
Marsha berjalan tergesa-gesa berlari di koridor rumah sakit . Pikiran nya sudah tidak tenang ketika ada kakek Malik menghubungi nya tadi . Sampai diri nya tidak sadar , jika Omi nya tertinggal di belakang nya .
"Sha tunggu " Omi menghela nafas nya kasar , mau di teriakin juga enggak dengar Marsha nya .
Marsha masih berjalan menyusuri koridor rumah sakit , diri nya membaca setiap ruangan , dan mata nya langsung menatap Kakek Malik .
Marsha mendekat , lalu berjongkok .
"kek "
Kakek Malik mendongak menatap sendu Marsha
"Sha "
"Vandra "
"Vandra kenapa ?"
"Vandra koma"
Deg
Marsha langsung limbung , diri nya jatuh pingsan .
___oOo__
Marsha tengah merebahkan tubuh nya di atas kasur , sembari melihat langit-langit kamar nya . Gadis cantik itu menghela nafas nya panjang , ketika diri nya mengingat beberapa hari lagi status nya akan berubah menjadi istri .
"Apa aku bisa ?" Tanya Marsha .
Meraih bantal yang ada di sebelah nya Marsha menutupi kepala nya dengan bantal , lalu memejamkan kedua bola mata nya . Pikiran nya melayang beberapa tahun yang lalu .
"Sha" panggil Arga dengan suara parau nya.
Marsha yang tengah berbicara dengan Reni langsung menoleh ke arah sumber suara . Di sana ada Arga , yang tengah berdiri di samping nya . Bukan bukan itu yang membuat Marsha terkejut . Tapi penampilan pria itu yang sudah sangat kacau .
Marsha mencoba mendekat . Namun Arga mengangkat tangan nya ,
"Stop!"
Marsha mengerut kan kening nya bingung , "Ga , kamu kenapa ?" Tanya Marsha .
Arga tersenyum sinis , menyeka bibir nya yang robek , yang mengeluarkan sedikit darah , Arga terkekeh . "Gue benci sama Lo " itu kata yang keluar dari mulut Arga , Sebelum pria itu melangkah kan kaki nya berlalu dari sana .
Marsha tersentak , mata nya sudah memerah , mata nya sudah ingin menumpahkan cairan bening . Marsha yang tidak ingin Arga pergi langsung berlari menyusul Arga .
"Ga !" Teriak Marsha.
"Arga !"
__ADS_1
Arga tidak menghiraukan nya sama sekali . Arga malah melangkah kan kaki nya menuju ke arah Revan , Kavandra dan Tristan .
"Ga , Lo di panggil sama Marsha , mungkin dia bisa bantu Lo , lihat tu muka Lo bonyok" ucap Tristan .
Arga menggeleng lemah , pria itu melirik sebentar ke arah Kavandra yang tengah terdiam memasang wajah datar nya . Arga menghela nafas nya kasar , menjatuhkan bokong nya di bangku samping Revan .
Marsha menyusul nya . Marsha dengan nafas nya yang tersengal-sengal langsung menarik tangan Arga .
"Ga kamu kenapa ? " Tanya Marsha dengan raut wajah nya yang panik .
Arga menyentak tangan Marsha dengan kasar . Membuat semua nya melongo dengan tingkah Arga .
"Ga!" Pekik Kavandra
Arga tersenyum getir . Mengabaikan pekikan Kavandra , diri nya menatap nyalang ke arah Marsha .
"Enggak usah sok peduli sama gue !"
"Gimana aku enggak peduli sama kamu ?" Teriak Marsha histeris .
"Sha ..." Kavandra mencoba mendekati nya , namun Marsha mengangkat tangan nya .
"Di situ aja " Kavandra menurut ,
"Kamu kenapa Arga ?" Tanya lagi Marsha , mata nya masih menatap lekat ke arah Arga .
Marsha menggeleng kan kepala nya .
Arga yang mood nya sudah hancur langsung membalikkan tubuh nya hendak pergi . Namun kata-kata dari Marsha selanjutnya nyaris membuat diri nya membeku di tempat . Bukan hanya dia , tapi semua nya membeku di sana . Kavandra , Tristan , Revan , dan Reni yang baru saja datang juga ikutan terkejut .
"Gimana aku bisa jauhi kamu , kalau aku cinta sama kamu "
Deg
Jantung Arga berdetak kencang ketika Marsha mengatakan jika Marsha memiliki perasaan kepada nya .
Sedangkan Kavandra , memejamkan kedua bola nya nya , memegang jantung nya yang berdenyut ketika seorang yang di cintai nya malah mencintai orang lain .
Tristan , Revan dan Reni sama terkejut nya , mereka saling pandang .
"Gue pikir , Marsha cinta nya sama Vandra !" Celetuk Revan yang langsung mendapat anggukan dari kedua nya .
"Iya mereka Deket banget , "
"Lebih dekat sama Arga kali "
"Enggak-enggak , sama aja "
_____
__ADS_1
Tring Tring Tring
Marsha tersentak dalam lamunan nya , gadis cantik itu meraih ponsel nya yang ada di atas nakas .
"Kakek Malik ?"
Marsha menekan tombol hijau , terdengar suara tangisan di seberang telepon .
"Halo kek ? Halo kek ada apa ?" Tanya Marsha .
"Mar--sha , van-dra" suara kekek Malik tercekat .
"Vandra kenapa kek ?"
"Vandra--"
"Kek , coba bicara nya pelan-pelan " ucap Marsha .
Kakek Malik menghembuskan nafas nya kasar . " Marsha , Vandra kecelakaan "
Prang
Ponsel Marsha terjatuh , Marsha terkejut bukan main , diri nya menggeleng-gelengkan kepala nya .
"Enggak -enggak "
"Sha"
Seiring dengan itu , Omi masuk , diri nya juga tidak kalah terkejut dengan Marsha .
Marsha mendongak menatap sang Omi .
"Va-- vandra kecelakaan Omi " ucap Marsha .
Omi mengangguk kan kepala nya lemah . "Kakek Malik nelpon Omi , Ayo kita ke rumah sakit "
Marsha bangkit , lalu berjalan keluar dari kamar nya , mereka berdua bergegas ke rumah sakit .
___oOo__
"Ga , mobil Lo kenapa ini , astaga ? Lo habis nabrak apa Ga ?" Teriak Revan sembil menelisik mobil milik Arga yang depan nya agak rusak ,
Arga mengedikkan bahu nya acuh . "Berisik banget sih Lo . Kalau mau pake yaudah sana tinggal bawa aja . Enggak usah banyak banget bacot deh " gerutu Arga kesal .
Revan berdecak kesal . "Ya gue syok lah . Mobil sultan kayak gini penyok men ... "Lalu Revan memicingkan mata nya . "Lo enggak lagi nabrak orang kan Ga ?" Tanya Revan .
Arga gelagapan , "ya--ya enggak lah " sahut nya , lalu berdekhem sejenak . "Udah sono , gue mau mandi " Arga melangkah kan kaki nya menuju ke apartemen nya .
Revan mendengus kesal , lalu tanpa pikir panjang membuka pintu mobil dan masuk , melajukan mobil milik Arga , pergi ketempat diri nya tuju .
__ADS_1