
Saat menghembuskan nafas kasar, Tristan membuka pintu rumah dan pandangannya langsung tertuju pada dua orang yang tengah berciuman. "CK, gila lo, pagi-pagi udah masukin ****** aja!" pekik Tristan kesal, menggebrak pintu dengan kuat hingga suaranya membuat kedua orang itu terkejut.
"Sang kakak terkekeh lalu menatap ke arah seorang wanita yang ada di sampingnya, "Kamu keluar dulu, aku mau ngomong sama adik aku," ujarnya pada Vera.
"Tapi Nat--"
"Ver, keluar. Aku mau ngomong serius sama Tristan."
Vera mengangguk dan meninggalkan rumah kakak Tristan. Sang kakak menatap kembali ke arah Tristan dan bertanya, "Ada apa kamu datang kemari?"
Tristan menghela nafas kasar dan menatap sang kakak dengan lekat. "Gue mau bilang kalau Mama sakit dan bisa enggak sebentar aja lo datang jengukin Mama. Kondisinya..." Nafas Tristan tercekat; ia tak mampu mengutarakan kondisi Mama karena semakin parah sejak Mama datang ke klub waktu itu.
Sang kakak menggeleng lemah. "Aku udah diusir sama Mama."
"Bisa enggak lo jangan egois?!"
"Gue enggak egois, Tris, tapi nyokap yang--"
"Itu bukan salah Mama, itu salah lo."
"Enggak! Aku enggak pernah salah. Aku ngelakuin hal itu untuk Nesya!!"
"Tapi tetap salah! Dan Mama enggak suka kak Nathan!!! Mama enggak suka anak-anaknya buat kriminal."
__ADS_1
Menghembuskan nafas kasar, Nathan memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya lagi dan menatap Tristan. "Oke! Aku besok pulang ke rumah."
"Ke rumah sakit keluarga! Mama ada di sana!" ucap Tristan lalu bangkit dari duduknya, melangkah keluar dari rumah kakaknya. Sebelum benar-benar keluar, Tristan menoleh ke belakang dan menatap terus sang kakak. "Lo boleh ganggu atau celakai Arga atau Vandra tapi tidak dengan Marsha! Gue tekanin sekali lagi sama lo! Jangan coba-coba ganggu Marsha atau coba buat lukai dia!" Ancam Tristan.
Nathan terkekeh, kedua sudut bibirnya membentuk senyuman miring. "Masih cinta, hm?"
"Bukan urusan lo!" ucap Tristan, lalu berlalu pergi.
"Kita lihat saja nanti," gumam Nathan dengan seringainya.
_oOo.
"Ga makan dulu nanti kapan sembuhnya lo kalau enggak mau makan? Aghh, frustasi gue jadi nya. Kalau tau begini gue milih pulang aja. Enak rebahan, dari pada jagain lo. Is tante Reta lagi ini, malah pergi ke kantor lagi," gerutu Revan.
Arga mencebikkan ujung bibirnya. "Lo bisa diem enggak sih Van! Gue pusing dengerin lo ngomel aja dari tadi. Gus kan udah bilang, lo simpen aja di nakas, nanti kalau Marsha datang baru gue mau makan," ucap Arga.
"Sew--"
Cklek.
Pintu ruangan Arga dibuka, di sana Marsha datang dengan membawa paper bag dan mengulas senyuman manisnya. "Ah, beruntung banget! Kayaknya kita jodoh deh Sha! Baru aja gue ngomongin lo, lo udah datang. Kayaknya beneran deh kita-- aduhhh!" pekik Revan ketika sebuah sendok melayang mengenai kepalanya, pelakunya siapa lagi kalau bukan Arga.
Revan meringis, memegangi kepalanya yang berdenyut, "Gila sakit ga! Bisa geger otak gue! Lo gila banget sih," gerutu Revan.
__ADS_1
Arga berdecih sinis. "Siapa suruh lo ngomongnya ngelantur," sahutnya sewot.
Revan bergumam tidak jelas, Marsha melangkahkan kakinya mendekat sambil meringis melihat Revan yang dilempar sendok oleh Arga. "Van, kamu udah makan?"
Revan menganggukkan kepalanya. "Gue pagi-pagi udah sarapan beli di kantin rumah sakit. Lo harusnya tanya sama si manja tuh," tunjuknya ke arah Arga dengan dagunya. "Dia dari tadi nungguin lo. Kalau lo enggak datang, dia enggak mau makan," celetuk Revan tanpa dosa.
Sial.
Arga membulatkan kedua bola matanya ke arah Revan yang memasang wajah acuh. "Kok kamu belum makan ga?" tanya Marsha.
"Emm-- it--"
"Bener apa yang dibilang sama Revan? Kalau iya, gimana kalau aku tadi enggak datang? Nanti kamu sakit lagi," ucap Marsha.
Arga menghembuskan nafas kasar, pipinya merah merona. Sial emang mulut mercon si Revan. "Gue enggak suka makan bubur, Sha," lirih Arga.
Marsha menganggukkan kepalanya, lalu membuka paper bag yang dibawanya tadi. Dia membawa sup daging kesukaan Arga, yang dibuatnya sendiri tadi di rumah. "Makan sup daging mau?" tanya Marsha.
Arga menganggukkan kepala antusias. "Mau, tapi--, suapin bisa? Tangan aku lagi di infus," lirih Arga dengan wajah memelasnya.
Marsha menganggukkan kepalanya, lalu duduk di samping Arga dan mengarahkan sendok berisi sup ke mulut Arga. "Enak?"
"Enak banget Sha. Masakan lo enggak pernah berubah. Gue suka banget," ucap Arga di sela-sela mengunyahnya.
__ADS_1
Marsha tersenyum mendengar pujian dari Arga. Sedangkan Revan, mencebikkan ujung bibirnya lalu kedua tangannya menengadah ke atas. "Ya Allah, kapan lah jomblo ini dikasih pasangan! Capek lihat orang mesra-mesraan."
"Sirik bilang!" celetuk Arga.