karena ketahuan berbohong pada Megumi.
"Aku berbohong padamu, karena tak ingin kau beranggapan jika SMA membosankan."
Ucap Masahiro kembali, saat ini dirinya malu menatap wajah Megumi.
Megumi hanya memandangi Masahiro dengan tatapan polosnya.
__ADS_1
"Masahiro kun, kita adalah teman kan."
Perkataan kecil dari gadis kecil itu membuat perasaan sakit hati Masahiro hilang seketika.
Masahiro hanya mengangguk kemudian tersenyum kepada Megumi.
"Masahiro kun, jadilah orang dewasa yang kuat. Dengan begitu orang lain tidak akan mengejekmu." Ucap Megumi sekali lagi saat mereka berdua bermain ayunan.
"Kau benar, aku terlalu lemah." Balas Masahiro dan menyadari kekurangannya.
"Tidak.. Masahiro kun tidak lemah. Hanya saja Masahiro kun kurang berani untuk menatap ke depan."
Megumi kemudian turun dari ayunannya dan mendorong ayunan yang dinaiki Masahiro.
"Angkat kepalamu dan lihatlah kedepan. Semuanya akan baik-baik saja."
Ucap Megumi sekali lagi dan mendorong ayunan yang dinaiki Masahiro.
Meskipun agak sedikit takut, tapi Masahiro akhirnya bisa merasakan betapa serunya mengayunkan ayunannya dengan tinggi.
''Yang dikatakan gadis kecil itu memang benar, jika melihat ke bawah terasa menakutkan. Tapi jika melihat kedepan terasa sangat menyenangkan."
Setelah kejadian itu Masahiro mendapatkan satu kekuatan untuk melangkah maju. Ia memutuskan untuk masuk universitas Tohoku dan mengambil jurusan sastra. Meskipun ayahnya adalah seorang dokter, tapi tak memaksakan keinginan putranya.
"Jaa ne... Aku akan kembali empat tahun lagi." Masahiro berpamitan dengan Megumi tepat saat menjemput Megumi di kuil. Saat itu Megumi juga bersama teman perempuan yang seusianya yaitu Rikako.
"Masahiro kun kenapa tidak kuliah di sini?"
Pertanyaan Megumi sebenarnya membuat Masahiro juga tidak ingin berpisah.
Masahiro mengusap rambut milik Megumi dengan lembut.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Masahiro kun pergilah dan cepatlah kembali, aku akan menunggumu."
Megumi akhirnya menampakkan senyumannya. Dan melambaikan tangan saat Masahiro pergi meninggalkannya.
"Megumi, apa yang dari tadi kau pegangi?"
Tanya Rikako teman Megumi yang melihat kertas bewarna merah muda yang dari tadi di genggam temannya.
"Surat cinta."
"HAH, apa kau akan memberikan pada kakak yang barusan pergi itu?" Tanya Rikako dengan terkejut.
"Aku berpikir seperti itu,"
"Lalu kenapa kau tidak memberikannya, sekarang kejarlah. Kakak itu pasti belum jauh." Ucap Rikako memberikan semangat untuk temannya.
"Tidak. Masahiro kun pasti akan mempunyai teman banyak dan orang yang disukai disana. Jika aku memberikan surat cintaku, maka sama seperti perkataan temannya. Aku tidak ingin Masahiro membenciku. Aku masih ingin bertemu dengan Masahiro kun dan bersama-sama."
Megumi menjelaskan alasan kenapa ia tak jadi memberikan suratnya pada Masahiro.
"Berikan padaku, aku akan membuat kakak itu kembali lagi." Rikako kemudian mengambil kertas merah muda punya Megumi. Ia kembali lagi ke kuil dan mengubah isi suratnya.
__ADS_1
Isi surat dari Megumi
' Aku menyukai Masahiro '
Rikako mengubahnya
' Aku merindukan Masahiro, kembalilah '
Setelah itu Rikako menempelkan surat milik Megumi pada barisan harapan yang terletak di sebelah timur kuil. Itulah yang menjadikan Masahiro kembali lagi ke kotanya. Ia selalu melihat harapan Megumi yang tergantung saat mengunjungi kuil.
.
.
.
.
(back to time)
"Guru yang baik juga tidak akan merokok di sekolah. Karena jika muridmu melihat sama saja kau seperti mengajarinya."
Suara gadis kecil yang biasa didengar Masahiro kini sudah berubah menjadi gadis dewasa yang tumbuh dengan kuat. Masahiro mematikan rokoknya dan membuangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? " Tanya Masahiro kepada Megumi yang sudah berada di dekatnya.
"Aku tak sengaja melihatmu berbicara dengan orang Korea Selatan. Apa yang kalian bicarakan?"
Tanya Megumi seakan ingin tahu apa yang sedang di bicarakan oleh mereka.
"Kau pasti bangga dengannya, karena berhasil memenangkan taman kelas. Omedeto (selamat)." Ucap Megumi sekali lagi dan memberi selamat pada Masahiro. Ia kemudian berjalan keluar dari atap.
"Bagaimana menurutmu tentang orang dari Korea Selatan itu."
Pertanyaan Masahiro membuat Megumi berhenti dan berbalik kearah Masahiro.
"Entahlah. Meskipun aku duduk di depannya, kurasa kami berdua tak begitu akrab." Jawab Megumi dengan santai dan sesuai dengan yang ia rasakan.
"Benarkah? "
Masahiro tidak begitu terkejut dengan jawaban Megumi. Hanya saja ia merasakan jika Taehyung yang mendengar pasti akan merasa sedih.
"Tapi akhir -akhir ini aku berbicara cukup banyak dengannya. Orang dari Korea Selatan itu menyuruhku untuk menggambar. Aku juga tidak mengerti, padahal aku merasa tidak punya hobi apapun. Tapi orang itu mengatakan jika aku sering menggambar."
Mendengar perkataan dari Megumi, Masahiro hanya mengusap rambutnya dengan lembut.
"Seringlah berbicara dengannya. Oh ya, dia juga mempunyai nama."
"Siapa namanya? " Tanya Megumi.
"Lebih baik kau tanyakan sendiri.
Ayo kembali, kau bisa terkena flu jika terlalu lama di luar."
__ADS_1
Ucap Masahiro dan berjalan mendahului Megumi.