
"Kamu mau ikut kemping ? Enggak usah aja deh ya , kan masih enggak enak badan " ucap Arga yang melihat Marsha tengah mempersiapkan pakaian nya, memilih satu persatu pakaian dan memasukkan nya ke dalam tas , yang akan di bawa nya ke kemping .
Marsha menggeleng kan kepala nya . "Enggak apa-apa , aku udah lebih baik kok . Lagian aku udah nungguin lama banget . "
Arga menghembuskan nafas nya kasar . "Iya udah , tapi jangan jauh-jauh dari aku ya Sha , aku takut nanti kamu ke sesat di hutan atau kalau mau kemana kamu bilang sama aku"
"Ga , kan di sana rame banget temen-temen enggak mungkin kan kita berduaan terus , nanti mereka curiga lagi "
"Enggak apa-apa curiga , mau ketahuan juga enggak apa-apa . Aku enggak perduli Sha , yang penting kita sama-sama bahagia"
"Arga !!"
Arga terkekeh ketika melihat rona merah di pipi Marsha , tidak tahan jika tidak mencubit nya , Arga mendekat ke arah Marsha , mengikis jarak di antara kedua nya , lalu mendekap erat tubuh mungil tersebut .
Marsha menegang dengan apa yang di lakukan oleh Arga . Rasa nya jantung nya mau copot , ketika Arga melakukan hal yang di luar dugaan seperti itu .
"Ga " cicit Marsha ketika Arga mengendus leher nya , menikmati aroma vanilla yang menyeruak di indera penciumannya . Rasa nya sungguh candu bagi Arga , tadi malam saja Arga terlelap tidur nya karena mendekap aroma tersebut .
"Sebentar aja Sha , kamu wangi banget "
"Geli Ga , "Marsha semakin tidak nyaman dengan perlakuan Arga , eh lebih tepat nya Marsha gugup setengah mati , karena Arga , mengecupi leher nya.
Arga tidak perduli , Arga semakin merengkuh tubuh mungil sang istri , membawa nya ke pinggir ranjang , lalu mendudukkan nya di atas pangkuan nya .
"Kenapa kamu cantik banget sih?"
"Ga , gombal "
"Stop panggil Arga , enggak cocok sayang . "
"Jadi aku harus panggil apa dong , lucu banget tau enggak , dari dulu aku panggil nama kamu "
"Enggak ada yang lucu baby , sekarang status kita sudah beda "
"Jadi aku manggil apa ?"
Arga tampak berpikir , "Emmm sayang , atau baby , atau --"
__ADS_1
"Arga " Marsha menunduk malu ketika mendengar perkataan dari Arga ,
"Stop sayang , atau kamu mau aku hukum !"
"Hu--hukum?" Marsha terpekik ketika tangan Arga memutar wajah nya menghadap ke wajah Arga , jarak wajah kedua nya sangat dekat , hingga aroma nafas mint Arga menyapu wajah Marsha . Dan sedetik kemudian , sebuah benda kenyal menempel di bibir Marsha , Marsha tersentak , Marsha membulat kan kedua bola mata nya tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Arga . Tapi diri nya tidak memberontak juga , karena diri nya tau Arga suami nya . Arga berhak atas diri nya .
Arga yang mula nya hanya ingin menempel kan nya saja lalu perlahan ******* nya , meresapi manis nya bibir mungil sang istri , yang mungkin akan membuat nya candu kedepannya .
Namun saat tengah menikmati , suara seseorang di ambang pintu mengalihkan atensi kedua nya hingga mau tidak mau menyudahi aktivasi mereka .
"Ya ampun !!! Astoge , mata gue ternodai Bambang , masih pagiiiiii!!! Gaya mau kemas buat kemping Enggak tau nya mau nyicil buat ponakan !! Tante Tante Nia , anak nya mau nyicil buat cucu " teriak Revan heboh .
Arga mendengus kesal ,
Sialan ! Mesti nya diri nya mengunci pintu kamar Marsha tadi ,
"Kasihanilah jomblo Bambang Arga !!" Teriak Revan lagi ,membuat Arga mengumpat sarkas , kalau tidak Marsha memeluk nya mungkin saja diri nya sudah menghajar Revan .
Sial
Temen laknat ..
Yang sabar ya Arga ....
Sedangkan Marsha sudah menyembunyikan wajah nya di dada bidang milik Arga . Malu nya sampai ke ubun-ubun guys ....
Pembaca Enggak boleh ngintip ya . Kasihan Marsha nya malu ...
____oOo____
"Lima puluh juta " Kavandra melempar amplop yang berisi uang tunai lima puluh juta di hadapan Vera . Tepat di atas meja .
"Gue mau , Lo ngelakuin apa yang udah gue susun . Gue enggak mau ada alasan Lo gagal dalam melakukan nya . Kalau enggak Lo harus balikin uang nya tiga kali lipat " ucap Kavandra dengan seringai nya .
Glek
Vera sampai menelan saliva nya susah payah mendengar perkataan dari Kavandra . Jika tidak mengingat diri nya membutuhkan uang banyak untuk biaya operasi sang ibu , mungkin Vera tidak akan mau mendatangi pria yang ada di depan nya ini . Pria ini ternyata lebih licik dari Nathan .
__ADS_1
Tangan Vera meraih amplop tersebut , lalu membuka nya , mencoba menghitung uang yang jumlahnya pas sesuai dengan yang di bilang oleh Kavandra tadi dan yang di minta nya .
"Gue bakalan kasih Lo bonus kalau Lo berhasil " ucap Kavandra lagi , ekspresi nya masih datar dan dingin . Tidak ada kesan ramah nya sama sekali .
"Ka--kalau gitu , oke , gue jamin rencana kita pasti berhasil " sahut Vera .
Kavandra tersenyum miring yang membuat kesan seram nya semakin bertambah , membuat Vera merinding di buat nya . Tapi wajah nya yang tampan membuat Vera semakin terpesona oleh sosok pria yang ada di depan nya ini . Tampan nya sungguh berkali-kali lipat .
'bodoh banget sih Marsha , enggak mau sama cowok ganteng gini .' batin Vera .
"Kavandra , Lo enggak mau main-main sama gue dulu" ucap Vera dengan gaya centil nya , jangan lupakan gerakan yang membuat seseorang menarik perhatian ke arah nya .
Kavandra menaikkan sebelah alis nya , Kavandra tidak bodoh dengan menanggapi Vera , diri nya sudah tau bagaimana watak wanita yang ada di depan nya .
Tersenyum miring , Kavandra beranjak berdiri , lalu memasukkan kedua tangan nya di saku celana nya , pandangan nya masih tertuju ke arah Vera , yang tengah tersenyum ke arah nya . Kavandra mendekat ke arah Vera , yang membuat Vera semakin mengulas senyuman lebar nya .
Tepat ketika Kavandra sudah berada di depan Vera, Vera semakin tersenyum .
"Lo pikir gue mau sama wanita modelan kayak Lo gitu hm ? Gue bukan Arga yang bodoh , milih batu kerikil kayak Lo ! Lo itu sampah ! Dan enggak pantes walaupun cuman jadi mainan gue . Lo bukan level gue " Ucap Kavandra lalu membalikkan tubuh nya dan melangkah kan kaki nya pergi dari hadapan Vera yang sudah memasang wajah kesal nya .
"Dasar kulkas! "
___oOo___
"Aku enggak tau harus buat apa lagi Darta . Aku sekarang cuman bisa kasih bodyguard buat jagain Marsha sama Arga , takut-takut sesuatu terjadi kepada mereka " Jordan menghela nafas nya kasar , menjatuhkan tubuh nya di sandaran sofa , sambil memijit pelipisnya yang berdenyut .
Darta mengangguk kan kepala nya . "Aku juga udah siapin beberapa bodyguard buat jagain anak kita . Aku heran banget Jor sama om Malik . Kok bisa ya malah dukung cucu nya . Malah nekad kasih bendera perang ke kita " ucap Darta yang tidak kalah pusing nya memikirkan permasalahan yang tengah terjadi di keluarga nya , apa lagi setelah kedua nya menemui kakek Malik , dan membahas permasalahan Kavandra . Tapi kakek Malik malah marah , dan membiarkan apa pun yang akan di lakukan oleh sang cucu , bahkan dengan sigap melindungi Kavandra , dan menancap kan bendera peperangan kepada Darta dan Jordan .
"Tapi apa Arga mau ya ? Kalau dia tau di kasih bodyguard pasti dia ngomel terus , Enggak tahan aku denger nya " ucap Darta lagi yang paham bagaimana betul sifat dari sang putra semata wayang nya itu yang sok jago .
"Jadi mau bagaimana lagi . Dia harus ngerti Dar , aku enggak mau Kavandra berniat nekat. Gila tu anak emang , sampe segitu nya " Jordan mendesah , ketika mengingat bagaimana kegilaan Kavandra agar bisa mendapatkan putri nya .
"Aku juga kaget sih , tapi ya gimana lagi . Kita pantau saja deh , kerjaan juga numpuk , "
Jordan mengangguk kan kepala nya , lalu meraih ponsel milik nya , mengotak-atik nya sebentar , dan meletakkan nya lagi di atas meja .
Darta bangkit dari duduk nya , lalu menepuk pundak Jordan pelan . "Semua pasti bakalan baik-baik aja . Aku cabut dulu ya , mau meeting" ucap Darta yang di balas anggukan oleh Jordan .
__ADS_1