
π²ππππ π΄ππππ πππππππ πππππππ πππ ππππ ππππ πππππ . π¨ππ ππππ π π π πππππππ π πππππ πππ π πππ ππ πππππ π πππππ πππππππππ πππ . π³πππππ πππ ππππππ π πππ πππππ πππ . π©ππππ πππππ π΄ππππ .
π΄πππππππ πππππ πππ πππππ , πππππ π΄ππππ πππππππ ππ ππππ π΄πππππ ππππ πππ πππ πππ π π πππ ππππ .
"πΊππ."
π΄πππππ ππππ πππππ πππππππ πππππ π΄ππππ.
"π°ππ πππ ?"
"πΊπππππ πππ ππππ ππππππ πΊππ . π°ππ ππππ ππ ππ πππππ. π¨πππ πΆππ ππππ ππππππ . π·ππππ π΄πππ ππππ π·πππ ππππ πππππ ππππππ ππππππ" ππππ πππππ π΄ππππ .
"π»πππ π½πππ ππ πππ ?"
"π½πππ ππ ππππ-ππππ ππππ πΊππ"
π΄πππππ ππππππππππ πππ ππππππ πππ , ππππ πππππππ π πππ π ππ ππ πππ .
"Kek , Marsha pamit pulang dulu ya . " Marsha menyalami kakek Malik dengan takjim , kakek Malik mengangguk kan kepala nya .
"Hati-hati Sha "
"Aku pamit juga ya Lik , kamu yang kuat " ucap Omi .
"Terimakasih banyak " sahut kakek Malik tersenyum . Omi hanya mengangguk , lalu Marsha dan Omi melangkah kan kaki nya berlalu dari sana .
Kakek Malik menghela nafas nya dalam , menatap punggung dua perempuan tersebut .
Di koridor rumah sakit , kedua nya tidak sengaja berpas-pasan dengan Arga dan Revan .
"Eh Omi , Marsha " sapa Arga dan Revan berbarengan , kedua nya mencium punggung tangan Omi dengan takjim .
"Kalian mau kemana ?" Tanya Omi .
"Mau jenguk Vandra , mi , kami baru aja dapet kabar , itu juga dari grup sekolah " sahut Revan sembari tersenyum .
Omi mengangguk kan kepala nya . "Tapi kayak nya kalian balik aja deh , Vandra nya baru aja siuman dari koma nya . Mungkin besok bisa kalian jenguk lagi ." Ucap Omi yang tahu betul kondisi Kavandra saat sekarang ini . Diri nya tidak ingin membuat teman-teman Kavandra terkejut dengan apa yang di alami pria itu .
Revan mengangguk kan kepala nya . "Oke deh , oiya Omi sama Marsha mau pulang ?" Tanya Revan.
Omi mengangguk , "iya ini Revan "
"Naik apa ?"
"Mungkin pesen taksi deh , soal nya sedari tadi pak Mamat di telponin enggak di angkat juga ."
"Bareng kami aja deh mi , kami bawa mobil kok" ucap Revan .
"Enggak ngerepotin ?" Tanya Omi .
"Ya enggak lah , kan Marsha juga calon istri nya Arga , ya enggak Ga " Revan menyikut lengan Arga yang sedari tadi diam .
Arga tergeragap , lalu beralih menatap ke arah Omi . "Eh--eh iya , enggak apa-apa kok mi , ini juga udah malam banget , susah dapet taksi . Lagian dari tadi om Jordan udah nelponin Arga aja ni , nanyain Marsha ada sama Arga enggak " ucap Arga .
__ADS_1
Omi membulat kan kedua bola mata nya . "Ya ampun , Omi lupa ngasih tau Jordan, ayo Arga , Revan , Marsha , kita pulang . Nanti di dalam mobil deh Omi telpon Jordan " ucap Omi melangkah kan kaki nya di susul oleh Revan .
Sedangkan Arga masih diam tidak bergeming , Arga masih menelisik wajah Marsha yang membengkak , Arga yakin itu karena Marsha menangis sedari tadi . Ada sesak di dalam diri Arga , ketika melihat nya . Entah mengapa Arga tidak suka Marsha menangis untuk orang lain .
"Ga , yuk" ajak Marsha .
Arga tidak menyahut , pria itu membalikkan tubuh nya melangkah kan kaki nya .
Marsha menghela nafas nya panjang , entah apa yang terjadi kepada Arga , tapi bisa Marsha lihat jika Arga marah pada nya .
____oOo___
"Gila bro. Lo udah minum banyak banget " ucap seorang pria , merebut gelas yang masih berisi minuman beralkohol dari tangan Tristan .
"Berisik banget sih " Tristan meraih lagi gelas , lalu menuangkan air alkohol ke dalam nya .
"Bro"
Tristan menggeram , pria itu menatap tajam ke arah nya . "Gue bilang diam ya diam "
"Tapi "
"Bawel "
"Tris "
"Diam Bangs*at"
"Tris "
Menoleh Tristan menatap kesal ke arah teman nya itu . "Apa sih "
Tristan berdecak kesal , tapi tetap menoleh ke arah tunjuk sang teman .
Deg
Jantung Tristan berdetak kencang ketika melihat sang Mama ada di samping nya sambil bersidekap dada . Tristan sampai meneguk Saliva nya susah payah .
"Ma "
"Begini rupanya anak-anak mama ya . Tingkah nya enggak jauh beda sama Papa kamu yang udah mati itu . Mama kecewa banget sama kamu Tristan ! Mama tau kamu punya usaha club' . Dan Mama ijinin . Tapi enggak gini juga cara kamu memperlakukan diri kamu seenak nya . Kamu pikir mama kamu sudah mati , jadi kamu seenaknya saja hidup . "
"Ma --"
"Kamu , Abang kamu , dan adik kamu itu sama aja , sama-sama parasit buat kehidupan mama . Apa lagi papa kamu yang udah mati itu . Udah mati aja masih nyusahin mama "
Tristan mengepalkan kedua telapak tangan nya , sungguh Tristan sangat emosi , Tristan tidak terima jika almarhum papa nya yang sedari dulu memberikan kasih sayang kepada mereka semua harus di hina oleh sang Mama .
"Ma--"
"Kamu mau apa Tristan ? Mau bela semua nya iya ? Mama pikir kamu beda dari yang lain nya , buat mama bangga , tapi apa ? Kamu enggak jauh beda dari mereka semua nya . Buat mama sakit hati Tristan "
"Ma --"
__ADS_1
"Apa ? Kamu --"
"MA STOP !! TRISTAN BILANG STOP YA STOP !! " Bentak Tristan yang sudah tidak tahan dengan apa yang di ucapkan sang Mama .
Mama nya tersentak , lalu menggeleng kan kepala nya dengan isakan yang sudah keluar akibat bentakan dari Tristan .
Tristan memejamkan kedua bola mata nya ketika melihat sang Mama yang sudah terisak menangis . Tristan bangkit dari duduk nya lalu berdiri , mensejajarkan tubuh nya dengan sang Mama .
"Ma --"
"Mama kecewa sama kamu TRISTAN " teriak nya , lalu berlari dari sana .
Tristan mengacak rambut nya frustasi . "Brengs*ek sialan !!!"
\_\_\_\_oOo\_\_\_
Menghela nafas nya panjang , kakek Malik membuka pintu ruang inap Kavandra . Pria tua itu lalu melangkah kan kaki nya menuju ke arah dimana sang cucu tengah terbaring di atas brangkar rumah sakit .
Kakek Malik duduk di sana , menatap wajah Kavandra yang masih tertidur pulas . Pikiran nya masih mengingat apa yang terjadi tadi .
"Kalian siapa ?" Tanya Kavandra .
Tubuh semua orang menegang ,
Dokter yang menangani Kavandra langsung menyuruh semua nya untuk keluar , diri nya akan memeriksa lebih lanjut lagi keadaan Kavandra .
Dua puluh menit sudah lewat semua nya masih menunggu sang dokter siap memeriksa kondisi Kavandra , tidak lama pintu terbuka , di sana sang dokter keluar .
"Bagaimana dokter ?" Tanya mereka semua nya .
Dokter tersebut tampak menghela nafas nya dalam . "Maaf sebelum nya , saya salah diagnosa , jika pasien saat ini mengalami amnesia . Jadi pasien tidak mengingat siapa pun " ucap sang dokter .
Deg
Semua orang terkejut bukan main , mereka sampai lemas , mendengar perkataan sang dokter .
"Dok , apa kemungkinan pasien mengingat lagi ada ? " Tanya Reni .
Dokter tersebut mengangguk kan kepala nya . "Ada , karena lambat laun , pasien pasti akan mendapatkan ingatan nya kembali . Ka--kalau begitu saya pamit dulu " seru sang dokter yang terlihat gugup sedikit ni karena tatapan dari kakek Malik .
Semua nya mengangguk , lalu menjatuhkan bokong nya ke kursi , mereka semua dengan pikiran nya masing-masing .
Sedangkan kakek Malik memicingkan mata nya , menatap punggung sang dokter , lalu kakek Malik pamit kepada mama nya Reni pergi sebentar .
"Papa mau kemana. ?"
"Papa mau ke kantin sebentar "
"Bair saya yang temani papa ya "
Kakek Malik menggeleng kan kepala nya . "Tidak usah , kamu temani Omi dan Marsha saja . Papa bisa sendiri "
"Tapi pa --"
"Papa baik-baik saja oke " ucap Kakek Malik meyakinkan .
Mama nya Reni mengangguk kan kepala nya . Lalu kakek Malik melangkah kan kaki nya pergi .
__ADS_1
\_\_\_oOo\_\_\_