
Tring tring
Di tengah perjalanan menuju ke tempat penyekapan Marsha , tiba - tiba ponsel milik Tristan berbunyi .
Tangan Tristan terulur ,meraih ponsel milik nya yang berada di atas dasboard mobil , lalu mengangkat panggilan telepon tersebut . Tanpa melihat siapa yang menelpon nya terlebih dahulu . Karena saat ini Tristan tengah fokus pada jalanan ,
"Halo dengan bapak Tristan ?" Sapa seseorang dari seberang telepon .
Tristan mengeryit kan sebelah alis nya "Iya saya " sahut Tristan .
Terdengar helaan nafas cukup dalam dari seberang telepon . Membuat Tristan semakin mengerutkan kening nya dalam "Saya dokter Veni . Saya ingin memberitahukan jika pasien bernama Nesya saat ini sedang histeris . Saya mohon bapak segera datang "
Deg
Jantung Tristan langsung berdetak kencang ,
Tristan langsung mengerem mobil nya .
Ciiiiitt
Tristan mencoba menetralkan perasaan nya yang sudah campur aduk .
"Dokter Veni ? Dokter yang menangani Nesya ?" Tanya Tristan , berulang kali melirik ke arah ponsel milik nya , mencoba memastikan .
"Iya , saya dokter Veni , dokter yang menangani Nesya , maaf saya mengganggu anda , tapi saya mohon segera lah kemari , pasien dalam keadaan tidak baik-baik saja "
"Sa--saya akan ke sana dokter" ucap Tristan .
Kavandra yang ada di sebelah nya mengerutkan kening nya . Mendengar sedikit perbincangan Tristan dengan seseorang yang Tristan sebut dokter Veni .
Tristan menoleh ke samping , tepat nya ke arah Kavandra . Menarik nafas nya kasar , sebenarnya Tristan tidak tega membiarkan Kavandra seorang diri dalam mengahadapi sang kakak yang sangat aneh itu .
"Van , gue harus ke rumah sakit . Adik gue tiba-tiba histeris " ucap Tristan .
Kavandra menghela nafas nya dalam "oke , sekarang Lo tunjukin dimana tempat nya aja , biar gue pergi sendiri.
Tristan mengangguk ragu " Ini enggak jauh lagi Van , Lo jalan aja lurus ,nanti ada gedung tua di sebelah kiri nah kak Nathan bawa Marsha ke situ " ucap Tristan sambil menunjuk ke arah depan dengan jari telunjuk nya .
"Van , gue enggak tega biarin Lo --"
"Gue enggak apa-apa ! Adik Lo lebih butuh Lo ketimbang gue ! Gue bisa jaga diri sendiri . Dan gue enggak bisa tunda-tunda lagi . Marsha saat ini dalam bahaya . Lo kan tau gimana gila nya Nathan " ucap Kavandra apa ada nya , biar saja adik dari Nathan itu marah toh memang kenyataan nya seperti itu . Nathan itu pria yang gila .
Tristan terdiam , tidak menanggapi nya . Mau marah ? Tapi kenyataannya memang seperti itu . Tristan tidak menampik apa yang di bilang oleh Kavandra .
__ADS_1
Kavandra membuka pintu mobil dan berniat keluar . Namun sebelum itu suara Tristan membuat nya urung .
"Van , gue tau , gue salah . Karena keluarga gue , Lo udah -- tapi gue minta maaf yang sebesar-besarnya sama Lo Van ," ucap Tristan .
Kavandra menoleh , menyunggingkan senyuman nya , dan itu membuat sesak di dada Tristan . "Gue udah maafin . Dan--" Kavandra mengeluarkan secarik kertas lalu menyodorkan nya kepada Tristan .
"Kalau terjadi sesuatu sama gue . Gue mau Lo kasih ini ke Marsha " ucap Kavandra .
Deg
"Van, Lo ---"
"Kita enggak ada yang tau Tris . Tapi gue mau , Lo sampein itu ke Marsha . " Kavandra lalu terkekeh . "Mungkin itu suatu bentuk hukuman buat Lo . Karena Lo udah nyembunyiin hal sebesar ini" lanjut nya lalu Kavandra benar-benar berlalu dari sana .
Tristan bergeming ,menatap punggung Kavandra dengan nanar , masih memikirkan kalimat ambigu nya .
'hukuman ? , Hukuman apa ?'
___oOo__
Hiks hiks hiks
Ruangan itu hanya ada isakan tangis dari seluruh penghuni nya .
Semua nya menundukkan kepala nya . Mereka menyeka air mata yang sial nya terus-menerus menetes membasahi pipi .
"Gue benci sama Lo Vandra ! Dan Marsha lebih mentingin Lo dari pada gue ." Pekik Arga , menatap nyalang ke arah Kavandra .
Kavandra menghembuskan nafas nya kasar . "Ga ! Gue kan udah bilang . Kalau apa yang Lo lihat itu salah. Gue sama Marsha kemarin beli obat Omi . Omi sakit Ga . " Ucap Kavandra mencoba membela diri .
Arga berdecih sinis . "Gue enggak percaya !"
"Gue harus gimana lagi jelasin ke Lo . Lo cemburuan banget sih " gerutu Kavandra.
"Gue cinta sama dia "
"Sama ! Gue juga cinta !"
"Sialan ! Gue duluan yang kenal sama dia"
"Gue juga yang selalu ada buat dia !"
"Woy santai woi !!! Gue juga cinta sama Marsha " pekik Revan yang baru saja datang dengan Tristan dan juga Reni .
__ADS_1
Arga dan Kavandra membulat kan kedua bola mata nya menatap tajam ke arah Revan .
Revan meringis , lalu sembunyi ke belakang Reni .
"Apa sih Revan !" Reni memukul lengan Revan dengan kesal .
"Sepupu Lo serem banget!"
"Lo sih asal ceplos aja ngomong nya " omel Reni membuat Revan nyengir .
"Vandra , Arga , udah dong , kalian ini kenapa sih ! Kita masih SMP loh tapi kalian udah bahas cinta-cintaan , mendingan kita sahabatan kayak biasa nya oke " ucap Reni .
Arga berdecih , lalu menghampiri Revan dan menarik tangan pria itu . "Gue ogah kawan sama kalian lagi ! Gue enggak mau kawan sama parasit kayak kalian" pekik Arga sinis .
Semua nya membulat kan kedua bola mata mereka , tidak habis pikir jika Arga akan mengatakan kata-kata pedas seperti itu .
"Ga Lo "
" Gue enggak perduli lagi !! Gue udah muak selama ini pura-pura baik ! Dan mulai sekarang , anggap aja kita enggak pernah kenal " seru Arga lalu berlalu dari sana sambil menarik tangan Revan .
Dan semenjak itu lah hubungan Arga dan Kavandra merenggang , kedua nya tampak bermusuhan , lebih tepat nya Arga yang selalu mencari gara-gara terlebih dahulu .
____oOo___
"Enggak mungkin , dokter pasti bohong kan , i--ini enggak mungkin kan !!! Vandra pasti bisa --- !" Teriak Marsha histeris , Marsha sampai meremas kemeja seorang dokter . Membuat sang dokter menghela nafas nya berulang kali .
Ini hal yang sangat sulit bagi seorang dokter mengatakan nya , tapi sudah kewajiban diri nya untuk mengatakan nya . Diri nya tidak mungkin memberikan harapan lebih kepada keluarga pasien .
"Sha , ud--"
Arga yang berniat menghampiri Marsha dan ingin menenangkan nya sontak diam membeku , Arga terlalu melihat tatapan dari Marsha yang menatap nya dengan tajam . Baru kali ini diri nya melihat tatapan itu . Marsha yang lemah lembut tidak pernah marah , tapi ini -- Arga baru melihat nya. Ada rasa sesak di dalam dada nya , ketika Marsha seperti itu karena seseorang ...
"Dokter salah !!! Saya enggak mau tau .. SAYA MAU KAVANDRA BANGUN!! " Teriak Marsha . Tangan nya terulur memukul dada bidang sang dokter . Untung dokter tersebut pria , jadi pukulan dari Marsha tidak seberapa bagi nya . Dan dokter tersebut tetap tenang membiarkan Marsha memukuli nya . Ini juga bentuk hukuman untuk nya karena telah gagal .
"Sha , dokter nya ---"
Sang dokter menatap Mama nya Marsha dengan menggeleng kan kepala nya , seolah meminta Mama Nia untuk membiarkan saja. Mama Nia menghembuskan nafas nya panjang .
"Maaf , saya tidak bisa . Ini sudah kehendak yang maha kuasa " ucap sang dokter penuh dengan penyesalan . Kepala nya menunduk dalam, ada rasa sesak di dalam dada nya .
Marsha menggeleng kan kepala nya .
Melepas cengkraman tangan nya dari kemeja sang dokter , lalu memundurkan langkah kaki nya secara perlahan .
__ADS_1
Kaki nya lemas ,bahkan diri nya tidak sanggup berdiri lagi . Marsha sudah tidak tau harus bagaimana lagi . Tiba-tiba pandangan nya buram , Marsha mengerut kan kening nya , lalu mencoba mengerjap-ngerjap kan kedua bola mata nya , namun semakin lama pandangan nya sudah gelap sempurna , lalu tidak lama tubuh Marsha limbung dan jatuh .
"Marsha !!!" Teriak semua orang .