
...8 tahun berlalu ........
Semenjak kejadian tersebut , hidup Marsha dan Arga baik-baik saja , mereka menjalani kehidupan mereka dengan penuh keharmonisan , semua nya sudah berlalu , dan perlahan orang-orang tersayang kedua nya ada uang pergi meninggalkan mereka , termasuk Oni , Kakek Zayn , Omi , dan Kakek Malik , kakek Malik sebulan setelah koma menghembuskan nafas terakhirnya , dan Kavandra ? Mereka semua tidak ada yang mengetahui keberadaan pria itu . Tidak ada yang tau kemana pergi Kavandra dan bagaiman kabar nya . Kavandra seolah lenyap di telan bumi , tidak tau dimana keberadaan nya .
Hidup Marsha dan Arga bahagia , apa lagi mereka sudah di karuniai sepasang anak , ya beberapa bulan setelah menikah Marsha di nyatakan hamil , dan anak pertama Marsha berjenis kelamin laki-laki , dan di beri nama Denzo Putra . Tidak berselang lama , saat Denzo masih berusia 4 bulanan , Marsha di nyatakan hamil lagi , dan itu awal nya membuat semua orang terkejut , bukan tanpa sebab, karena Denzo masih kecil . Tapi Arga justru bahagia , karena berhasil membuat Marsha nya hamil lagi . Dan cita-cita Arga , ingin memiliki sepasang anak .
Dan ternyata harapan Arga pun terwujud , setelah sembilan bulan , Marsha melahirkan seorang putri cantik , yang di beri nama Rinara putri .
Hingga usia mereka sudah menginjak kanak-kanak , Arga dan Marsha baru menyadari jika Denzo dan Rinara sifat nya sangat berbeda-beda . Denzo yang anak nya lemah lembut serta sangat pandai dan tidak membuat ulah , sedangkan Rinara sebalik nya , gadis kecil nya itu sangat lah nakal , bar-bar dan suka sekali membuat ulah di sekolah .
Denzo duduk di bangku kelas 2 dasar , dan berusia 7 tahun .
Sedangkan Rinara duduk di bangku kelas 1 dasar dan berusia 6 tahun .
Dan seperti saat sekarang ini , Arga harus tergesa-gesa ke sekolah anak-anak nya , pasal nya Rinara telah membuat ulah , Rinara baru saja membuat teman sekelas nya jatuh dan teman nya harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit , karena lutut nya terus-menerus mengeluarkan banyak darah . Ya tuhan ! Arga rasa nya ingin sekali membentur kan kepala nya di tembok , ini sudah berulang kali putri kecil nya itu membuat masalah , dan diri nya di panggil ke sekolah . Untung saja diri nya adalah salah satu donatur terbesar di sekolah itu , kalau tidak bisa-bisa Rinara akan di keluarkan dari sekolah .
"Maaf , pak , saya akan menasehati putri saya , sekali lagi saya minta maaf, saya akan menanggung semua biaya perobatan putri anda " ucap Arga sembari menjabat tangan bapak kepala sekolah dan wali murid si siswa yang di celakai oleh sang putri . Untung saja wali murid nya tidak marah-marah dan mengikhlaskan nya .
"Tidak masalah kok pak , nama nya juga anak-anak , terimakasih banyak bapak sudah mau tanggung jawab " ucap sang wali murid sembari tersenyum .
Arga bernafas lega , lalu menatap ke arah sang putri yang sedari tadi acuh tak acuh mendengar obrolan nya . Arga lalu pamit kepada semua orang dan menggandeng tangan mungil putri nya itu , membawa nya pulang ke rumah .
"Nar --"
"Apa ? Papi mau ceramahi Nara iya kan ? Nara udah kebal Pi . Dan Nara enggak akan berbuat seperti itu kalau enggak di ganggu duluan " ucap Nara menyela kalimat ceramah yang akan di lontarkan oleh Arga .
Arga meraup wajah nya kasar .
'astagfirulllah
Arga harus banyak-banyak mengucap istighfar , tingkah putri nya ini sungguh nauzubillah . Ya ampun . Mau di ceramahi malah diri nya yang di ceramahi balik , kan sungguh luar biasa putri nya itu.
Tidak ingin membuat emosi nya naik di ubun-ubun lebih baik diri nya membawa sang putri pulang , oh ayolah , diri nya juga tidak bisa marah dengan putri kesayangan nya itu . Mau sebandel apa pun , diri nya tidak akan pernah bisa marah , apa lagi Marsha , yang lemah lembut itu . Pasti Marsha hanya memberi nya pengertian dengan nada lembut , ya ampun kadang Arga minder dengan istri nya itu , istri nya sekarang menjadi pribadi yang sangat baik , memakai hijab , dan Shalat nya tidak pernah tinggal , sedangkan diri nya masih bolong-bolong , tapi tatap mengusahakan shalat kalau tidak sibuk di kantor .
Tengah asik mengendarai mobil , Arga tidak sadar , entah pikiran nya melayang kemana , tapi tiba-tiba mobil milik nya oleng dan menabrak pohon . Kecelakaan tidak bisa di hindari nya lagi . Arga mengerang , merasakan sakit di kepala nya . Kesadaran nya menipis dan pandangan nya memburang ,
"Ayah , lihat ada yang kecelakaan , " seru seorang anak kecil , jari nya menunjuk ke arah mobil yang tidak jauh dari mobil yang di kendarai sang Ayah mengeluarkan asap . Jalanan yang di lalui juga sepi, tidak ada pengendara yang berlalu lalang di jalanan tersebut , karena memang jalanan itu jarang sekali di lalui oleh pengendara .
Sang ayah langsung menghentikan mobil milik nya dan buru-buru keluar dari mobil dan melihat korban . Karena mobil tersebut terus mengeluarkan asap .
Arkana berhasil membuka pintu mobil dan mengeluarkan sang korban , membopong nya menjauh dari mobil yang hampir meledak tersebut .
__ADS_1
"Anak-- ku , Na--- Nara" lirih Arga masih dengan kesadaran yang menipis , tapi diri nya masih berusaha tetap sadar , dan menunjuk-nunjuk ke arah mobil milik nya .
Arkana membulat kan kedua bola mata nya , Arkana tidak tau jika di dalam mobil tersebut masih ada korban .
"Saya akan menyelamatkan nya , anda di sini dulu " ucap Arkana .
Arkana bangkit dan ingin menghampiri lagi mobil tersebut , dan tidak di sangka , mobil tersebut meledak
Arga menangis meraung , sedangkan Arkana diam mematung ,
Dan tanpa mereka sadari , putra Arkana itu membopong tubuh gadis mungil dan membawa nya mendekat ke arah Arkana dan Arga .
Dan seketika membuat Arkana membulat kan kedua bola mata nya , sedangkan Arga , walaupun pandangan nya sudah memburang tapi diri nya tetap mencoba bangkit dan meraih tubuh mungil sang putri .
"Kita harus segera ke rumah sakit , anda dan putri anda harus melakukan perawatan " ucap Arkana dan langsung melangkah kan kaki nya mengambil mobil milik nya . Namun sebelum itu diri nya melirik sang putra yang masih menatap gadis kecil itu .
"Ka , nanti kita bicara "
Raka hanya mengangguk singkat , pandangan nya masih tertuju kepada gadis mungil kecil itu .
"Cantik" gumam Raka .
Melihat asap mobil yang semakin mengepul , Arkana langsung berlari menuju mobil tersebut, berharap diri nya bisa menyelamatkan korban yang ada di dalam nya . Namun siapa sangka , Naraka , atau yang sering di panggil Raka , putra semata wayangnya itu malah membututi diri nya . Raka berlari juga di belakang Arkana , tapi ketika Arkana ke sebelah kanan , Raka justru ke sebelah kiri .
Raka yang penasaran langsung membuka pintu mobil yang tidak terkunci itu , karena memang pintu mobil tersebut sudah rusak dan terbuka sedikit . Mata elang Raka langsung tertuju kepada seorang gadis kecil yang tengah merintih , dan memejamkan kedua bola mata nya , Raka memperhatikan seragam gadis kecil itu yang sama dengan seragam yang di kenakan nya , pasti mereka satu sekolah . Dan Raka tertegun di buat nya ketika melihat wajah cantik gadis kecil itu .
Selama umur 7 tahun dan berada di luar negeri , Raka tidak bohong, tidak ada seorang pun wanita yang cantik selain Bunda nya, ya maklum saja , Raka itu anak nya datar dan dingin , tanpa ekspresi , jarang sekali berinteraksi dengan seseorang . Dan kini Raka mengakui satu fakta jika diri nya mengakui gadis kecil itu cantik . Bahkan sangat cantik .
"To--tolonh , Mi,-- Pi"
Suara rintihan gadis kecil itu membuat lamunan Raka buyar , diri nya langsung menarik tubuh mungil itu , dan membopong nya , menjauh dari mobil tersebut ......
Raka tidak berhenti memandangi wajah cantik gadis mungil tersebut , dan sampai tangan besar meraih tubuh gadis itu , Raka tetap memandangi nya .
"Ayah enggak suka Raka kayak gitu . Ayah memang mengajar kan Raka berbuat baik kepada siapa pun , tapi tadi sangat beresiko Raka . Kalau bunda mu tau , bunda mu bisa kena serangan jantung " omel Arkana ketika mereka sudah sampai di rumah sakit , tepat nya Arga dan Putri nya tengah melakukan perawatan di UGD .
"Hm" Raka hanya berdekhem menanggapi ceramah sang ayah , tidak mengalihkan atensi nya ke arah ruangan UGD , yang ada gadis kecil di dalam nya .
Arkana berdecak kesal , putra nya itu terlewat dingin dan datar nya . Hueh diri nya tidak sadar saja , jika sifat nya itu sebelas dua belas dengan putra semata wayangnya itu .
"Kamu kenapa ?" Tanya Arkana yang melihat putra nya tidak bergeming dan masih menatap ruang UGD .
__ADS_1
Raka menoleh , masih tanpa ekspresi nya . "Raka mau gadis itu "
Ha ?
Arkana membulat kan kedua bola mata nya , Arkana tidak salah dengar bukan , Raka nya meminta gadis kecil tadi . Oh mungkin Raka meminta adik lagi .
"Kamu mau adik ?" Tanya Arkana .
Raka menggeleng kan kepala nya . "Enggak , aku enggak mau adik . Aku mau jadi anak tunggal" sahut Raka datar .
Arkana mendengus , lalu kemudian mengerutkan kening nya . "Jadi maksud kamu apa ?"
"Aku mau dia jadi istri aku . Kayak ayah sama bunda "
Byurr
Arkana sampai hampir menyemburkan air liur nya mendengar perkataan sang anak . Untung saja diri nya tidak minum , kalau tidak bisa tersedak .
Anak nya mau nikah ?
Istri ?
Dari mana anak nya tau istri-istri ?
"Ka--kamu?"
"Aku serius Yah , aku enggak lagi bercanda . Aku mau dia . Aku mau dia ." Ucap Raka penuh dengan penegasan .
"Raka --"
"Bapak keluarga pasien ?"
Kalimat Arkana langsung terpotong ketika seorang dokter menyela nya . Arkana langsung bangkit dan menegakkan tubuh nya dan menatap datar ke arah sang dokter .
"Tuan Arkana ?"
"Iya "
Dokter menundukkan kepala nya , diri nya tahu betul jika Arkana Wijaya adalah pemilik rumah sakit tempat nya bekerja , walaupun diri nya jarang berjumpa dengan pria itu , tapi wajah nya yang seliweran di tv sudah membuat semua orang tau .
"Pasien baik-baik saja , hanya luka robek ringan saja . Tidak ada yang serius . Dan pasien sudah bisa di pindahkan di ruang rawat tuan ." Ucap sang dokter menjelaskan bagaimana kondisi Arga dan Anak nya .
__ADS_1
Arkana mengangguk singkat . "Lakukan , lakukan yang terbaik " ucap nya datar .